1

2 0 0
                                        

"Allohu akbar, Allohu akbar....."

Suara adzan itu begitu syahdu sekaligus merdu pada saat yang bersamaan. Aku menghentikan aktivitas menulisku, saat itu Bu Endah sedang menulis rumus kimia yang sama sekali tak ku mengerti. Bu Endah menghentikan kegiatan menulisnya.

"Anak-anak pertemuan hari ini di cukupkan sekian dan akan di lanjut minggu depan."

Setelah Bu Endah keluar dari kelas kami kelas XII IPA 3, semuanya bersorak-sorai tak terkecuali aku. Aku memasukkan alat tulisku dan segera beranjak, aku ingin segera ke musholla.

"Bella.." Teman sebangkuku Auryn menyapa.

"Hmmm"

"Mau kemana?"

"Musholla, aku penasaran dengan orang yang adzan tadi."

Auryn tak bertanya lagi, aku melanjutkan langkah kakiku yang sempat terhenti. Jarak antara Musholla dengan kelasku cukup jauh, terhalang oleh beberapa bangunan seperti kantin, uks dan ruang guru. Aku membuka sepatu sneakerku, dan menyimpannya setelah itu bersiap-siap untuk mengambil air wudhu. Setelah wudhu, aku mengenakkan mukena dan shalat dzuhur berjama'ah, betuntung aku belum tertinggal jauh.

Usai shalat berjama'ah, aku segera menyimpan mukena ke tempat semula, aku keluar dan mengenakkan sepatu sneakerku kembali.

"Bell,"

Aku melirik sebentar, tampak Tiara yang sedang memakai sepatu.

"Iya, Tiara kamu tahu siapa tadi yang adzan dzuhur tadi?"

Tiara menyipitkan matanya, seakan curiga dengan pertanyaanku barusan.

"Gavril, emangnya kenapa?"

"Gak papa"

Aku menyahut cepat dari yang seharusnya membuat kecurigaan Tiara makin kentara. Aku segera berdiri dan berjalan menjauh dari Tiara, bisa bahaya kalau Tiara terus-menerus berceloteh ria tentang Gavrillio Anggara Dinan. Tiara selalu kepo tentang hal-hal yang kecil sekalipun. Misalnya, Kenapa semut selalu berada di tempat yang manis? Apa nanti tidak akan menderita penyakit diabetes? Jika populasi semut menurun bahkan punah bagaimana?? Kita harus membudiyakan dan mengembangbiakan semut-semut itu agar tidak punah dan memberinya empat sehat lima sempurna agar kesehatannya terjaga, dan hal-hal remeh lainnya yang tak dapat Bella mengerti mengapa ada orang se kepo Tiara.

"Tungguin napa Bell, aku belum selesai nih make ini sepatu.."

Aku tersenyum namun tetap melanjutkan langkahku, kupercepat langkahku. Tak peduli lagi pada teriakan Tiara yang super heboh mengalahkan  suara toa. Aku mempercepat langkahku, namun tak lama kemudian benda yang amat keras dan berat menerpa kepalaku. Pandanganku memburam di susul oleh suara ricuh yang mendekat ke arahku.

☆☆☆☆☆

Aroma minyak serai, mendominasi indra penciumanku bau tukang pijat yang selalu aku hindari setiap bertemu dengan tukang pijat. Bau itu kian kentara aku memaksakan untuk membuka mataku. Awalnya terasa silau, namun mataku membiasakan diri dengan cahaya lampu ph*l*ps berdaya 30 watt.

"Bella, ya ampun loe gak papa kan?"

Auryn nampak cemas, aku menarik senyumku Auryn memang cuek tapi Auryn adalah sosok yang peduli pada teman dekatnya, termasuk aku. Mungkin??

"Gak papa gue"

Aku melihat langit-langit putih juga dinding putih yang membuatku mengapa Auryn bisa sepanik tadi.

"Oh, syukurlah kalau gitu. Tadi gue panik banget, loe gak sadar-sadar juga pas gue ngolesin minyak kayu putih, jadi gue ngolesin juga minyak serai tadi."

Auryn nyengir tanpa dosa, bikin aku mendengus dengan keras.

"Berapa lama gue ada disini."

"Satu jam, tadi Davi nggak sengaja ngelempar bola basket ke kepala loe"

"Oh..."

Jadi, Davi Irenata Rexa yang mengharuskan aku berbaring selama satu jam disini.

"Loe masih bisa jalankan? Kita harus segera pulang!"

Aku memutar bola mataku kesal.

"Gue bukan korban patah tulang kali."

Auryn terkekeh, lantas membantuku untuk berdiri. Intan mengambil tas kami dan segera membuka pintu UKS. Mataku menyipit kala melihat Davi yang memasukkan tangan kanan ke saku celana, sementara tangan kirinya ia memegang jaket kulit hitam. Aku hampir menjerit namun tertahan jika tidak teringat Davi yang melemparkan bola basket itu ke arahku.

"Sorry, gue tadi nggak lihat ada loe. Sebagai permintaan maaf gue, mmm loe mau pulangkan? Gue nggak mau punya hutang jadi gue order grab untuk loe tapi gue yang bayar ongkosnya."

Aku tak percaya, ku pikir ia mau menawarkan  mengantarkan aku pulang dengan raut wajah yang bersalah tapi ternyata tidak dia malah memesan grab. Sedangkal itu kah pikirannya?

"Gak perlu, kamu punya hutangkan sama aku? Lemparkan bolanya."

Dia menuruti perkataanku, melemparkan bola basketnya. Aku menangkapnya, dan segera melemparkan kembali ke kepala Davi, tepat sasaran. Davi tidak terima.

"Loe... loe nipuk gue pakai bola..." Ucap Davi tidak terima.

Aku mengangguk, dan berjalan mendekat ke arahnya. Menunduk sambil berbicara pelan, mirip seperti bisikan.

"Kamu gak mau punya hutang kan? Hutang kamu itu ngelemparin bola ke kepala kan? Jadi dengan ini kita impas. Hutang kamu lunas tanpa kamu ngeluarin uang sepeserpun." Ucapku dan segera melangkah meninggalkannya.

Auryn mengikuti langkah ku dengan ragu. Setelah beberapa meter darinya, aku menoleh ke arah Davi. Dia masih terduduk di lapangan tanpa ada pergerakan apapun, mungkin masih terkejut dengan perbuatanku. Tapi aku tak perduli, bagiku dia memang pantas di perlakukan seperti itu. Agar bisa menjadi pelajaran karena tak semuanya bisa di selesaikan dengan segepok uang.

"Gila itu keren banget Bell."

Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis, ku percepat langkah kakiku sedangkan Auryn menyusul di belakangku. 

Auryn menawarkan tumpangan padaku, dia mungkin masih khawatir dengan kepalaku, aku hanya menggeleng dan Auryn meninggalkanku walau ragu meninggalkanku seorang diri. Aku tak mau merepotkan Auryn, arah rumahku dengan Auryn jelas berbeda. Aku tak ingin terlalu bergantung dengannya.

Angkot jurusan rumahku ada, aku masuk sambil melupakan hari ini yang penuh dengan drama. Semoga esok menjadi lebih baik.

,

Yayımlanan bölümlerin sonuna geldiniz.

⏰ Son güncelleme: Apr 16, 2019 ⏰

Yeni bölümlerden haberdar olmak için bu hikayeyi Kütüphanenize ekleyin!

High School ABağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin