Bagian 1 Jalan Tempuh

20 1 0
                                        

Dering ponsel genggam membangunkan tidurnya. Tertera nama 'Ayah' tampil di layar. "Halo, iya Yah? Iya sebentar lagi Rintika segera sampai di rumah", katanya menenangkan seseorang dibalik telepon di sana. Entah bagaimana bila Ayahnya mengetahui segalanya? Tentang anak gadisnya yang telah dijamah tangan-tangan kaum Adam.

Dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi bis. Memejamkan matanya sejenak, membayangkan kejadian beberapa jam yang lalu. Disebuah kamar kost dengan seorang lelaki yang telah menjamahnya. Air matanya mengalir lembut, perlahan, hingga kembali tertidur dengan sisa-sisa harapan.

Harapan? Setiap orang memilikinya. Mengantunginya, merajutnya, atau memesannya pada Tuhan dalam bait-bait do'a. Sekalipun dipatahkan, manusia akan kembali berharap dengan harapan yang baru. Manusia dan harapan, seperti pasangan kembar yang tak mungkin dipisahkan.

Kadang ada saat dimana manusia berhenti berharap dan ingin mati saja. Patah atau dipatahkan, hingga bukan lagi harapan yang dirajut, melainkan luka pada setiap keperihan. Terhenti pada titik keterpurukan.

"Mbak, boleh duduk disini?," sapaan itu mengagetkannya. Dia kembali terbangun dan menggeser tubuhnya, hingga benar-benar menempel di jendela bus.

Gadis itu membuang tatapannya ke luar jendela bus. Menatap kerlipan lampu jalanan yang mirip kumpulan kunang-kunang. Ingin sekali dia mengantongi cahaya lampu itu, untuk hatinya yang semakin lengang.

Bus antar kota masih melaju mengarungi waktu.

***

"Ibumu kemana, Ka?,"

"Baru saja pergi, Om,"

Rintika Irisha, gadis pendongeng yang duduk di kelas 1 sekolah teknik. Punya dunianya sendiri bersama kuas, kertas gambar, cat warna serta buku-buku fiksi yang dipinjamnya di perpustakaan sekolah. Kadang dia sulit membedakan mana dunia nyata dan dunianya sendiri, dunia dongeng. Tapi itu tidak berarti dia sedang baik-baik saja.

"Jangan mulai lagi, Om! Kumohon!," katanya sedikit memelas ketika sebuah tangan menyentuh wajahnya.

Baginya, kehidupan layaknya kanvas. Manusia itu sendiri sebagai kuasnya. Kehidupan ini seperti mencari atau menemukan warna. Menemukan atau bahkan ditemukan.

Umurnya baru 15 tahun ketika ia mengenal rasanya dihinakan oleh adik tiri dari ibunya sendiri yang usianya tidak terpaut jauh dengannya, 17 tahun. Usia itu, usia dimana remaja mencari dirinya, mudah terpengaruh, bahkan mudah terjatuh. Kejadian itu berlanjut hingga di usianya menginjak 16 tahun

Rintika hanya diam ketika tubuhnya dicengkeram buas. Dia pasrah dan mengalah. Mengalah pada siapa? Pada lelaki itu kah? Atau pada Tuhan yang membiarkan dirinya dihinakan manusia. Semesta, ini terlalu sulit untuk diterima, ia hanya bisa merintih dalam hati. Tangan itu telah sampai pada vitalnya. Pelan, pipinya basah, disekanya dengan jemari yang menjerit.

Pakaian itu masih dikenakannya, meski dipaksa untuk dilepas, Rintika menolak. Kini tubuhnya telah terbaring menghadap ke kanan, membelakangi lelaki itu. Sungguh jelas sekali terasa, bagian tubuh sensitifnya diraba. Sangat terasa, lelaki itu berusaha menggapainya.

"Ka, mau kemana?," tanya lelaki itu yang menyadari Rintika bangkit dari ranjang, setelah matanya terpejam berimajinasi tak karuan.

"Buang air," jawabnya singkat tanpa membalikkan badan. Rintika bergegas pergi dari kamarnya sendiri dan bersembunyi di kamar mandi. Menyalakan keran air, kemudian membiarkan ari matanya tumpah ruah.

Diluar sana, lelaki itu menunggu dengan harapan Rintika segera kembali dan memuaskan nafsu. Harapan macam apa itu? Harapan yang berantonim dengan harapan Rintika, yang mana dia menginginkan hidupnya baik-baik saja. Tanpa perlu merasa terhina, tanpa perlu dipaksa melakukan apa yang tidak ingin dilakukannya.

Syukur dia kembali karena putus asa menunggu Rintika yang tidak segera kembali dari tempat persembunyiannya. Lelaki itu pulang dengan kecewa, sebelum orang tua Rintika pulang kembali kerumah. Hatinya berjanji akan segera kembali menemui Rintika, guna memuaskan nafsunya yang tak sempat dipuaskan. Mungkin hari esok akan terjadi malapetaka bagi Rintika, kepuasan bagi lelaki itu yang semakin gila.

Senyumnya kecil penuh arti. Lalu segera pergi.

***

Semesta, adakah tempat pulang selain rumah?, kepalanya ditopang dengan dua tangannya yang sebenarnya sama lemahnya.

Jalanan semakin sepi. Menyisakan satu manusia di halte bis yang masih ragu, adakah tempat pulang selain rumah? Sedangkan langit bergemuruh mengisyaratkan hujan akan segera jatuh. Dipaksanya tubuhnya beranjak dari tempat itu. Aku harus pulang!

Langkahnya gemetar. Takut kembali untuk pulang, ke sebuah tempat yang kata orang adalah tempat paling nyaman dan aman. Dia tidak peduli kata orang. Pulang ke rumah adalah ketakutan terbesarnya.

Hujan jatuh perlahan. Gerimis. Rintiknya jatuh lembut di sela-sela rambut panjangnya yang kehitaman. Sejuk mendarat di dasar kulit kepala. Mengembalikan ingatan setahun yang lalu. Ingatan yang belum sempat dilupa.

***

"Rumah sepi, Ka? Pada kemana?," tanya seseorang yang tiba-tiba menghampirinya di ruang keluarga.

Rintika sedikit terkejut. "Astaga om! Kaget loh aku!,"

"Kamu lagi sendiri?," tanyanya kembali. Duduknya sudah pindah di dekat Rintika yang sedang menggambar sketsa wajah.

"Iya. Aku gak tahu kemana Ayah dan Ibu pergi," Rintika menjawab santai.

"Pantas pintu depan gak dikunci?,"

"Iya kah? Astaga!,"

"Sudah kukunci," sahutnya ringan. Dia semakin mendekat, rapat, sedikit sesak, Rintika mulai merasa aneh.

"Mau apa, Om?," pertanyaannya lenyap ketika telapak tangan itu telah mendarat di kulit sekitar selangkangannya.

Kertas gambar dan pensil miliknya terjatuh ke lantai.

***

Gerimis belum berhenti. Langkahnya mulai letih, berjalan sejauh 2 Km dari sekolahnya, dan belum sampai di rumah. Atau lebih baik tidak perlu lagi kembali ke rumah. Apa gunanya rumah bila dia sendiri tertangkap oleh nafsu buas sanak familinya sendiri.

Gerimis belum juga berhenti. Kali ini pada mata bulatnya. Bola mata hitam yang menyimpan rahasia dari setiap tatapan lembutnya, yang sebenarnya berupa telaga air mata yang butuh wadah untuk tumpah, butuh kawan untuk sekadar berkisah, dia butuh dalam sepinya tawa yang kian menghampa.

Gerimis bahkan masih belum berhenti ketika Rintika telah menempuh puluhan langkah di jalanan basah. Tapi sepanjang jalan, dia menikmati setiap rintik hujan. Jatuh perlahan, menyelisik helai rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai.

Tangannya menengadah, merasakan setiap tetes air hujan yang mendarat di telapak tangan lembutnya. Senyumnya mengembang, tulus sekali, hatinya sedikit lega. Hujan baginya seperti ramuan. Obat untuk setiap kesedihan.

Tuhan, aku berlapang dada dan menerima tentang setiap luka, keperihan, tentang sekeping hati yang telah pecah, dan tentang ketulusan yang disia-siakan. Tapi kumohon, jangan biarkan hujan berhenti untuk jatuh.

Rintika masih terus mempercepat langkahnya untuk sampai diterminal kota. Diwaktu petang seperti ini jarang sekali ada bus dan angkutan kota menuju terminal. Apalagi jalanan semakin lengang, dia sedikit ketakutan.

Dia terus berjalan menempuh jalan panjang. Bukan hanya untuk sampai di terminal kota mungkin. Untuk kehidupannya pula yang masih gamang.

RENJANAOù les histoires vivent. Découvrez maintenant