Prolog

366 15 8
                                        

"Ayahhh.. ayah kenapa harus ninggalin alin secepat ini sih? Hiks..hikss alin ga bisa hidup tanpa ayah.. ayah bangun dongg!! Alin mau ayahhh.. hiks..hikss" Alin meraung-raung di depan jenazah yang terkujur kaku di depannya itu.

Baru 3 hari Alin menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya, tapi ia sudah mendapatkan musibah seperti ini. Ayahnya mengalami kecelakaan usai mengantar Alin mendaftar di sekolah barunya. Baru beberapa menit ia menurunkan Alin di depan gerbang rumahnya, ia sudah mengalami tabrakan maut itu di depan kompleks perumahannya. Naasnya, Beliau yang notabenenya ayah dari Alin harus tewas di tempat kejadian perkara.

"Sudah nak.. ayahmu tidak akan tenang jika kamu seperti ini. Ayahmu akan merasa berat melangkah nak. Ikhlaskan ayahmu, dan cobalah untuk mendoakannya." Ucap salah satu tetangga yang sedang melayat itu.

Alin yang mendengarnyapun semakin meraung dan tak bisa menahan tangisnya "Ayaaaahhhhh, jangan tinggalin Aliiiiinn. Bundaaaaa"

Bunda? Bunda Alin ada di kamar. Ia shock dengan kejadian tiba-tiba ini. Sudah beberapa kali ia pingsan dan mengharuskannya di bopong ke kamar.

"Assalamualaikum, sebaiknya jenazahnya kita mandikan sekarang, tidak baik membiarkan jenazah berlama-lama. Sebaiknya kita urus segera dan memakamkannya." Ujar seorang ustad yang menangani jenazah ayah Alin.

♡♡♡

Arya Adyatama
Ayah dari Alin Cahya Adyatama seorang CEO di perusahaan Adyatama Group yang bergerak di bidang properti dan interior. Perusahaannya telah tersebar di beberapa wilayah di Indonesia dan bahkan memiliki cabang perusahaan di Swiss dan Amerika Serikat.

Tapi, semua itu tidak akan ada apa-apanya sekarang. CEO nya telah terbujur kaku di bawah tanah merah itu. Meninggalkan seribu kisah dan kenyataan yang tidak bisa diterima.

"Ayahhh.. Alin pulang hikss.." ucap Alin dan beranjak pergi dari makam sang Ayah tercinta.

Alin melangkahkan kakinya gontai. Ia memilih berjalan kaki daripada ikut bersama keluarganya menggunakan kendaraan. Yang ia butuhkan saat ini hanya ketenangan. Ya. Alin hanya ingin mencari tempat yang tenang dan memjernihkan pikirannya. Dan pilihannya jatuh pada taman dekat rumahnya.

Dengan langkah gontai, ia sampai di sebuah kursi panjang pinggir taman. Ia duduk dengan tatapan kosong membayangkan kenangan masa kecilnya dengan sang ayah sebelum ia menempuh pendidikan menengah pertamanya di Ausy.

Flashback on

"Ayahh.. 3 hari lagi, alin kan berangkat ke ausy sama nenek. Alin mau, 3 hari ini ayah ambil cuti yahhh.. plisssss" dengan wajah puppy ayesnya, alin memohon-mohon pada ayahnya.

"Lohh? Kenapa sayang? Kenapa ayah harus cuti?" Tanya ayahnya bingung dan berpikir sejenak "ayah tau, Alin mau ngabisin waktu sama ayah yaaa? Ciee mau berduaan sama ayahh hahaha"

"Ihhh.. ayah kok gitu sih sama alin? Malah ngeledek alin lagii.. ayah nyebelinn dehh" alin mengerucutkan bibirnya sok ngambek.

"Yee.. ngambek deh princess nya ayah hahah" tawa arya meledak alin semakin mengerucutkan bibirnya dan kini menyilangkan tangannya dan menghentak-hentakkan kakinya. Haha lucu sekali.

"Iya deh iyaaa.. apa sih yang enggak buat princcess ayahh yang cantik ini. Sini dong peluk ayah" lanjutnya lalu merentangkan tangannya dan memeluk lalu menggendong Alin tanpa menguraikan tawa bahagianya. Alin pun tersenyum riang.

Flashback off

Tess.. tess
Air matanyapun kembali menetes mengingat saat-saat bahagia bersama ayahnya. Alin kembali menangis tersedu-sedu, merasa sesak di dadanya.

"Kenapa yah..? Kenapa harus secepat ini? Hikss.." gumamnya dalam tangis yang perlahan berubah menjadi sesenggukan.

Seolah-olah alam mendukung keadaannya saat ini, Awan mulai meneteskan air. Rintik. Hujan. Basah. Sekarang air hujan telah membasahi seluruh pakaian alin. Dengan kasar, ia mengusap air matanya dan berdiri.

Waktunya pulang. Dengan langkah yang dipaksakan, Alin melangkah meninggalkan taman. Alin teringat bundanya. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa ia baik-baik saja. Alin melangkah terburu-buru dengan perasan khawatir dan sedih ia menerobos hujan dan tak sengaja menabrak hingga ia terjatuh.

"Aisshhh.. Aww" ringis Alin ketika badannya terjerembab ke trotoar taman.

"Hati-hati dong lo kalo jalan. Ga liat apa ada orang? Mana payung gue jatoh! Kan gue jadi basah!" Marah seorang lelaki yang ditabrak alin. Payung yang dibawanya tertiup angin sehingga mengharuskannya basah-basahan seperti ini.

"..." tidak ada jawaban dari Alin. Ia memilih berdiri dan berjalan melewati pria yang sepertinya seumuran dengannya.

"Ehh, lo kalo diajak ngomong tuh jawab!" Bentaknya membuat Alin berhenti dan mendengus lalu berbalik kearah pria tadi.

"Bacot lo kek cewek!" Ujar Alin datar lalu melangkahkan kakinya menjauh dan memilih pulang ke rumah daripada meladeni pria itu.

"What?!" Kagetnya. Ia melihat kekacauan di perempuan itu. Tapi sikap nyolot perempuan itu merubah rasa iba nya menjadi rasa kesal dan emosi. Pria itu kesal dan dengan emosi yang menggebu ia menendang apapun yang ada. Memilih kembali ke mobilnya dan pergi meninggalkan taman.

"You is crazy girl!! Arggghhh" ia memukul stir. Merasa di olok-olok oleh seorang perempuan aneh.

ALINWhere stories live. Discover now