L O V E Y O U R S E L F

26 9 0
                                        

Namaku Keya. Umurku 18 tahun. Hidupku sempurna. Keluargaku berada dan orangtuaku selalu memberi apapun benda yang aku idamkan, temanku banyak, dan aku mempunyai seorang kekasih tampan yang dipuja seluruh perempuan disekitarku.

Aku mempunyai seorang teman, bernama Karen. Dia dekat denganku karena baginya, aku pernah menyelamatkan nyawanya.

Karen dua tahun yang lalu, adalah seorang bocah cengeng, penakut, dan tidak punya teman. Tapi bonusnya, dia memiliki kekasih yang teramat sangat dia sayangi. Dia sangat tertutup. Bahkan pada orang tuanya sekalipun.

Karena itulah, dia terlalu percaya pada kekasihnya sampai-sampai dia merasa bahwa dia tidak akan bisa hidup tanpa kekasihnya itu.

Dan pada tahun itu juga, semua hal buruk yang mungkin terpatri di otak kalian terjadi.

Pada saat itu musim hujan, beberapa pekan diisi dengan hujan lebat disertai angin kencang. dipertengahan bulan, tepatnya ulangtahun Karen. Kekasihnya menghubunginya, mengatakan bahwa ia dilarang orangtuanya untuk bertemu karena cuaca yang membahayakan, pukul delapan lebih dua belas menit. Satu seperlima jam setelah Karen menunggu di cafe sendirian.

Tepat saat Karen keluar dari cafe, dia melihat kekasihnya. Sedang membalut pundak seorang perempuan dengan jaketnya. Jaket pemberian Karen. Karen menghampirinya, untuk memastikan. Dan benar saja. Itu adalah kekasihnya yang sedang dengan perlahan tetapi pasti, menghilangkan jarak antara bibirnya dan bibir perempuan lain.

Pada hari ulangtahunnya.

Karen menuntut penjelasan, dan penjelasan dari kekasihnya membuat hatinya mencelos.

Karen menyusahkan, terlalu gampangan dan posesif. Untungnya kaya, sehingga tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk mempertahankannya.

Karen merasa dihianati.

Karen merasa tidak ada seorangpun yang menyayanginya.

Dan terbesit pemikiran untuk mengakhiri hidupnya dengan konyol di atap sekolah pada jam istirahat makan siang. Katanya, ia hanya ingin tahu apakan kekasih brengseknya itu masih peduli padanya atau tidak.

Dia bodoh.

Terlampau bodoh.

Aku mencacinya, aku mengoloknya. Kupanggil dia otak dangkal, budak cinta, tidak tahu terimakasih pada orang tua, gila, tidak waras, mental bobrok.

Aku mentertawakannya, mendukungnya untuk mengakhiri hidupnya sebelum kuteriakkan pada kupingnya bahwa tuhan tidak menerima manusia bobrok pengemis cinta sepertinya dan tanpa disangka ia terdiam.

Tersenyum dan tiba-tiba mendekapku, membisikkan ribuan kali kata terimakasih. Meneteskan air mata kotornya di setelan mahalku, tapi pada saat itu akupun juga terdiam. Tergagu. Aku tidak menolak pelukan si gila itu, otakku berteriak menjijikkan tapi jiwaku menuntun kedua tanganku untuk berbalik merangkulnya.

Dan sejak saat itulah dia menjadi lebih terbuka. Menjadi lebih pemikir dan bijaksana. Hingga saat ini. Aku cukup bangga.

Omong-omong dia sudah cukup lama duduk ditempat itu. Bahkan sepertinya sudah lebih dari satu jam dia membacakan doa untukku. Disaat papaku sudah pulang karena anak bayi dari istri baru yang ia nikahi dua bulan yang lalu menangis kencang, mamaku yang tiba tiba pergi karena mendapat panggilan dari clientnya, teman-temanku yang datang hanya untuk mengambil gambar tentang acara hari ini, dan kekasihku yang terburu-buru pulang karena akan mengikuti tournament game.

Karen menutup buku berisi kumpulan doa yang sedari tadi ia baca. Dia menatap namaku dengan air mata yang berkaca-kaca. Kemudian melihatku. Benar-benar melihatku.

"Aku tahu daritadi kamu berdiri disana ya'." aku terkejut, tidak pernah menyangka dia memiliki kemampuan spesial seperti ini.

"Makasih, karena sudah bisa buat aku hidup dan berkembang jadi lebih baik seperti saat ini. Sampai-sampai aku nggak bisa balas budi ke kamu dan malah ketemu kamu disini, dalam kondisi seperti ini ya'. Maafin aku ya'." dia menintikkan air mata.

"Aku nggak tahu kalau masalahmu bisa seberat ini dan kamu masih bisa nyelamatin aku yang udah hampir nyerah karena masalah yang sepele." dia menunduk membaca namaku yang tertulis dihadapannya.

"Ya', walaupun kamu pernah bilang tuhan nggak nerima manusia yang udah menyerah sama hidupnya. Tapi aku bakalan berdoa terus dan mohon sama tuhan untuk nerima seseorang sehebat kamu."

"Sekali lagi, makasih ya', yang tenang dan bahagia ya disana." dia tersenyum aku membalas senyumannya.

Pembuktianku tidak berjalan lancar. Papa sudah sibuk dengan keluarga barunya sehingga tidak ingin mengingatku lebih lama, Mama sedang sibuk-sibuknya dengan perusahaannya karena perluasan wilayah marketing, kekasihku masih saja mementingkan smartphonenya dan teman-temanku hanya peduli pada snapchat dan snapgram tentang akhir dari kisah Keya.

Akhir ini tidak berjalan seperti yang aku inginkan walaupun ada Karen yang masih setia mendoakanku.

Sekarang aku takut.

Di dunia tidak diingat, di surga tidak diterima.

Hah~ seharusnya aku masih hidup saja.

_________________________________

kamu itu istimewa
kamu itu berharga
bahkan disaat kamu pikir tidak ada seorangpun yang mendukungmu
pasti ada satu orang yang merasa bahwa kamu berjasa besar bagi hidup mereka
keberadaanmu adalah hadiah terindah untuk mereka
jadi jangan lupa
cintai dirimu sendiri
sayangi dirimu sendiri
jangan merasa bahwa kamu itu tidak berguna
ada Tuhan juga yang selalu ada bersamamu
dan ingat,
Tuhan benci pada orang-orang yang tidak mau bersyukur
syukuri hidupmu saat ini
jangan melukai dirimu sendiri
#LoveYourself
#LoveMyself

big thanks from the deepest heart
i purple u
💜

-leint-

GeléStories to obsess over. Discover now