his broken wings

1.2K 129 20
                                        




WARNING:

1. Akan mengangkat tema mengenai kekerasan seksual dan pelecehan. Terinspirasi dari video di atas.
2. Penulis berusaha menginterpretasikan sebaik mungkin perasaan penyintas.
3. Dapat diedit dan diperbaiki sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan.
4. Penulis terbuka akan kritik dan saran.









Asap tipis dari coklat panas membelah udara. Menggumpal-gumpal, seolah berusaha merangkum keresahan dua teruna di tengah kubikel kantor redaksi sebuah media online ternama. Laki-laki dengan rambut pirang menggigiti kuku dengan gugup. Sudah hampir memasuki musim panas, tapi sinar bulan yang menemani kalian berdua hari ini tidak memberikan apa-apa selain rasa dingin di permukaan kulit punggung yang makin menusuk.

Kalian. Sebab laki-laki itu tidak sendirian. Berjarak satu meter dari si pirang, duduk satu lagi laki-laki yang tidak kalah tegangnya. Itu kamu, sama gugupnya. Jarimu menggetuk permukaan meja kerja lagi dan lagi sejak sepuluh menit lalu dan tidak juga berhenti. Alismu berkerut-kerut, yang meski tidak terlihat jelas di bawah keremangan lampu, masih tampak sesekali. Kamu terlihat risau.

"Aku tidak yakin, Hyung." Hening yang panjang akhirnya usai setelah kamu membuka mulut. Nada yang kamu gunakan terdengar ragu. Sepanjang hidupmu, kamu tidak banyak merasa ragu. Tapi kali ini kamu tampak sedikit terganggu pada apapun itu yang membuatmu ragu.

Di sisimu, rekanmu Seokjin tampak tidak kalah cemas. Kuku jarinya mungkin sudah terlalu pendek hingga ia berhenti menggigiti mereka. Tangannya yang berkeringat ganti meremat gelas kencang-kencang. Tidak tampak terganggu pada fakta bahwa cairan panas di dalamnya belum mendingin sama sekali. Kalian merasa cemas, tapi juga tidak ingin berhenti. Ada kilatan ketidaksabaran di matamu, juga debaran kencang di dada Seokjin yang datang dari apapun yang kalian anggap tantangan besar.

Tapi kalian masih takut.

"Ini kesempatan besar," kata Seokjin, meletakkan gelasnya dengan kasar hingga isinya sedikit tumpah menodai permukaan meja kerjamu. "Kita sudah bekerja di proyek ini hampir dua tahun, Jungkook."

"Koresponden kita banyak, Hyung. Aku tidak tahu apakah kita harus mengambil kesempatan ini atau tidak," kamu beralasan, "aku tidak tahu apakah ini benar baginya atau tidak."

Jauh di dalam lubuk hatimu, kamu tahu bahwa kamu ingin mengambil kesempatan ini. Ambisimu tumbuh lebih besar dibanding semua ambisi Seokjin dijadikan satuㅡ terutama dalam kasus seperti ini. Ketimbang rekanmu itu, yang pandai menghadapi segala hal dengan hati tenang dan pikiran dingin, kamu lebih tidak sabaran. Kamu punya idealisme yang butuh diberi makan, yang sering kali tumpang tindih bersama arogansi. Tapi kali ini, kamu ragu-ragu. Sekalipun kamu tahu bahwa menangani berita ini akan membuat karirmu melejit semakin tinggi.

"Semua anonim, Jungkook. Tapi orang ini bersedia memberi keterangan tanpa menyembunyikan identitasnya." Seokjin menggeser kursinya mendekat. "Bayangkan ada berapa banyak orang yang tersentuh hatinya setelah wawancara ini kita naikkan. Ada berapa banyak penyintas yang tergerak untuk bicara."

Kamu masih juga ragu, tapi kamu harus mengakui bahwa omongan Seokjin ada benarnya. Mendadak, kamu mengingat kembali hal-hal yang membuatmu ingin terjun ke dunia ini, bergelut dalam kasus-kasus seperti ini. Kamu ingat ceritanya mengenai perlakuan perempuan itu. Kamu merekam dengan jelas setiap sentuhan dan perkataannya seperti baru kemarin. Seperti baru semalam kamu lihat dia menangis di kamar kosmu yang sempitㅡ merasa jijik pada diri sendiri. Kenangan-kenangan itu membuatmu ingat pada apa yang kamu temukan pagi harinya. Sebuah tubuh yang sudah dingin, tergantung di kamar mandi. Tubuh orang itu. Kamu tahu ia akhirnya menyerah pada dirinya sendiri, menyerah pada rasa lelahnya hidup dalam ketakutannya sendiri.

His Broken Wings ✔Stories to obsess over. Discover now