Aku berharap, di baris ini, bisa bernapas sedikit lebih lega, jantung berdetak lebih pelan, dan berucap pada dirimu sendiri, "Aku harus cari makna hidup yang sesungguhnya."
Ya, temukanlah makna kehidupan yang sesungguhnya, dan kau akan bahagia, sebetul-betulnya bahagia.
"Apa makna kehidupan yang sesungguhnya?"
Itu mengingatkanku pada kejadian enam bulan yang lalu. Momen ketika aku mulai menyadari. Segala sesuatu akan kembali kepada muaranya, sumbernya, pencetusnya, seperti air hujan yang selalu kembali ke laut, seperti pepohonan yang selalu kembali pada akarnya, seperti...
kita, manusia-manusia ini, yang akan kembali kepada Sang Pencipta.
Dan, untuk kali pertama dalam hidupku, tulisan tentang jodoh tak lagi romantis, seperti yang diharapkan.
Kesendirian membuka mataku bahwa, pada dasarnya,
kita akan selalu sendiri lahir sendiri, berjuang menyelesaikan masalah sendiri, mati sendiri, dibangkitkan sendiri dengan amalan masing-masing.
YOU ARE READING
Zero Two
RandomAku akan slalu mengingat bagaimana rasa dan susana ketika akan membaca ini dimasa depan, kan kukenang. Bagai mana cerita masa lalu ku. Kutuang disini sebagai suatu literatur.
