732 65 21
                                        

"Soobin!"

Soobin baru saja keluar dari ruangan dosen, menyerahkan setumpuk draft penelitian untuk ditelaah dan direvisi oleh dosen pembimbingnya setelah menunggu nyaris tujuh jam lamanya.

Waktu tujuh jam hanya lebur di kampus untuk menunggu dosen tanpa kepastian. Dan semuanya berakhir hanya dengan menyerahkan draft tanpa bimbingan. Ia tak pernah berharap banyak. Baginya, sekedar menyerahkan draft saja sudah lebih dari cukup; jika dosennya memiliki waktu lebih untuk melaksanakan bimbingan, tentu menjadi nilai plus tersendiri. Soobin akan sangat bersyukur akan hal itu.

Akan tetapi, sialnya, Soobin keluar dari ruangan tersebut dengan kedua pipi yang memanas. Wajahnya ia tekuk dengan degup jantung yang berdentum lebih cepat.

Semenjak ia menginjak semester ke delapan, Soobin tidak tahu, mengapa ruangan yang digunakannya untuk bimbingan menjadi satu hal yang membuatnya paranoid. Acap kali otaknya dirasuki beragam spekulasi negatif; bermula dari sikap sang guru besar itu sendiri, ataupun pertanyaan-pertanyaan yang pada ujungnya tak bisa ia jawab. Kendatipun pertanyaan yang diajukan sudah seharusnya ia tahu jawabannya karena merupakan bagian dari penelitian.

Belum ada satu langkah ia masuk ke ruangan dosen pembimbingnya, ia langsung dicecar, "aduh apa, sih, ini?" satu kalimat tersebut laksana tombak yang menghujam jantungnya. Soobin tahu persis kalimat tersebut ditujukan ke arahnya, karena ... tidak ada siapapun lagi di sana selain dirinya sendiri, dan (sayangnya) berkas senja mulai terlihat membayang di ufuk barat. Namun, dirinya masih setia menunggu dosen demi menyerahkan seonggok kertas yang akan menentukan masa depannya.

"Bu, saya mau-" ucapan Soobin disargah cepat. "Kamu itu bukannya udah bimbingan kemarin? Kenapa ke saya lagi?" intonasi yang digunakannya tidak baik-baik. Soobin menelan ludahnya gugup, antara ingin mengutarakan soal janji dosennya kemarin, namun di sisi lain ia juga takut.

"Maaf, Bu," mohonnya hati-hati. "Jadi, begini, Bu. Kemarin Ibu bilang ke saya; saya hanya butuh satu kali lagi revisi sebelum-" lawan bicaranya menghela napas frustrasi, kembali memotong untaian kalimat dari bibir Soobin.

"Kamu nggak lihat sekarang jam berapa? Besok saja lagi. Saya sibuk."

Dasar pemberi harapan palsu. Semua dosen sama saja.

Pada akhirnya, Soobin pasrah menerima segala yang menimpanya hari ini. Disisi lain, otaknya bersirkulasi untuk memikirkan agar draft yang baru saja di-print tidak tergeletak begitu saja dalam kamarnya. Maka, sebisa mungkin Soobin mengajak dosen yang seringkali disebutnya nenek lampir itu bernegosiasi. Meski sulit pada awalnya, akhirnya sang dosen menerima tawaran tersebut.

Soobin sebenarnya, sih, tidak seratus persen yakin jika draft-nya akan disentuh. Tetapi, setidaknya ia sudah berusaha.

"O-oh, hai, Lia,"

Soobin selalu percaya jika ia mengalami hal-hal sulit, akan ada sesuatu yang manis menunggu jauh di luar sana.

Seperti saat ini, misalnya.

"Bu Hana masih di dalem?" suaranya yang lembut menerpa indra pendengaran Soobin. Lelaki itu mengangguk tipis menanggapi, "Ada, sih, ..." pemuda itu sengaja menggantungkan kalimatnya karena bingung hendak menjelaskan apa.

"Tapi?"

"Tadi, sih, Ibu bilangnya sibuk," jawab Soobin sekenanya. Terlihat dari gesturnya, dan juga barang yang dibawanya, gadis di depannya kurang lebih bernasib sama dengan dirinya; sudah berlama-lama menunggu dosen dengan setumpuk dokumen.

Enchanted, Soobin LiaStories to obsess over. Discover now