[1]

11 1 0
                                        

"Akh sial! Lagi-lagi aku harus mengalami mimpi yang sama lagi" Venus memijit pelipisnya, ia terlalu lelah selalu terbangun di pagi hari dengan keringat yang membasahi dahi serta baju piyama nya.

Tak mau tambah pusing, Venus bangkit dari kasurnya lalu menuju ke kamar mandi, ia perlu menyegarkan diri agar pikiran buruk itu segera hilang.

Setelah mandi dan berpakaian rapi, Venus turun ke ruang meja makan, disana ada kedua orang tuanya dan adiknya Ken sedang sibuk menyantap nasi goreng dan segelas susu hangat.

"Venus, ayo makan dulu" Seru Anita, ibunya Venus yang sedang membereskan dapur setelah memasak.

Venus pun duduk di kursi lalu mengambil dua buah roti tawar dan sebotol Nuttela.

"Kamu kok makan roti? Mama kan udah bikinin nasi goreng tuh"

"Gak selera Ma" ucap Venus lemas

Anita hanya mengangkat bahunya, lalu menatap wajah Venus. Anak sulung nya itu terlihat pucat.

"Kamu sakit sayang?" Tanya Anita sambil memegang dahinya Venus.

"Engga kok Ma, mungkin aku kelelahan gara-gara acara kemarin"

"Oh ya sudah kalo begitu kamu siap-siap ke sekolah bareng Papa, Ken juga berangkat pagi" ucap Anita sambil membereskan meja makan.

°°_____________________°°
______________

"AURORA!!MAU KEMANA KAU!"

Aurora tahu ia akan dibunuh, dan sekarang ia sedang berlari untuk menyelamatkan diri.

"Aurora!! Kau tak bisa lari dariku!"

Kini ia berada di jalan buntu, ternyata labirin tanaman merambat itu berakhir disini, tidak! Aurora yang salah memilih jalan, kini ia akan menjemput mautnya sendiri.

"Kumohon kak, jangan bunuh aku!!" Pinta Aurora sambil menangis

"Cih! Kau kira aku bakal melepaskan mu semudah itu ha!! Tidak akan!"

"Jika kau mau takhta itu, ambilah!! Tapi jangan bunuh aku"

Pria itu tertawa melihat adik kecilnya tak berdaya di hadapannya "benarkah? Ohh dimana pengawal-pengawal mu ha? Kenapa hari ini mereka tidak mengawasi mu?"

"Ohh iya-iya bukankah aku sudah meracuni mereka semua ya?" Tanya nya pada diri sendiri lalu pria berjubah hitam itu tergelak sendiri.

Aurora hanya menutup mulutnya shock dengan kejadian ini, besok adalah penobatan nya sebagai seorang Ratu yang akan memimpin kerajaan itu setelah ibu dan ayahnya tewas di dalam pelayaran. Dan sekarang Aurora akan mati dibunuh oleh kakak kandung nya sendiri.

Pria itu mendekati Aurora lalu mencengkeram erat rahangnya, Aurora terlihat menangis menahan sakit. "Kau! Seharusnya kau tidak lahir di muka bumi ini! Kau tahu gara-gara kamu aku dikirim ke desa oleh ayah ku sendiri! Apa kau pikir hidup di desa dengan segala keterbatasan itu sebuah lelucon? Katakan!!?" Bentaknya

"Itu salah mu sendiri kak! Kau membantu komplotan pemberontak itu! Kau seharusnya menjadi anak yang baik dan mendengar kan kedua orang tua mu--"

"BERHENTI MENCERAMAHIKU!" teriak pria itu membuat Aurora terdiam.

"Kau sudah terlalu banyak bicara, kau sudah menjebloskan ku ke penjara dan kau! Sudah membuatku terusir dari rumah ku sendiri!!" Timpalnya lagi

"Dan sekarang terimalah akibatnya!"

Jleb!

Sebuah belati menusuk tepat di perut Aurora

"MARCUS!"Teriak Aurora menahan sakit, darah segar mengalir deras membasahi gaun putihnya.

"Gimana ha? Sakit tidak? Nah begitulah saat aku terkena panah di pahaku, sekarang sebagai seorang adik kau harus merasakan penderitaan ku selama ini"

Pria yang bernama Marcus itu menusuk lebih dalam sehingga Aurora terbelalak karena tusukan itu sudah melukai salah satu organ dalamnya, dan darah segar muncrat dari mulutnya

"Marcus-- a--aku bersumpah a--aku akan kembali untuk menghancurkan semua keturunan mu!"

Glarrr!!!

Bunyi guntur membuat suasana itu sangat mencekam awan hitam sudah terlihat di kaki langit pertanda hujan akan turun. Tubuh cantik itu kini tertidur di atas tumpukan jerami, dengan darah yang membuat setengah gaun putihnya berwarna merah.

Dan pada akhirnya Marcus tersenyum lebar melihat adik kecilnya tertidur lelap dan takkan bangun lagi. Ia pun kembali ke dalam istana meninggalkan tubuh tak bernyawa itu dihempas oleh hujan yang turun semakin deras.

°°________________________°°
_______________

"Venus?! Venus!!"

Venus pun membuka matanya, keringat yang sudah membasahi dahi dan baju seragam sekolah nya.

"Kamu kenapa teriak-teriak gitu?" Tanya Helena panik

"Aku baru saja mimpi aneh" ucap Venus sambil memegang kepalanya.

"Mimpi aneh? Tadi tu kamu pingsan tau, kami bawa kamu ke ruang UKS"

Venus menatap Helena bingung "benarkah?"

Helena mengehela napas nya "ya sudah sekarang kamu istirahat dulu, mau minum?"

Venus menggelengkan kepalanya pelan "tidak terimakasih"

"Oh kalo begitu kamu tidur dulu, wajah kamu pucat banget"

"Iya" Venus kembali merebahkan dirinya, namun ia masih tidak berani menutup mata, apa yang terjadi tadi terlalu nyata untuk sekedar mimpi, Venus meraba perut nya sambil meringis. "Sial! Kenapa semuanya terasa begitu nyata" gumamnya.

Venus And The QueenStories to obsess over. Discover now