Sore itu, di sudut utara ibukota. Tepatnya teras samping kediaman perdana mentri kekaisaran Yuan. Duduklah dua pemuda dengan ciri berbeda. Salah satu dari mereka mengenakan jepit rambut emas dan batu giok langka yang dipahat dengan penuh ketelitian dan keahlian, menggambarkan kepribadiannya yang indah, tanpa celah di saat bersamaan. Terlebih hanfu gelap dengan sulaman emas memberinya kesan elegan di setiap pergerakan bahkan sikap tenangnya.
Di sebrang meja, pemuda yang lainnya dengan hanfu biru muda, memancarkan kecerahan. Dan jepit rambut giok sederhana namun menawan, mencerminkan kebijaksanaan. Namun juga tidak menutupi wibawa pada dirinya.
Hanya keheningan yang ada di antara mereka. Sebelum teriakan kekanakan memecahkan keheningan itu.
"Kakak. Apa yang kakak lakukan di sini?" Tergopoh-gopoh menaiki tangga, gadis kecil dengan kulit putih kemerahan, rambut hitam legam mengkilau ditata dua cepol dengan hiasan perak menguntai di setiap masing-masing cepol, menambah kesan manis dan imut. Terlebih wajah bulat dengan tanda lahir biru berbentik bunga di antara alisnya. Mungkin jika tidak menelitinya dengan seksama, maka tidak akan mudah menemukannya.
"Harusnya kakak yang mengatakan itu padamu."
"Kakak, bolehkan Kui di sini?"
"Kamu lari lagi dari nenek?"
Tanpa menjawab pertanyaan kakaknya yang tentu saja benar adanya, gadis kecil yang bernama Kui, Xiang Ri Kui. Menengokan kepalanya pada objek lain yang duduk di sebrang meja kakaknya.
"Hai. Aku baru melihat teman kakakku yang sepertimu." Para pelayan bilang, ah Kui gadis yang manis. Ini saatnya ia memanfaatkan kemanisannya. Semoga kali ini teman kakaknya bisa membantunya melarikan diri dari nenek.
"Benarkah?" Pemuda berhanfu gelap itu tidak pernah melihat gadis kecil ini sebelumnya. Adik dari Xiang Song Shu, pemuda berhanfu biru muda. Itu artinya putri tunggal perdana mentri.
Menganggukan kepala kecilnya tanda mengiakan, tanpa kata orang yang ditatap justru memberinya isyarat untuk menempati salah satu kursi yang masih kosong. Merasa senang mendapat pelarian yang cukup mudah dari tektek bengek yang menyangkut tonik dan beberapa ramuan herbal, Ri Kui pun menurut tanpa syarat. Sedangkan kakaknya memelototinya tidak senang. Ini pertama kali kakaknya membawa teman berbincang yang bisa mengendalikan situsi. Contohnya, saat orang itu menyuruhnya duduk, kakaknya diam saja. Padahal biasanya kakaknya akan menolak dengan sedikit bentakan yang membuat siapa pun merinding. Tentu saja itu tidak berpengaruh padanya. Tapi ia mengerti untuk tidak mengganggu bisnis resmi kakaknya. Itu sebabnya ia sangat heran dengan situasi saat ini.
"Apa yang membuatmu ingin bergabung?" Sesuatu yang menarikkah? Apa dia terlalu tampan sehingga gadis kecil ini melawan kakaknya yang terkenal galak di kemiliteran? Siapa yang harus di salahkan? Raut wajah Song Shu begitu tidak senang.
"Aku hanya ingin bermain." Kamu begitu polos anak manis. Atau pura-pura polos?
"Apa aku cukup menarik sebagai teman bermain?" Ah. Ia hampir lupa. Jika beberapa saat lalu, Song Shu baru saja menanyakan tentang pelarian gadis itu dari neneknya.
"Sebenarnya tidak. Tapi aku suka padamu." Apa?
"Ekhem. Benarkah?"
Menganggukkan kepala kecilnya dengan sedikit berfikir,
"Aku akan benar-benar menyukaimu jika kamu mengajakku bermain." Gadis kecil, apa yang sedang kau lakukan? Merayu, atau menipu?
"Aku akan mengajakmu bermain jika kamu menjawab pertanyaanku."
"Apa itu tebak-tebakan? Dan kamu memberikan apapun jika aku menjawabnya dengan benar?" Anak ini. Tipe orang yang diberi satu, malah ingin semua.
"Ya. Tentu saja."
YOU ARE READING
Nuren
RomanceAntara harta, tahta, dan wanita, Lie Hu memilih cinta seorang wanita yang ia cintai. Lalu apa daya saat semua itu memihaknya? Kecuali wanita. Tidak seperti dulu, kali ini ia mengikat wanitanya. "Aku tidak keberatan bayi rubah sepertimu menggigitku."...
