Terlihat seorang gadis remaja menggunakan seragam SMA yang masih baru sangat bahagia dengan senyum diwajahnya. Hari ini adalah hari pertamanya masuk disekolah barunya.
"Anya nanti harus rajin disekolah yang baru. Terus pintar pintar cari teman. Jangan bergaul dengan murid yang nakal." kata kak Adi
"Iya, kakak tenang aja. Aku gak bakal berteman dengan murid yang nakal. Aku kan kutu buku, mana ada yang mau temenan sama aku." ucap Anya sambil terkekeh.
"Yaudah kita berangkat. Nanti kamu telat."
Anya mengangguk pelan dan langsung naik keatas motor kak Adi.
"Jangan lupa pegangan, nanti kamu jatuh." kata kak Adi sambil menarik tangan Anya melingkar ke perutnya.
"Iya ihh kakak bawel kayak emak emak. Udah ayo buruan." ucapku dengan muka cemberut.
15 menit berlalu dan mereka berdua telah sampai disebuah gerbang sekolah. Sekolah itu bernama SMA Nusantara. Banyak siswa dan siswi terlihat sedang bercakap cakap dan memperhatikan ke arahnya. Namun ia tidak peduli."Kakak nanti tungguin aku pulang? Atau aku naik angkot aja?" tanyanya.
"Iya nanti kamu pulangnya bareng kakak, jangan lupa telfon kakak. Ntar tungguin kakak diparkiran." sambil mulai menyalakan motornya dan tiba tiba langsung berhenti. "Oh ya kalau ada cowok yang gangguin kamu, lapor ke kakak aja."
"Iya, yaudah pergi sana." ucapnya kemudian mengambil ponsel disaku bajunya dan mengetikkan pesan ke seseorang yang sangat spesial baginya. Kemudian menyimpannya kembali masih dengan senyum sumringah yang terukir diwajah manisnya.
Ia berjalan sendirian kemudian dia melihat sebuah kelas yang diatasnya telah tertulis Ruang kepala sekolah. Ia pun mulai melangkahkan kedua kakinya. Matanya menerawang seisi ruangan lalu ia melihat seorang laki laki yang sudah memasuki usia setengah abad itu, tersenyum padanya. Ia pun mulai melangkahkan kakinya menuju tempat itu.
"Assalamualaikum selamat pagi bapak. Bapak kepala sekolah kan? Saya Adrena Anya Myesha, biasa dipanggil Anya." ucap Anya tidak lupa dengan senyum manis dibibirnya.
"Waalaikumsalam dan selamat pagi juga. Iya bapak kepala sekolah diSMA Nusantara. Baiklah Anya bapak sudah mengetahui nama kamu dari ayah mu. Sekarang kamu tunggu dulu ya, bapak akan memanggilkan guru untuk wali kelasmu." ucap pak Rahmat tidak kalah ramahnya. Kemudian pak Rahmat mengambil ponsel dan berdiri dari duduknya.
"Baiklah, saya tunggu ibu diruangan saya"
Dua menit kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Permisi bapak." suara dari balik pintu.
"Silahkan masuk ibu." ucap pak Rahmat.
Lalu masuklah seorang wanita yang terbilang masih cukup muda untuk seorang guru. "Maaf pak, kalau boleh tau ada perlu apa bapak memanggil saya kemari?" dengan sebuah kerutan didahinya yang menandakan ia sedang bingung.
"Begini bu Dian, saya memanggil anda kemari dengan tujuan ingin memperlihatkan siswa baru yang saya bilang kemarin. Saya harap anda bisa membantunya selaku anda wali kelasnya."
"Oh baiklah pak. Dengan senang hati saya akan membantunya pak. Kalau begitu kami permisi." ucap bu Dian menunduk lalu menarik tangan Anya. "Ayo nak, ikut ibu."
Melewati sebuah tangga dan beberapa kantin, akhirnya kami sampai didepan sebuah kelas. Kami berdua melangkahkan kaki dan terdengar lah suara yang sangat ribut.
"Pagi anak anak." sapa bu Dian dan kemudian kelas menjadi hening. "Ibu membawa teman baru buat kalian. Semoga kalian bisa membantunya beradaptasi."
"Pagi juga ibu." ucap mereka serentak.
"Baiklah nak, silahkan perkenalkan dirimu kepada teman teman." ucap bu Dian kemudian menarik tangannya.
"Halo kenalin nama aku Adrena Anya Myesha, kalian bisa manggil aku Anya. Aku pindahan dari Manado." ucapnya dengan senyum yang masih merekah dipipinya.
"Hai, kalau panggil sayang boleh tidak?"
"Anya bagi nomor wa dong."
"Anya udah punya pacar belum? Sama bang dion aja masih jomblo."
Celetuk celetukan yang sebenarnya membuat Anya risih namun sebisa mungkin ia tersenyum karena ia tidak mau dicap cewek sombong oleh teman temannya.
"Sudah sudah, kalian semua harus diam. Anya kamu duduk dibangku kosong yang disana" sambil menunjuk sebuah kursi yang paling pojok.
Anya mengangguk patuh kemudian berjalan menuju kursi itu.
Anya sangat bersyukur karena teman duduknya itu nampaknya terlihat sangat cuek dan tidak peduli sekitar.
"Syukurlah, aku lebih tenang kalau dia tidak banyak bertanya." dalam batinnya.
CZYTASZ
BEDA
Dla nastolatków"Ketika dia terjatuh, aku yang membantunya berdiri kembali. Tapi ketika dia sembuh, dia malah pergi berlari mengejar orang lain." Adrena Anya Myesha. "Aku fikir ketika kita bersama, maka semuanya akan baik baik saja. Tapi ternyata aku salah, bertaha...
