75 8 2
                                        

sweetheart you look a little tired, when did you last eat?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

sweetheart you look a little tired, when did you last eat?

°

Aroma mentega dari roti croissant sudah tak terhidu lagi sejak setengah jam yang lalu. Semua cangkir dan piring saji juga sudah rapi ditumpuk di tempat peristirahatannya. Aku mengedarkan pandang sekali lagi dan saat semuanya sudah rampung, aku melangkah keluar.

Dua belas jam yang lalu, hangat masih menyambangi udara pinggiran kota. Ditemani udara sejuk dan kabut tipis, aku membuka kedai. Sekarang tak banyak berubah. Pematang jalan sama sepinya, udara sejuk sama dinginnya, hangat pun masih ada kendati bukan datang dari Si Raja Siang, melainkan kamu.

Kamu terduduk di halte bus terdekat dari rumah dan mengenakan kaus tipis hitam andalanmu. Celanamu bermotif kotak-kotak, cukup tebal jika harus menepis dinginnya hawa malam. Di genggamanmu ada setumpuk kertas koran yang kuingat baru datang tadi pagi. Melihatmu begitu serius membunuh waktu dengan sederet berita teranyar, kedua sudut bibirku praktis terangkat. Langkahku mendekat dan kepalamu menengadah, mempertemukan pandang kita yang sama lelahnya.

"Kenapa menunggu di luar?" tanyaku menyambut dekapanmu.

Pertanyaanku tak langsung menghasilkan jawaban. Setidaknya perlu tiga puluh detik sampai dingin yang memelukku erat sedari tadi digantikan oleh hangat tubuhmu.

"Kangen." Mendengarmu, aku mendecih.

"Serius, demi brownies buatanmu yang terlezat di dunia, aku bersumpah aku rindu kamu," katamu sekali lagi dan aku hanya menggeleng, kemudian menyeretmu masuk ke dalam gedung flat kita.

Aku menghela napas lega melihat seisi rumah kita tidak hancur berantakan seperti yang terakhir kali kulihat. Aku menangkap presensimu yang kemudian memberikan tatapan keangkuhan yang agaknya dibuat-buat.

"Hebat, kan? Hari ini aku tidak mengacau. Semuanya bersih dan aman terkendali," katamu dan aku menggeleng tak percaya sementara kamu hanya terkekeh.

"Kemari, biar kuberi kau hadiah." Aku merentangkan tangan dan siap menyambut tubuh besarmu ke dalam dekapanku sekali lagi. Simpul manis nan lebar kembali menyambangi air mukamu dan itu cukup membuatku yakin bahwa kamu-kita akan baik-baik saja untuk saat ini.

"Kamu kelihatan lelah sekali, Rein. Kapan terakhir kamu makan, hm?"

Punggung besarmu itu membelakangiku saat aku kembali dengan rambut masih separuhnya basah. Aroma dari sup ayam semerbak memenuhi seisi rumah. Aku berjinjit, menilik sedikit apa yang kamu masukkan ke dalam panci kesayanganmu itu.

"Sepertinya pukul tiga sore tadi."

"Astaga, kalau begitu sekarang kaududuk, akan kuhidangkan sup ayam terbaik di kota."

Dan benar, kata-katamu itu tak main-main. Aroma yang datang bersamaan dengan asap tipis yang mengebul itu cukup memikat. Ada sesuatu yang kamu masukkan ke dalam mangkuk yang membuat segalanya terasa begitu berbeda dan anehnya, aku tak tahu apa itu.

❄️

Berita tentang kematian yang datang dari menteri tersohor lagi-lagi mengisi segmen headline news di televisi. Jadilah kita terpaksa mencerna serluruh kronologinya dari A sampai Z kendati bukan hal itu yang memenuhi kuriositasku, melainkan botol-botol kosong berlabel risperidone di atas nakas.

Menghela napas berat, aku menoleh ke sisi kanan. Pelupukmu terpejam, dadamu naik turun dengan damai, dan wajahmu tidak pucat, tidak pula memerah. Hampir mustahil bila sesuatu benar-benar terjadi hari ini.

Jeon Jeongguk, seberapa berat yang kamu lewatkan hari ini, sayang?

two.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang