Prolog

104 22 6
                                        

Seperti bumi tanpa matahari
Begitulah kehidupanku sekarang
Tak ada cahaya yang mampu menerangi
Dan tak ada lagi wujud bahkan bayang yang dapat ku lihat.

Semuanya berubah  sejak kecelakan lima tahun lalu. Dimana aku , seorang gadis kecil yang baru saja beranjak usia delapan tahun harus kehilangan penglihatan dan kedua orang tuaku . Ketika aku mengetahui semua kenyataan itu hatiku  sungguh hancur lebur tak ada yang tersisa .
Tapi karna dukungan dari oma aku mulai membangun harapan baru dan mencoba mengiklaskan semua yang telah terjadi. Bukan hal yang mudah melakukan semua itu , aku pun mulai melakukan usaha bunuh diri dengan membentur benturkan kepalaku ke semua benda yang ada di sekitarku dan itu semua selau gagal , oleh karna itu oma memutuskan untuk membawaku pindah ke rumahnya dan menyekolahkanku di sekolah luar biasa. Perlahan namun pasti aku mulai bangkit dari keputus asaan dan mulai menata asa yang baru

Sudah berapa kali berita adanya pendonor mata datang kepadaku , namun berita itu kemudian hanya menjadi berita saja dan tak ada perealisasiannya . Dan kalian tau apa yang kurasakan ketika pihak pendonor mengundurakan diri ? Aku merasa hancur .  Tapi apa yang dapat kulakukan selain diam dan menerima semua kenyataan yang begitu pahit. Hingga pada akhirnya aku tak punya keinginan lagi untuk melihat dunia yang kejam ini.

Namaku Vina Andriani , umurku baru berusia tiga belas tahun hari ini . Aku sangat suka melukis , walaupun aku tak peenah tau bagaimana hasilnya . Yang jelas bakat melukis memang sudah ku miliki sejak kecil . Namun , karan kecelakaan itu aku tidak tau apakah aku masih berbakat untuk melukis atau tidak? Yang ku tau hanya menggoreskan setiap cat pada kanvasku .

 Aku sering sekali membawa perlengkapan lukis ku ke suatu tempat hanya untuk melukis di sana . Seperti sekarang aku sedang di atas bukit untuk melihat senja. Eh, maaf maksudku menikamatinya serta mengabadikannya dalam kanvasku . Namun , aku juga tak pernah tau bagaimana wujud lukisanku ? Bagaimana warnanya?

Banyak orang yang mengejekku , merendahkanku dan bahkan terkadang ada anak seusia ku yang merebut semua peralatan lukisku dan menginjak injaknya. Namun, sekuat mungkin aku tak akan menangis dan tetap menerimanya.

Dan kini semuanya berubah sejak aku bertemu dengannya , hidupku yang dulu tak ada warna kini mulai dihiasi oleh warna warna baru , seyum dan tawa yang dulu menghilang kini kembali hadir karnanya. Sosok lelaki yang rela membagi matanya untuk menglihat dunia .
Siapa dia ?

Ikutilah kisahku dan lihatlah setiap warna yang di ciptakannya.
                        ***
Jangan lupa vote dan comment ya😊😊

Mohon maklum kalau masih ada kata-kata yang kurang pas karna masih penulis pemula😊😊
    

Your EyesWhere stories live. Discover now