1. KATA PENGANTAR

166 4 0
                                        

Bermula dari fenomena yang banyak terjadi di masyarakat kita sekarang. Dimana banyak sekali orang yang mendadak berhijrah. Dari yang tadinya tidak terlalu peduli terhadap agama, tiba-tiba jadi merasa yang paling paham dalam agama. Akibatnya, banyak sekali orang yang merasa sudah "islami" dengan sering sharing masalah agama dan langsung mempraktikkannya begitu saja. Setelah ditanya "Kamu tahu ini dari siapa?", "Dari ustadz 'A'" jawabnya. Oh ternyata ini penyebabnya. Dia belajar agamanya melalui media sosial saja tanpa kroscek dan langsung disebarkan.

Fenomena hijrah di kalangan milenial khususnya, saat ini sudah memasuki babak baru. Dimana saat ini sudah memasuki yang namanya era digital. Sehingga informasi apapun yang kita mau, bisa dengan mudah kita terima dan ketahui. Kita terbiasa dengan kemudahan dan belajar secara instan bahkan dalam hal memilih panutan.
Menariknya adalah fenomena hijrah saat ini diartikan sebagai pindahnya perilaku dari yang tadinya buruk, berubah menjadi saleh. Dan ada kesan, semua yang saleh itu mesti mengikuti orang atau budaya Arab. Nah inilah yang coba saya jelaskan dengan pemahaman dan interpretasi saya melalui buku "Islam Agamaku, Indonesia Negeriku".

Apa yang salah dengan pemahaman umat muslim terhadap agama Islam saat ini? Jelas banyak. Salah satunya adalah kita saat ini terlalu mudah di provokasi dengan "bungkusan luar" agama. Padahal agama Islam mengajarkan sesuatu yang lebih menarik yaitu "isi didalamnya". Apa itu? Jawabannya singkat, akhlak.

Lalu apa yang salah dengan orang Indonesia saat ini? Jelas banyak juga. Salah satunya kita ini menjadi bangsa yang minder dengan budayanya sendiri. Kita lebih bangga kalau kita memakai atau mengikuti kebudayaan luar dari pada budaya sendiri. Bahkan kita bangga kalau ada orang luar yang memakai batik. Padahal harusnya orang luar itu yang mestinya bangga karena dalam hidupnya pernah memakai batik.

Dalam memahami agama dan budaya, kita mesti cek kembali. Apakah yang kita lakukan saat ini benar-benar berdasarkan perintah-Nya? Maka dalam buku ini, selain mengutip beberapa ayat dan hadis, juga dipadukan dengan ilmu sejarah, ilmu sosial-budaya, sehingga kita tidak hanya memiliki referensi tunggal. Buku ini mengajarkan kita untuk berpikiran lebih luas dan tidak memandang agama Islam hanya sebagai identitas atau atribut di luarnya saja.

Buku ini saya tulis, berdasarkan kumpulan-kumpulan artikel, jurnal, buku, video maupun kitab dan fatwa para ulama yang saya tulis dengan bahasa saya sendiri agar lebih mudah untuk di pahami. Buku ini ditulis dengan ringkas, tidak bertele-tele dan langsung membahas poin yang ingin di sampaikan saja. Sehingga para pembaca, bisa meluangkan waktu 5-7 menit untuk menikmati tiap babnya.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para guru, dosen, ulama, ustad dan masyayikh saya yang telah banyak memberikan ilmu dan masukannya sehingga menambah keilmuan saya dalam bidang agama.
Terakhir pesan saya: semoga kita semua bisa terus menyampaikan misi dari Nabi Muhammad Saw. yaitu penyempurnaan akhlak. Kita terapkan itu, kita contohkan itu, kita amalkan itu. Kita buktikan kepada dunia bahwa Islam itu agama yang menjunjung tinggi akhlak, agama yang menebar kasih sayang, agama yang menolak tindak kekerasan dan permusuhan. Kita buktikan bahwa Islam juga tidak datang untuk mengubah kebudayaan leluhur kita. Bahwa bela negara juga bagian dari ajaran agama. Maka cintai juga budaya kita, cintai warisan leluhur kita, cintai negeri kita, Indonesia.

Islam Agamaku, Indonesia NegerikuStories to obsess over. Discover now