بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
Saat ini pilpres menjadi satu-satunya ajang bagi rakyat dinegeri ini untuk memilih pemimpin terbaik mereka. Namun sayang, faktanya. dari beberapa kali pilpres, pemimpin yang terpilih tidak selalu yg terbaik. Bahkan sering lebih buruk daripada para pemimpin sebelumnya.
Mengapa demikian? sebab yg paling utama, kapasitas dan kualitas para calon pemimpin tidak diukur, ditakar, atau ditimbang dengan al-Quran dan as-Sunnah; tetapi oleh konstitusi dan perundangan yg ada, yg sma sekali tidak merujuk pada al-Quran dan as-Sunnah. Misal, tak ada satupun pasal atau ayat dalam konstitusi maupun parundangan (UU pemilu/pilpres), misalnya, yg menyatakan bahwa para Cepres dan Cawapres wajib bisa membaca al-Quran. Apalagi berkomitmen untuk menerapkan syariah islam setelah mereka terpilih menjadi pemimpin. Padahal inilah sesungguhnya yg dituntut didalam islam. Dalam islam, seorang pemimpin (imam/khalifah) dipilih dan dibaiat tidak lain untuk menerapkan al-Quran dan as-Sunnah atau syariah Islam.
Hanya dengan menerapkan syariah islamlah, kepemimpinan tidak akan-sebagaimana yg dikhawatirkan Nabi saw.- menjadi imarah as-sufaha (Kepemimpinan orang dungu/bodoh).
Pemimpin Bodoh/dungu
sebagaimana diketahui, Rasulullah saw.pernah bersabda:
«أَخَافُ عَلَيْكُمْ سِتًّا: إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ...»
"Aku mengkhawatirkan atas diri kalian enam perkara yaitu (salah satunya, red.): kepemimpinan orang-orang bodoh/dungu..." (HR Ahmad dan ath-Thabarani).
Dalam hadis di atas, ada enam perkara yang dikhawatirkan Rasul saw. terjadi atas umat ini. Salah satunya-dan yang paling pertama disebut oleh beliau-adalah imârah as-sufahâ (kepemimpinan orang-orang dungu/bodoh). Imârah as-sufahâ disebut di urutan pertama karena boleh jadi perkara inilah yang paling dikhawatirkan oleh Nabi saw. terjadi atas umat ini.
As-Sufahâ' bentuk jamak dari safîh. Artinya: orang bodoh/dungu, kurang akal dan keahlian, ahlu al-hawa (biasa memperturutkan hawa nafsu), sembrono/gegabah serta buruk tindakan dan penilaiannya. Di dalam Islam, as-sufahâ' ini tidak boleh diberi kepercayan untuk mengelola sendiri hartanya (QS an-Nisa' [4]: 5). Islam memerintahkan agar diangkat seorang washi' yang mengurusi harta milik as-sufahâ' ini. As-Sufahâ' juga di-hijr (dilarang untuk melakukan transaksi apapun). Jika mengelola harta sendiri dan bertransaksi apapun dilarang, lalu bagaimana as-sufahâ' bisa dipercaya untuk mengelola harta orang lain, apalagi harta publik? Bagaimana mungkin pula mereka bisa dipercaya untuk mengurusi nasib orang banyak? Jika itu terjadi, pasti kerusakan dan kehancuranlah hasilnya.
Dalam hadis lain, Rasul saw. menggambarkan dengan sangat gamblang apa yang dimaksud imârah as-sufahâ'. Beliau bersabda kepada Kaab bin Ujrah:
«أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ. قَالَ: َمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ :أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِى لاَ يَقْتَدُونَ بِهَدْيِى وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى...»
"Semoga Allah melindungi kamu dari imârah as-sufahâ'." Kaab bertanya, "Apa itu imârah as-sufahâ', wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Mereka adalah para pemimpin sesudahku, yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak meneladani sunnahku..." (HR Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi).
Karena itu kepemimpinan penguasa manapun-baik yang IQ-nya rendah maupun yang IQ-nya tinggi-yang tidak merujuk pada petunjuk dan Sunnah Nabi saw. terkategori sebagai imârah as-sufahâ' (pemimpin bodoh/dungu). Tegasnya, pemimpin yang meninggalkan petunjuk al-Quran dan as-Sunnah, seraya menjalankan sistem dan perundangan yang bukan syariah Islam, pada dasarnya itulah imârah as-sufahâ'.
ESTÁS LEYENDO
KafFaH
EspiritualBuletin Dakwahh Kaffah Berisikan dakwah-dakwah yg bermanfaat bagi kalian muslim dan muslimah, jika kalian tidak membacanya, maka rugilah kalian.. Menuntut ilmu adalah wajib serta berdakwahpun wajibb bagi kalian uumat muslimm . hal tersebut termasuk...
