00 | Diary White

43 9 0
                                        

Hari semakin gelap, angin terus saja meniup kencang rambutku. Matahari pun nampak enggan lagi menemaniku yang kini ku sendiri menunggu bulan datang menyapaku.

Kutatap ke atas langit, sejujurnya aku rindu saat-saat bersamanya. Kami menyukai senja, kami menikmati angin lembut yang menerpa kulit, di saat seperti itu dia merangkulku menaruh kepalaku di pundaknya dan sama-sama berdoa agar hal seperti ini tidak akan hilang.

Namun, yah, semua sudah terlambat. Aku mencintainya begitu pula dengannya. Dia sosok pengganti ayah bagiku. Kuat, melindungi, dan semua hal dia lakukan untukku. Jika saja hari itu aku mendengarkan semuanya hal seperti ini, duduk di atas rerumputan dengan angin yang terus menusuk kulit, tidak akan terjadi.

Aku mendongakkan lagi kepalaku ke atas langit, dia sangat menyukai langit dikala senja, "apakah kau merindukanku? Kuharap begitu. Hei, lihat, aku sudah membaca bukunya. Kau baik-baik saja disana."

Lalu, ku lihat buku yang tengah ku pegang ini, buku dengan ukuran sedang berwarna putih dengan motif bunga mawar putih di tengahnya, buku yang saat ini aku sangat menjaganya. Ku buka halaman pertama buku itu, hal yang pertama kali kutemukan ialah foto dimana aku tengah duduk membaca buku sendirian di taman sekolah.

Aku sendiri tidak tahu kapan dia mengambil foto ini.

Ahh.. saat-saat itu.

Hmm..

^-^-^-^-^-^

DIARY WHITEWhere stories live. Discover now