Sai melangkah dengan terburu-buru di lorong. Dia punya waktu semalam untuk memberikan sentuhan akhir pada lukisannya. Besok adalah hari penjurian. Memenangkan kompetisi ini akan memberikannya kesempatan mengikuti pameran di Paris. Sebagai seorang artis sejati dia hanya ingin menuangkan pemikiran dan imajinasinya dalam sebuah kanvas, tetapi ia juga senang menerima kesuksesan finansial dari lukisan-lukisan provakatif ciptaannya. Dia tak menyangka banyak orang akan menyukainya.
Meski ia sudah punya nama di Jepang. Ia ingin dunia juga mengenal karyanya. Dari sekian banyak opini yang paling sering ia dengar adalah kata vulgar, depresif dan kosong. Pandangan mereka memang tak salah dari kaca mata banyak orang mungkin memang begitu, tetapi baginya setiap pose wanita yang ia lukiskan adalah potret kejujuran, ia mengambarkan mereka apa adanya.
Ia adalah seorang seniman yang terpincut untuk melukiskan emosi dan erotisme sebuah tubuh. Baginya menanggalkan pakian ia samakan dengan menangalkan identitas. Ketelanjangan mampu menyingkap sikap rentan serta sensitif manusia yang kerap disembunyikan dengan baik dari sisi dunia yang menuntut kesempurnaan. Lidah bisa diajak berbohong akan tetapi lebih sulit untuk mengajari tubuh untuk menipu. Bahkan tatapan matapun menyuarakan sesuatu.
Sai terlalu fokus pada pemikirannya hingga tak melihat seorang gadis berbelok ke arahnya. Tubuhnya menabrak gadis itu dan mereka berdua terjatuh di lantai.
"Ow...Kau tak punya mata ya!" Gadis itu meringis kesakitan.
Jatuh terduduk dengan pantat mendarat duluan bukanlah hal yang diinginkan Yamanaka Ino. Apalagi ketika ia sedang setengah mabuk sehabis party bersama teman-temannya. Mengapa hari ini dia begitu sial.
Sai tak memedulikan sang gadis yang masih terduduk di lantai. Dia malah memunguti perlengkapan melukisnya yang tercecer di lantai. Setelah mengumpulkan semua cat minyak yang berserakan. Dia berdiri menatap sejenak gadis yang tampak kesal itu. Dia cantik, Dengan wajah simetris dan warna mata mencolok. Bibir berlipstik merah yang memberengut ditambah bulu mata lentik dan panjang membuat gadis itu terlihat dramatis.
'Hm...terlalu terang untuk seleraku' putus sang pelukis. Dia jarang sekali menggunakan pallet warna terang untuk karya seninya. Bukannya ia tak suka, kadang ia merasa warna-warna cerah tidak pantas untuk mengambarkan imajinasi kelam dan kotor dalam benaknya.
Dari gaya berpakaian dan tas tangan yang tergeletak di lantai Sai langsung memutuskan untuk tak mau berurusan dengan wanita itu. Gadis seperti ini sama sekali bukan tipe-nya dan gedung apartemen ini dipenuhi oleh mereka yang ia sebut gadis plastik. Gadis-gadis gila trend tanpa kepribadian dan kemampuan selain mencari sensasi. Tanpa berkata apa-apa dan malas membantu gadis itu berdiri, Sai berlalu begitu saja.
"Hei... Brengsek!" Teriak Ino sambil mengacungkan jari tengah pada sosok yang mengabaikannya. "Mengapa ada pria tak sopan macam itu di apartemen ini." Keluhnya sambil berdiri.
Yamanaka Ino adalah putri pemilik apartemen ini. Jangan iri dengannya, sebab tak hanya terlahir di keluarga kaya ia juga dikaruniai tubuh dan wajah yang luar biasa. Ia bisa mendapatkan hampir semua hal di dunia, tetapi itu semua ilusi belaka. Kenyataannya, tangan dan kakinya terantai oleh sesuatu yang bernama orang tua. Sesampainya di kamar gadis itu melempar tas channelnya di atas sofa. Dengan gusar ia meraih sebotol wine dari bar dan menuangkannya ke dalam gelas. Ia lelah, lelah dengan kepalsuan yang ia jalani. Oh...tentu ia punya pilihan hanya saja ia bukan orang yang pintar membuat keputusan. Dia bisa membangkang dan hidup dengan caranya sendiri, tapi berapa harga yang ia harus bayar? Sanggupkah ia meninggalkan gemerlap harta dan mengecewakan satu-satunya keluarga yang tersisa. Ayahnya membesarkan Ino seperti tuan putri. Ia memberikan Ino segala yang diminta dan saking sayangnya, sang ayah hanya akan menikahkan Ino pada pria yang ia pandang layak dan keberuntungan itu jatuh pada putra sulung keluarga Uchiha.
YOU ARE READING
My Obsession
FanfictionDia tak tahu sejak kapan ini terjadi dan dia juga tidak sepenuhnya sadar akan apa yang telah dia lakukan. Dia hanya mengikuti kata hatinya, mengabaikan rasional dan moral. Ketika gadis itu tersenyum padanya. ia hanya menginginkan sang gadis jadi mil...
