We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Cinta Tanpa Sudut

87 5 8
                                        

Penulis : Heri Sugianto

[Terminal Induk Bekasi
Selasa, 28 Mei 2019
Di pagi hari.]

"Kedaung kedaung kedaung, Tararahu tahu tahu,
Es es es, Aqua gelas, teh botol,
Pulo Gadung yo Pulo Gadung,
Cileunyi Bandung Cileunyi Bandung,
Ayo yang Garut yang Garut yang Garut."

Ramai terdengar pedagang asongan menjajakan dagangannya kepada orang yang lalu lalang dan disisi lain para kondektur bus saling berteriak menginformasikan masing-masing perjalanannya, saling bersahutan menghidupkan Terminal Bekasi Timur. di sana, terlihat para penumpang yang berlarian memasuki busnya, seorang bapak yang memanggul kardus berusaha berlari kecil agar mendapatkan kursi kosong untuknya, dan aku yang berjalan santai memasuki bus jurusan Garut. Menukar uang dengan tiket seharga empat puluh lima ribu rupiah, lalu duduk dan menempelkan diri dekat dengan kaca. Memandangi satu persatu calon penumpang dan para pedagang, mencoba mengamati kerasnya usaha mereka dalam meraih tujuannya masing-masing. Di sinilah aku, menaiki bus menuju Garut pulang ke kampung halaman.

Aku adalah seorang pemuda berusia 24 tahun yang lahir di kota Garut, Jawa Barat. Namaku Azka Avicenna, dan aku adalah seorang pengusaha swasta di daerah Bekasi. Hari ini aku memutuskan untuk pulang kampung karena saat lusa tiba, kakakku akan menikah dengan wanita yang ia cintai dan juga yang disukai oleh ayahku juga ibuku.

"Mas, geser sedikit dong! Boleh, kan?" Ucap seorang ibu yang menggendong anaknya.

Dengan sigap aku berkata, "Iya bu, silahkan!"

"Makasih ya Mas. Ribet kalau bawa anak kayak gini. Maaf ya jadi keganggu ya?" Ujar ibu itu.

"Oh enggak apa-apa bu. Saya ngerti kok!" Ucapku sambil melemparkan senyuman manis.

Mata ku menangkap pandangan yang membuatku tak berkedip, yang membuat jantungku berdegup tak beraturan, dan yang membuat kenangan masa lalu datang kembali. Aku melihat sesosok wanita berkerudung panjang yang dibalut dengan busana muslimah yang syar'i, dia adalah sesosok wanita yang ku kenal dulu.

Delia Maharani, gadis berparas cantik tanpa polesan rias wajah. Berperawakan tinggi dan bermata indah, berkulit kuning langsat dan memiliki bibir tipis berwarna merah jambu. Ya, dia adalah wanita yang aku cintai dulu dan sampai saat ini. Wanita yang ingin ku jadikan sebagai istri hingga akhir hayat, namun itu hanya tinggal kenangan.

Kini, kenangan itu bermunculan kembali dan tak terhindarkan. Otakku memutar kembali kejadian saat aku bertemu dengannya pertama kali ketika menaiki bus menuju kampus.

[Halte Bekasi Trade Center
Kamis, 21 Januari 2016
Di pagi hari]

"Tok tok tok! Bang... Bang!" Ucapku sambil mengetuk pintu bus yang sedang berjalan lambat dan mengejarnya.

"Bang bukain pintunya!" Pintaku

Abang kondektur bus membuka pintu dan berkata, "Ayo cepet naik!"

Aku pun naik ke dalam bus dengan mencengkram pegangan besi putih yang berada di dekat pintu bus, dan akan menutup pintu tersebut segera. Namun, dari kejauhan terdengar sayup suara yang berteriak lembut mengejar bus ini.

"Pak tunggu! saya mau naik, tunggu pak!" Ucapnya.

Aku menoleh dan mengeluarkan kepalaku menuju sumber suara, dan ku dapati ia. Wanita berkerudung panjang itu berlari kecil menghampiri bus.

"Pak supir tunggu sebentar! Ada penumpang lagi yang mau naik." Ucapku berteriak.

Bus ini pun mulai bergerak lambat dan wanita itu pun dapat meraih pintu bus. Mata kami saling bertemu lalu saling menunduk, dan mulai mencari kursi yang kosong. Aku duduk di bagian kursi belakang sedangkan ia duduk tepat di depan ku.

ANTOLOGI CINTA kumpulan CerpenStories to obsess over. Discover now