6

3K 530 60
                                    

Felix tidur ditaksi karena kekenyangan. Hal itu membuat Changbin harus setia menunggu di dalam taksi sampai laki-laki itu bangun.

Sebenarnya malas, cuma setelah mengingat kisah sedih yang laki-laki itu rasakan, hati Changbin sedikit tergoyah untuk menunggunya.

Benar-benar kejam, bagaimana bisa orang tuanya memperlakukannya dengan seperti itu? Selalu memarahi anaknya yang bahkan dengan hebatnya bisa mendapatkan penghasilan dari hasil kerja kerasnya? Bukankah seharusnya bangga?

Lihatlah tingkahnya, sungguh kekanakan namun sudah bisa bekerja keras. Tingkah saja yang seperti bocah, pikiran dewasa.

Felix membuka matanya dengan perlahan, melihat seseorang duduk di sampingnya dengan samar-samar.

Terdengar suara helaan napas dari hidung Felix membuat Changbin menolehkan wajahnya, menatap yang lebih muda.

"Tidurnya lanjut di hotel," kata Changbin sebelum akhirnya keluar dari taksi, meninggalkan Felix yang masih mengumpulkan nyawanya di dalam taksi.

Beberapa menit setelahnya, Felix keluar dari taksi dan berjalan masuk ke hotel. Ia melihat Changbin yang sedang berdiri di depan resepsionis sembari berbicara pada karyawan disana.

Setelahnya, laki-laki yang lebih tua membalikkan tubuhnya dan menatap Felix seolah menyuruhnya untuk mendekat.

"Dimana tasku?" tanya Felix ketika mendekat.

"Di kamar," sahutnya sebelum jalan menuju kamar Changbin yang terletak di lantai 4 hotel.

Benar saja, sampai di kamar sudah ada tas hitam milik Felix disana yang diletakkan di atas sofa.

Laki-laki yang lebih tua duduk di sofa sembari memainkan ponselnya, begitu juga dengan Felix yang ikut duduk di sofa samping laki-laki itu.

Rasanya tak nyaman jika ia harus selaku menumpang kamar pada Changbin. Bahkan, duduk berdua begini saja Felix tak nyaman, takut menganggunya.

Felix mengambil tas hitamnya dan memakainya di punggungnya. "Makasih untuk tempat tidurnya semalam,"

Changbin mengangguk dan meletakkan ponselnya di sampingnya, kemudian menatap Felix dengan tatapan bertanya.

"Aku mau pesen kamar sendiri, kasian kamu butuh privasi juga, 'kan?"

"Harus banget?" tanya Changbin.

Felix mengganguk.

"Lo ini nggak nyaman sama gue apa gimana?"

"Bukan gitu,"

"Nggak usah aneh-aneh, lo bisa tidur di kasur, gue di sofa. Nggak usah pesen kamar," kata Changbin.

"Nggak papa, aku punya uang,"

Changbin menghela nafasnya, "Simpen uang hasil kerja keras lo, lo bisa gunain tuh uang buat kebutuhan lo atau sesuatu yang lo pingin,"

"Kalau sekarang lo adalah tanggung jawab gue, soalnya gue yang udah bawa lo kesini. Jadi, nggak usah merasa nggak enak sama gue," lanjut Changbin.

"Aku nggak minta balas budi," sahut Felix membuat Changbin yang semula menatapnya jadi melengos.

"Terserah lo,"

Felix memutar kedua bola matanya sembari mulutnya ikut bergerak ke kanan dan ke kiri.

"Biaya per malam disini emang berapa?" tanya Felix.

"1,5 untuk kamar kayak gini,"

Changbin menyahut dengan santai, berbeda dengan Felix yang merespon dengan membulatkan matanya.

breathing fire ─ changlixTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang