Awal Perjumpaan

75 7 11
                                        

Radza mengalihkan pandangannya ke pintu belakang bus AKAP yang kami tumpangi. Cemas-cemas dia menghitung waktu sebab perhentian bus tinggal beberapa kilometer lagi. Kira-kira sekirar 30 menit kami akan sampai di terminal kota.

Radza memang begitu, dia selalu risih dan mencemaskan hal-hal yang tidak terlalu penting. Padahal ketika akan berangkat kemarin malam, aku telah sampaikan padanya bahwa semua akan baik-baik saja meski dengan sangat konyol kami menaiki bus ini dari Kiliran Jao perbatasan antara Sumbar dan Riau menuju Bukittinggi tanpa memegang uang sepeserpun.

"zar, kau kenapa masih diam saja? Sebentar lagi kita akan sampai di terminal." Ketusnya sambil menggoyangkan badanku yang masih menikmati pemandangan indah sepanjang perjalanan konyol ini. Di sana juga terlihat orang-orang dalam keramaian mengerumuni sesuatu. Seperti semut yang mendapatkan makanan.

Aku tersenyum padanya, "kau percaya padaku, kan? Kita akan selamat dan tak ada yang harus kau cemaskan untuk saat ini."

Kami tak sedarah, tapi persahabatan yang telah terjalin kurang lebih empat tahun ini menciptakan ikatan yang melebihi saudara. Sama-sama terbuang dari keluarga dan sama-sama berjuang untuk hidup dan pendidikan kami. Namun Radza masih mempunyai satu orang keluarga yang masih mau menerima dan membantu kehidupannya -meski tak selalu- dan tempat itulah yang akan kami tuju. Bukittinggi.

"Apa sopir dan kerneknya akan terima saja jika kita pergi tanpa membayar? Kita akan d teriaki dan akan jadi samsak bagi massa. Yaampun.. aku tak bisa membayangkan wajah kita yang bahkan kita sendiri tak lagi bisa mengenalinya."

Semakin paniklah Radza. Karna sebentar lagi bus yang kami tumpangi akan sampai di terminal. Hanya tinggal satu persimpangan lagi. Dan itu adalah satu kesempatan yang sangat aku pertaruhkan untuk pelarian ini.

"Kau lihat lampu merah di sana, dza?" Kataku padanya dengan sangat serius.

Wajahnya tiba-tiba tenang dan saksama mendengarkan ucapanku. "Iya aku lihat. Hanya beberapa meter dari sini."

"Sekarang dengarkan baik-baik. Setelah mobil ini melambat, si kernek akan meminta ongkos pada penumpang dan dia akan mulai dari bangku depan. Saat itu berangsurlah berjalan dengan biasa ke arah pintu belakang, sepertinya itu tidak di kunci. Ketika si kernek tiba pada giliranku, aku akan menyibukkannya dan tunggu sampai lampu hijau menyala. Gunakanlah saat itu untuk keluar dari bus ini dan segeralah berlari ke arah yang berlawanan sekuat tenaga tanpa menoleh sedikitpun. Ingat! Jangan menoleh sedikitpun. Tadi aku melihat ada kerumunan di belakang kita, sepertinya penjual obat. Berlarilah ke arah sana dan setelah kau berbaur bukalah jaket itu dan pakai topi ini supaya mereka yang mengejar tak langsung mengenalimu. Bersikaplah seperti biasa dan jangan tunjukkan muka cemasmu lagi. Apa kau paham?"

"Sepertinya itu mudah, hahaha. Lalu bagaimana denganmu, Zar?"

"Tak usah kau pikirkan. Hal seperti ini sudah biasa bagiku dan kau yang paling tau hal itu. Sekarang cepatlah bergerak!"

"Baiklah, jangan sampai tertangkap ya. Kita akan bertemu di PTHB. Aku tunggu."

"Ucapkan itu pada dirimu, sobat. Pergilah!"

Radza mulai berjalan kecil antara bangku-bangku penumpang. Tak berapa lama dia telah sampai di pintu keluar dan bersiap untuk melompat, "Sebentar lagi." Ucapnya dalam hati sambil menghitung countdown lampu merah menuju hijau.

Si kernek masih saja sibuk dengan rutinitasnya memunguti ongkos. Aku lihat si sopir juga terlena -hampir tak bisa melepaskan pandangannya- dengan gadis cantik yang sedari tadi sibuk mengajaknya bicara. Dan sekarang, kernek bau alkohol ini mendekatiku.

"Ongkos, dek!" Katanya sambil menegak botol air mineral yang ada d tangan kirinya dengan perlahan. Meski terlihat sama tapi mataku tak bisa dibohongi. Itu jelas-jelas minuman keras.

Bunga Rindu yang Hentikan WaktuHistórias para pegar e não largar. Descubra agora