Prolog

18 3 2
                                        

Matahari menampakkan dirinya, walaupun terlihat kecil, tetapi matahari tersebut sangat cerah sehingga mata tidak tahan untuk memandang. Angin di pagi hari berhembus kencang menampar diriku yang sedang tertidur pulas di atas empuknya kasur. Suara alarm berbunyi begitu keras membangunkanku dari mimpiku yang indah. Mataku, kubuka sedikit demi sedikit, kulihat sekitar sampai kulihat alarm pada handphone ku yang menunjukan pukul 06:10.

"Hahhhh!!" Teriak ku sambil bangkit dari tempat tidur, lalu berlari menuju kamar mandi.

Kenapa aku bisa bangun sesiang ini, mana lagi sekolah masuk jam 06:30 dan aku baru bangun 20 menit sebelum jam masuk sekolah. Betapa tolol nya aku, apa lagi jarak antar rumah ke sekolah juga jauh. Hadehhh..

Ketika selesai mandi aku langsung memakai seragam ala kadar nya dan langsung memakai sepatu lalu mengambil tas dan lari keluar kamar. Ketika keluar kamar mama ku menyuruhku untuk sarapan dahulu, tetapi aku menolaknya karena aku akan lebih terlambat lagi.

Sesampai nya di sekolah dengan nafas ku yang tidak karuan aku pun masuk gerbang sekolah, di sekolah sepi sekali seperti tidak ada penduduk satu pun.

"Kenapa murid-murid tidak ada ya?" Tanya ku sambil berjalan menuju satpam yang sedang berdiri di pojok lapangan.

"Pak, kenapa pada sepi?"

"Lho Ari, kenapa kamu masuk?" tanya satpam itu yang memang sudah mengenal Ari sejak lama.

"Kan hari ini hari Jumat" jawab ku dengan tatapan bingung.

"Lhoo, kamu ngelindur apa, hari ini kan hari Sabtu Ari!" jelas pak satpam.

"Hahh! Sungguhan?!"
Yupp, hari ini hari ter apes ku, sudah deg-deg an, sudah takut segala macam, sudah keburu-buru, dan ternyata sesampai di sekolah yang kudapati hanyalah jawaban bahwa hari ini hari Sabtu, ahh elahh apes banget guee..

Perjalanan pulang ku dihiasi dengan wajah yang tampak kesal dan sebal, sungguh hari ini hari terburuk yang pernah ku alami. Ketika berjalan pulang aku melihat sebuah toko es krim di pinggir jalan, aku ingin membeli nya, aku pun berjalan mendekati toko es tersebut lalu mengambil kertas menu nya, aku menyusuri semua kata-kata yang ada di menu tersebut dan aku memutuskan untuk membeli rasa chocolate, yupp, rasa chocolate memang cinta pandangan pertama ku.

Es krim ku pun sudah selesai dibuat, pegawai nya pun memberikan ku es tersebut, aku pun merogoh saku ku mengambil uang untuk membayar, yang kudapati hanya selembar struk pembayaran, ku cari lagi tetapi tidak mendapatkan selembar uang apa pun, aku pun mencari di dalam tas, di baju, di celana hingga seluruh tubuh aku cek semua, tapi tidak mendapatkan apa-apa. Haduhhh. Aku pun sadar bahwa aku tidak membawa uang selembar pun, pegawai tersebut masih menunggu dengan wajah yang tampak muram dan bosan karena lama menunggu ku mengeluarkan uang untuk membayar es krim tersebut.

"Haduhh, bagaimana ini..." gumam ku yang masih merogoh-rogoh saku celana ku.

"Nih uang nya mas untuk membayar es krim perempuan ini" kata seorang cowok yang tiba-tiba muncul seperti hantu, tangan nya memberikan uang untuk membayarkan es krim yang ku beli ini.

"Lain kali kalo mau beli sesuatu itu cek uang dulu, ada apa tidak, kalo kaya gini kan sapa juga yang mau bantu, untung juga ada gue" ceramah cowok.

Ari pun tetap mematung menatap tajam cowok tersebut, dia tidak membalas perkataan cowok itu, dia hanya diam dengan raut wajah bingung sekalian shock. Dia pun membalikkan tubuh nya membelakangi cowok tersebut, berpikir kenapa cowok itu tiba-tiba datang dan tau kalau dia lagi butuh uang.

Cowok tersebut pun meninggalkan Ari. Ari yang masih berposisi menghadap belakang tersebut masih memikir dan ingin bertanya siapa cowok itu dan bagaimana dia tau bahwa Ari butuh uang. Ari pun membalikkan badannya dan bertanya.

"Siapa na...."

Lhoo, dia mendapati bahwa cowok tersebut telah hilang dari hadapannya, dengan raut wajah bingung dia pun meninggalkan tempat tersebut.

Siapakah cowok itu? Bagaimana dia tau kalau aku tadi sedang butuh uang? Kenapa dia tadi hilang secara tiba-tiba? Siapakah namanya?

ArionetteWhere stories live. Discover now