Aku mematut bayangan diriku di cermin. Malam ini aku akan menghadiri sebuah reuni yang diadakan teman-teman seangkatanku yang lokasinya di aula SMA kami yang dulu. Hitung-hitung bernostalgia katanya, meskipun maksudnya adalah menghemat anggaran penyewaan gedung.
Ku periksa sekali lagi riasan wajahku, make up natural dengan dipadu sebuah gaun berwarna cokelat pastel, membuat penampilanku terlihat casual. Aku menghembuskan nafas sekali lagi, lalu melangkah keluar menuju mobil berwarna merah yang sudah kusewa sore tadi.
Aku mengunci pintu rumah yang sebenarnya sudah kutinggalkan sejak tujuh tahun lalu. Berusaha menghalau segala kenangan yang pernah hadir di tempat ini. Tidak ! Aku kembali bukan untuk bermanja-manja dengan masa lalu. Tapi karena--ku pikir--aku cukup dewasa untuk mengetahui segala kenyataan yang ada tentang seseorang yang pernah mengisi hatiku, dulu.
Tentang laki-laki paling tampan yang pernah ku kenal, yang telah memutuskanku dengan kejamnya di depan teman-temanku.
Sebelum memajukan mobilku, aku kembali melihat sebuah rumah yang berada tepat di samping rumahku. Bangunannya sudah direnovasi dengan lebih modern dan minimalis. Ya, itu adalah rumah orang yang diam-diam ingin ku ketahui kabarnya.
Tapi otakku terus menyadarkanku, itu adalah kejadian tujuh tahun lalu. Bahkan aku sendiri tidak yakin dia masih mengingatku atau tidak.
Aku memejam dan mulai menekan pedal gas. Mobil merah ini melaju lambat menembus jalanan kota Wonogiri yang lengang. Jajaran pedagang kaki lima terlihat mengular di sekitar Alun-Alun Kota hingga Taman Selopadi. Mulai dari bubur kacang hijau, sate ayam, nasi goreng, sampai bajigur, semua ada.
Ah, aku sungguh merindukan kota kelahiranku ini.
Tak terasa lima belas menit berlalu, membawaku memasuki gerbang sekolah yang sudah terang dengan banyak kendaraan terparkir di sekitarnya. SMA 8. Aku sampai.
Aku berjalan memasuki gedung sekolah yang kini berubah menjadi gedung berbangunan megah bertingkat dua. Perpaduan cat krem dan oranye membuat tempat belajar ini semakin terlihat jumawa.
Brruuk !!
Karena mataku yang tidak fokus, aku berhasil menabrak seorang wanita dengan dandanan sedikit gotik. Rok pendek berbahan kulit berwarna hitam, dengan jaket kulit hitam yang lengannya digulung sampai siku.
"Maaf, ya.." aku mendongak memperhatikan wajahnya yang diterangi cahaya remang-remang.
"Risna ?" panggilku pada si gadis gotik tak percaya. Aku tidak menyangka akan bertemu salah satu sahabatku bahkan sebelum aku sampai di aula. Dia adalah gadis paling baik yang pernah ku kenal. Salah satu alasanku kembali ke kota ini untuk sekedar menghadiri reuni. Risna, teman sebangku ku kini sudah jauh berbeda.
"Risna, kamu ingat aku ?"
"Siapa kamu ?" aku tercekat mendengar pertanyaan sarkasnya. Mana mungkin dia tidak mengenaliku, sementara aku bisa langsung mengenalinya meskipun penampilannya bertolak belakang dengan dirinya saat SMA dulu.
"Aku Venus.."
"Untuk apa kamu ada disini ? Namamu tidak ada di daftar tamu undangan, Venus !"
Aku tidak percaya Risna mengatakan hal itu kepadaku, seolah dia orang yang paling tidak mengharapkan kehadiranku disini, "Tapi aku dapat undangannya." nadaku melemah, sungguh aku tidak mengerti mengapa dia bersikap begitu.
Apa salahku ?
"Kalau aku jadi kamu, aku akan pulang sekarang !" katanya langsung pergi.
"Apa aku punya salah kepadamu, Ris ?"
"Ya ! Kamu salah karena sudah datang kemari." setelah menyelesaikan kalimatnya, dia berjalan cepat dan menghilang di belokan.
Aku terlalu terkejut mendapat reaksi demikian kasar dari sahabat dekatku. Memang selama tujuh tahun ini kami tidak saling berkomunikasi. Tapi sebelum berangkat ke Jakarta hubungan kami masih baik-baik saja. Lalu dimana letak kesalahannya ? Apa dia marah karena aku tidak menghubunginya ?
YOU ARE READING
VENUS (One Shoot)
RomanceCerita Pendek. Saat aku memutuskan menghadiri reuni SMA, justru membuatku mengetahui rahasia besar masa lalu. Hal yang kukira terjadi karena takdir, ternyata sudah disetting.. Tapi semua sudah terjadi. Pilihannya hanya melupakan atau melanjutkan. D...
