BAB 1

4 0 0
                                        

Masa remaja adalah masa peralihan diri dari anak-anak menuju dewasa, dan itulah yang sedang aku jalani saat ini

Namaku kayonna, aku juga merupakan seorang remaja berumur 15 tahun dan sedang menjalani masa remaja yang menjenuhkan,,,, tetapi itu dulu sebelum aku pindah sekolah untuk yang ke 5 kali-nya.

Aku pernah bertanya-tanya dalam diri, mengapa kita harus sekolah? Apakah ada gunanya? Menurutku sekolah atau tidak itu sama saja, kita sukses bukan ditentukan dari seberapa pintarnya diri kita, tetapi dari seberapa beradanya diri kita.

"sudah siap untuk bersekolah?" Tanya seorang dengan nada lembut,

"seperti biasanya mom" jawabku, selama diperjalanan ibuku selalu bilang 'bersikap ramah sama teman- teman baru disana, bersikap baik pada guru, dan yang paling terpenting jangan angkuh dan jangan merasa dirimu bisa melakukan segala hal-nya dengan sendiri...oke!' dan jawaban ku selalu sama seperti sebelum- sebelumnya "hmm,,, ya,, oke".

Sesampainya di sekolah aku bertemu dengan kepala sekolah, memperkenalkan diri dan dia mengatarkan ku menuju kelas baruku, sesi perkenalan pun tiba dengan nada cuek seperti biasanya aku bicara, aku memperkenalkan diriku di depan kelas. Saat itu aku duduk hanya seorang diri dan selama bersekolah aku hanya duduk dikelas, mendengarkan pelajaran, membaca buku, dan makan cemilan kecil di kelas. Disaat istirahat banyak sekali orang yang menjengkelkan dikelas, menggodaku dengan menanyakan hal-hal remeh yang mungkin sudah ribuan kali kudengar, dan ya.. tentu saja aku tidak meng-hiraukannya, biarkan saja semua-nya berjalan toh, aku selalu diam dan tak menjawab mereka karena itu aku menjuluki diriku sendiri sebagai "ikan di dalam laut".

Keesokan harinya disekolah, aku merasakan suasana yang aneh di kelas, suasana yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, suasana yang ceria,, kumenuju tempat dudukku yang kemarin dan kulihat tas berwarna biru ada disana,, selang beberapa saat muncul si pemilik, "oh ini kursimu ya? Maaf, soalnya aku selalu duduk sendiri, dan menaruh tas disebelahku, hmm sepertinya ku baru pertama kali melihatmu? Aku Devia, siapa namamu?" dengan nada yang tak ramah aku menjawab "kayonna" dia tersenyum ke arahku, dan aku hanya menatapnya bingung lalu aku duduk di tempatku, membuka buku yang akan ku baca, dia terus berdiri di depannku dan membuatku merasa tak nyaman, sontak aku bediri dan menatapnya dengan tatapan dengki, di tetap berdiri dan tersenyum di depanku, karena kesal ku katakan padanya "mau apa kau? Jangan menatapku seperti itu, itu tidak akan membuatku menjadi terhibur, dasar tak berguna!" seluruh seisi kelas melihatku, dan aku menatap sekelilingku, mereka terlihat kaget, seperti seolah-olah aku berbuat kesalahan yang cukup besar.

"apa hanya karena aku tersenyum kamu marah?" jawabnya, aku menatapnya penuh dengki, "YA!!" jawabku dengan tegas dan kembali duduk, di kejauhan ku dengar seseorang berkata "sudahlah Devia, jangan kau ganggu dia semakin kau mencobanya semakin dia akan terlihat seperti macan podium". Lalu semua hening sesaat dan kelas kembali riuh seperti biasanya. Sepulang sekolah, selama di perjalanan, aku terus memikirkan semua keadaan yang terjadi di sekolah tadi, dari kejadian di pagi hari, aku merasa diriku sangat kasar, apalagi saat istirahat tadi Devia mengajakku ke kantin namun aku menolaknya dengan menjawab "maaf ya, aku ga butuh rasa kasianmu, aku bukan orang yang bisa kamu pandang sebelah mata, aku bisa melakukannya seorang diri tanpa bantuan teman".

Sampai dirumah aku mengurung diri, aku terus memikirkan kejadian tadi, hatiku terasa sakit, aku merasa aku jahat, dan aku merasa ada yang aneh pada diriku yang membuatku menjadi kasar terhadap orang lain, tanpa sadar aku menangis, tidak tau apa yang kutangisi, ku mengingat kejadian kala itu, kala dimana aku memiliki banyak teman dan beberapa sahabat, tapi semuanya hilang, semuanya pergi, aku terus menangis tanpa tau harus bagaimana, hingga akhirnya aku tertidur lelap.

Malam hari saat aku sedang asik mendengarkan musik sambil membaca buku, muncul notifikasi, bahwa minggu depan akan ada kelas memasak berkelompok, guru menyuruh untuk membuat kelompok sendiri, aku mulai gelisah dan bingung, bagaimana jika aku tidak dapat kelompok? Bagaimana jika semua orang membenciku dan menyuruhku semau mereka? Aku mulai gelisah, sebab selama 3 tahun belakangan ini aku sudah tidak lagi memiliki teman. Karena jenuh Aku akhirnya keluar dari kamar , kulihat Ibu-ku masih terus bertelepon-nan dengan teman arkeolognya yang lain, ku keluar untuk mencari udara segar sambil menikmati coffe.

Malam hari berlalu begitu cepat, ku melangkahkan kaki-ku untuk berbernah diri dan berangkat sekolah "ugh.. rasanya aku sudah tak ingin pergi ke sana lagi". Gumamku. "ada yang salah honey?" ibuku bertanya "tidak ma, hanya saja aku merasa kurang bersemangat".

ibuku hanya memandangiku dan terus memberi semangat, aku hanya mendengarkannya, karena sesungguhnya aku benci dengan kata-kata ibukku yang terus menyemangatiku tanpa ada perubahan yang signifikan.

Ketika sampai dikelas semua orang seperti memandangiku (yang sebenarnya tidak, mungkin karena kejadian kemarin, sehingga aku merasa sebagai pusat perhatian) namun kuhiraukan, ku menuju tempat duduk-ku, dimejaku terlihat beberapa cemilan kecil dan minuman yang biasanya aku makan, cemilan itu di-ikat dengan pita sehingga terlihat lucu, aku bertanya-tanya siapa gerangan yang memberikan semua itu padaku padahal, aku merasa tidak pernah memiliki teman sekalipun selama bersekolah disini, kulihat ada sepucuk surat tersangkut diantara pita dan jajanan itu, karena penasaran, aku membaca surat itu .

hai.. kayonna, aku sania, senang berkenalan dengan mu ^o^ selama ini aku selalu melihatmu dari jauh, aku kagum dengan kepribadianmu yang kuat. Apalagi kau selalu mampu menyelesaikan segala hal-nya dengan sendirian, seperti yang kau katakana kala itu dengan Devia. Aku ingin sekali menjadi temanmu

Hubungi aku ya!, di nomor ini

081XXXXXXXXXXXX

Salam Sania ^o^

Aku tidak menghiraukan hal itu, aku terus menjalani hidup ku yang seperti biasanya. Namun sekarang berbeda, aku berupaya untuk mendekatkan diri pada Devia, hal ini ku lakukan agar aku memiliki kelompok dalam kelas memasak, dia-pun akhirnya merekrut-ku, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku hanya akan berteman bersama Devia dan kawan-kawannya sampai hanya dengan kelas memasak, namun rupanya janji itu telah kulanggar, aku merasa nyaman berteman dengan mereka dan aku selalu bersama-sama dengan mereka. Dan tidak kusangka aku terlena dan merasa hari- hariku sungguh sangat berwarna.

Liburan semester satu telah berakhir dan aku, sungguh tidak sabar untuk bersekolah lagi dan bertemu dengan teman-teman ku. Sesampainya dikelas, aku dibuat terkejut lagi dengan kejadian tahun lalu, yaitu sebuah surat yang menginginkan ku untuk menghubunginya, surat itu datang lagi bersama dengan makanan dan minuman yang biasanya aku makan, kubaca surat itu, isinya hampir sama, namun dia terus memintaku untuk menghubunginya. Hal ini terus berlanjut di setiap minggu dia selalu mengirimkan hal itu, dan ini surat yang terakhir kubaca yang dia kirimkan kepadaku

boleh-kah aku menjadi temanmu? Aku sungguh ingin memiliki teman seperti mu, kau orang yang baik dan tak pernah membeda-bedakan orang lain, hmm sepertinya jika aku menyuruhmu menelponku kau tidak akan mau, jadi.. sebaiknya aku akan mengajakmu bertemu di Caffe dekat sekolahmu? Bagaimana,, aku tunggu kamu disana ya ^o^

Salam Sania

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Feb 27, 2019 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Why should I?Donde viven las historias. Descúbrelo ahora