Untuk mencari arti kebersamaan.
Dia harus belajar dari Air.
Yang setia menetes tanpa henti hingga dapat menghancurkan batu.
-Ara Claudia.-
Atau aku tetap
membiarkannya,
Atau malah berusaha menyadarkannya.?
Hingga dia tau.Dan bagaimana denganku.?
Dan sanggupkah aku.
Tetap setia menjadi Air.
-AraClaudia.-
"Raa..udah jam segini" Rendi yang melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya menujukan jam 6.Lekas mengajaknya Ara berangkat sekolah.
Ara mengangguk setuju, dan keluar dari pintu rumah lalu mengampiri Rendi yg sudah menunggu si depan teras, kemudian pamitan ke ibuda Ara.
"Assalamualaikum"
"wallaikumsallam" jawab halus setelah mencium punggung tangan ibunda Ara,
Sekitar jalanan menuju sekolah, banyak Pohon-pohon besar berbagai jenis membuat kawasan ini jadi sejuk, warga sekitar memanfaatkan fasilitas ini dengan jogging dan senam. Ramah tegur sapa ketika saling melemparkan senyum saat berpapasan, disepanjang taman yang dikelola oleh Pemerintah Kota.
Sungai mengalir begitu tenang, sesekali dapat dilihat ikan kecil seukuran dua jari orang dewasa, melompat di permukaan menimbulkan percikan kecil.
Jembatan berwarna merah tua berbentuk setengah melengkung, digunakan untuk menyebrangi.
sungai yg memisahkan jalan.
Tidak jauh setelah menyebebrangi jembatan itu, sampailah didepan gerbang sekolah mereka.
Saat di perjalaan melewati Jembatan.Rendi melirik Ara yang ada disebelah kirinya.
"Dia bisa gak ya? kalo udah lulus nanti" berkata dalam hati.
Ara menyadari beberapa kali Rendi melilik kearahnya, meremas pipinya dengan tangan kanan.
",ee-enggak kok raa enggak" menggerakan kedua tangan ke arah Ara.
Ara tersenyum tipis, dan menundukan kepala, menyembunyikan wajahnya sudah memerah bagaikan kepiting rebus.Dengan mengusap lengan kirinya mencoba menutupi rasa gugupnya.
Rendi cepat mengalihkan pandangan.Melipat kedua tangannya di kepala memandang lurus langit.
"Kenapa gue khawatir ? Ahh ywdh lah," jawab sendiri dalam hati
Ara mengira Rendi memperhatikan dia agak agak gemukan.
Awal perkenalan Rendi dan Ara.
Saat duduk di kelas XII.Rendi saat itu sedang terburu-buru, dan Ara keluar ruang peralatan sekolah membawa vas bunga dan taplak meja.
"Bruukk."
"aduhhh.." rintih rendi yang terjatuh menahan sakit memegangi bokongnya.Ara memijat kenin dan hidungnya akibat menabrak dada Rendi.
Vas bunga pecah dan berserakan dilantai.Beruntung pecahan tidak mengenai mereka berdua karena jatuh ke sisi lain.
"Hampir saja, untung vas bunganya di jatuhain ke samping,-sial" keluh Rendi belum tau siapa yang menabraknya, masih menadangi serpihan vas bunga.
Rendi melebarkan matanya,
"Cewek ini nabrak gue tapi kayaknya gak kesakitan" melihatnya wajah polos hanya memijat kening dan menyeka roknya yg terkena serpihan.
Mereka masih terduduk di ambang pintu Ruang peralatan.
Sampai Ara tertunduk teguh dengan kedua tangan tertutup juga posisi kaki terlipat kebelakang, lututnya menopang tubuhnya.
Wajahnya seketika pucatnya gerakan bibirnya terdengar seperti renggekan Bayi meminta susu.
Rendi menaikan alisnya dan menelan ludahnya.
"Berlebihan bgt nih orang, sampai begitu paniknya" pikir Rendi merasa agak iba melihat perilaku perempuan dihadapannya.
Ara masih saja tetap pada posisinya, sampai Rendi berdiri menyeka belakang celananya, kemudian mengulurkan tangan ke depan gadis itu untuk membantunya untuk berdiri, Ara pun menggapai tangan Rendi.
"..lo gpp.?"
Ara hanya mengangguk.
"Disapuin aja" Rendi melirik kearah serpihan vas bunga dilantai.
"Tunggu disini"
Ara hanya mengangguk lagi paham.
Rendi menatap datar kearahnya.
"Ini cewek gak bisa ngomong atau malu, di tanyain cuma ngangguk doang.-aneh!" Keluh Rendi dalam hati.
Rendi masuk ke ruang peralatan memandang lurus kearah jendela lalu mengambil sapu, saat memutar balik badannya ingin keluar, mendapati ada dua orang pria dan wanita bersembunyi dibalik pintu.Rendi mengedikan bahu menahan diri agar tidak terkejut.
"Kenapa Ada orang disini, sejak kapan mereka ada disini.!" Rendi berjalan keluar membawa sapu yang di ambilnya tadi di dekat jendela.seolah tidak peduli.
Tadinya dia ingin bertanya mereka berdua, tapi mata Dua orang itu kurang bersahabat menatap Rendi dengan cemas seolah menyuruhnya cepat keluar, pria di sebelahnya gadia itu pun membuka lebar matanya seperti tersulut api.
Rendi tidak suka mencampuri urusan orang lain, dia pun tidak menyukai gosip, bahkan baginya tidak terlibat dalam hubungan sosial cukup membuatnya bahagia. Sebab itu dia hanya memiliki beberapa teman di sekolah.
Rendi Memberikannya sapu itu ke Ara menunggu gadis aneh dihadapannya menyapu bersih pecahan vas bunga di lantai tempat mereka terjatuh tadi.
Sepertinya Rendi merasa enggan berurusan dengan mereka, dan ingin segera pergi.
Rendi merasa penasaran tentang mereka berdua yg masih berada di dalam ruang peralatan itu, mencoba menerka-nerka apa yang dilakukan oleh mereka sampai perempuan ini menjadi ketakutan, atau perempuan ini yang membuat mereka takut.
Rendi menarik dalam nafas memutar matanya.
Berusaha membuang rasa penasarannya.
**
Ruang peralatan itu jarang sekali dilewati oleh para siswa karena berada di belakang halaman, lumayan jauh dari gedung utama sekolah.
Kala itu Rendi sedang menikmati bekal makan siang buatan ibudanya, sambil berisitrihat di bangku belakang halaman dekat ruang peralatan, kemudian ponselnya berdering.
-Ren..lo dicarin pak Amran disuruh keruangannya sekarang"
"Sorry gue buru-buru, dipanggil sama guru." Rendi hendak melewati gadis itu sampai Ara menahanya dan menuliskan di buku kecil berwarna biru tua.
Yang keluarkan di saku depan seragamnya.buku note atau semacamnya tebak Rendi di hatinya.
"Maafin aku tadi gak sengaja nabrak kmu.Terima kasih kamu gak marah.
Nama Aku Ara Claudia."
Namu kamu siapa?.
"Rendi persada"
Rendi mengucap.setelah selesai membacanya.
Pamitan berjalan meninggalkan Ara.
Dia baru menyadari.
Jadi gadis ini Tunawicara (Bisu).
ESTÁS LEYENDO
LOVE SILENTLY
Novela JuvenilApa itu arti kebersamaan sebenarnya? Love Silently (Mencintai Dalam Diam) Akan mencoba menjawabnya. Karya. Danni Orlando Ig : @love_silentlyra
