Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

1-Mama, janji, & tiada

17 6 0
                                        

"Siniin gak!," teriak gadis cilik berumur enam tahun pada bocah laki-laki di depannya. Ia berteriak dan merebut paksa mainan spiderman ditangan bocah itu

"Tapi kak,,ini punya aku," kata si bocah laki-laki itu

"Siniin!!,," gadis itu tetap merebut paksa spiderman itu sampai mendorongnya dan terjatuh di tanah membentur kerikil yang membuatnya terluka.

"Ah,,sakit kak,," si bocah meringis kesakitan dengan air mata yang telah mengembun di kelopak matanya. Gadis itu hanya melirik sekilas lantas berkata

"Gitu doang nangis, lo anak laki-laki atau bukan sih?" ejeknya

"Sakit kak, aku luka.." belum sempat ia melanjutkan perkataannya, gadis itu telah berlalu tanpa menolongnya. Bocah itu menangis, memegangi kakinya yang terluka.

"Gava,,sayang kamu kenapa?" suara lembut itu mengalihkan pandangannya

"Mama,,hiks,," Gava menyeru sambil sesenggukan

"Kenapa sayang??" tanya Gina mama Gava

"Hiks,,aku jatoh,,hiks hiks" jawabnya

"Ya ampun,, anak mama jatuh?,sini mama obatin" ucapnya dan membopong Gava pada sebuah kursi di tengah taman

"Sini duduk ya sayang,," ucap Gina lembut pada Gava yang masih erat pada pelukannya

Gava menurut, kini ia tengah duduk dan di depannya, sosok yang sangat ia sayangi tengah mengobatinya dengan hati-hati.

"Gava kenapa bisa jatuh sayang?" tanya mama Gina pada Gava

"Tadi,, kak Gisa ambil mainan Gava,dan dorong Gava sampai jatoh. Tapi Gava udah gak papa kok" jawab Gava dengan senyumnya yang manis

"Gava emang anak mama yang pinter,, tapi mainannya buat kak Gisa gak papa kan? Mama tahu kamu sayang banget sama mainan kamu" kata Mama Gina

"Iya ma,, gak papa kok mainan Gava buat kak Gisa semua, yang penting kak Gisa bisa seneng" balas Gava menangkup kedua sisi wajah Gina dengan senyumnya yang terus terukir

Gina tersenyum haru, balas memeluk Gava dengan kehangatannya. Air matanya menetes di kepala Gava membuatnya mendongak melihat sang mama yang tengah menangis

"Mama kenapa?,Gava nakal ya?,Gava janji gak nakal lagi,," ucap Gava dengan polosnya

"Gak kok sayang, Gava anak baik gak pernah nakal" balas Gina

"Terus mama kok nangis?,mama kenapa?" tanyanya lagi

"Mama gak kenapa-kenapa sayang, mama cuma kelilipan debu tadi"
"Mana ma,, sini Gava tiupin biar cepet sembuh" Gava memasang ekspresi hendak meniup dengan memajukan bibirnya yang mungil

Gina tersenyum melihat buah hatinya itu begitu perhatian dengannya.
"Mama udah sembuh kok, mama.." senyumnya kini meredup, bersamaan dengan itu dia menatap putranya dengan seksama

"Gava,, jadi anak baik yah, nanti kalo mama mau pergi mama bisa tenang. Mama minta sama Gava jagain kakak Gisa sama papa boleh?" lanjutnya. Gava mengangguk

"Jangan pernah ninggalin mereka ya?" Gava mengangguk

"Jangan bikin kak Gisa nangis,, ingetin papa buat sarapan,, Gava mau kan?" Gava mengangguk

"Gava jadi anak pinter,jadi anak kuat,, bantu kakak kamu kalo dia dijailin temen-temen, dan Gava jangan lupa buat selalu berdoa sama Allah, doain mama biar bahagia yah?" Gava mengangguk lagi

"Gava janji mau lakuin itu semua?" Gava bingung tapi ia tetap mengangguk

"Janji?" Gina mengulurkan jari kelingkingnya

"Janji,," sambut Gava menautkan jari kelingkingnya yang mungil.

"Uhuk, uhuk" Gina batuk, menutupi mulutnya dengan tangannya. Namun, batuknya itu tidak biasa, dia mengeluarkan darah, wajahnya sudah memucat namun masih ada semburat senyum di wajahnya menahan kesakitan. Tangannya menjadi dingin, penglihatannya kian buram hingga ia jatuh pingsan di depan Gava.

"Mama?, mama kok tidur di sini?" tanya Gava melihat mamanya pingsan

"Ma,," Gava menggoyangkan tubuhnya

"Ma,,?,bangun,, ayo tidur di rumah aja," ucapnya mulai khawatir

"Ma,,?, mama,,?" resah, hatinya resah. Memegang wajah Gina yang pucat, tangisan Gava pecah

"Mama...,mama..,,hiks,hiks"

"Bangun maa..." raungnya membelai wajah sang mama

"Papa!!,papa!!!," teriaknya memanggil Rendra papanya

"Ada apa sa,,," ucapannya terhenti kala melihat istrinya tergeletak tak sadarkan diri. Matanya membelalak kaget, meraung menghampiri Gina dan Gava

"Sayang,,?! Bangun sayang?!,," panggilnya

Tak ada respon dari Gina, membuatnya kalut dan menggendongnya pergi dengan terburu-buru tanpa menghiraukan raungan Gava yang masih menangis. Sementara di belakangnya ada Gisa yang meneteskan air mata namun segera ia hapus. Dari kejauhan, suara Rendra terdengar memerintahkan Gisa untuk membawanya pulang.

"Cengeng banget sih?!, diem gak?!" ucap Gisa sarkastik
"Mama gak akan kenapa-napa!, mama cuma pingsan!,nanti juga bangun,,!" lanjutnya dengan nada marah.

Gava diam, dia tak menangis lagi dia ingat ucapan mamanya tadi. Bangkit dan mengikuti saudara kembarnya pulang.

***

"Sayang?,,bangun sayang?" masih tak ada respon sama sekali

"Sayang?,,Gina?, bangun??" titahnya lagi, tapi masih sama.

"Bapak tenang, kami akan menangani dengan segera tolong bapak jangan menghalangi kami" kata salah satu suster

"Tolong selamatkan istri saya dok,," pintanya memelas bersama air mata yang bercucuran

"Kami akan berusaha sebaik mungkin" balasnya

"Terima kasih dok.."

**

Tiga jam berlalu...
"Papa,,"

"Gava, Gisa,, kenapa kalian kesini?" tanya Rendra, bangkit menghampiri anak-anaknya

"Gava khawatir sama mama,," ucap Gava, sementara Gisa duduk dengan acuh. Rendra paham, kedua anaknya memiliki sifat yang berkebalikan.

"Mama gak papa kok,,mama cuma,,"

"Dengan keluarga ibu Gina?" Suster memanggil. Rendra langsung merespon

"Iya,saya suaminya"

Dokter keluar dari ruangan itu,,

"Begini,,"
"Istri saya baik baik saja kan dok?, dia masih bisa selamat kan?" tanya Rendra dengan gelisah

"Saya mohon maaf, saya harap bapak dan keluarga bisa dengan tabah menerima cobaan ini,," ucap dokter terpotong

"Maksut dokter??" balasnya linglung

"Istri bapak sudah meninggal, kami meminta maaf. Kami sudah melakukan apa yang kami bisa namun, tuhan berkehendak lain. Leukimia yang dideritanya sudah berada pada stadium akhir"

"Gina,,!!!" raung Rendra menerobos masuk memeluk istrinya yang tak bernyawa lagi.

Tes.. Gisa berdiri

Tes.. Gisa menghapusnya

Tes... air matanya tak bisa ia tahan. Berlari menyusul papanya. Begitupun dengan Gava yang meraung dengan keras ditenangkan sang bibi, namun tak bisa.

Mereka telah kehilangan sosok wanita yang paling mereka sayangi dalam hidup mereka. Terpukul, sangat. Kini mereka tinggal bertiga, tanpa sosok seorang ibu yang akan melengkapi lagi.

ShitmatchStories to obsess over. Discover now