"DHETTA!!"
Satu teriakan mampu membuat semua menutup kuping karena keberisikannya. Itu adalah suara Alenata Caroline sibadan mungil, namun jangan salah walaupun mungil ataupun kecil ia termasuk orang yang berani dan pintar juga pastinya.
"Masih pagi zheyeng, nggak usah teriak teriak gue juga denger."
Dan ini adalah gadis yang dipanggil tadi bernama Bernadhetta Gladea sikpopers akut, dingin, dan juga polos.
"Males ah sombong, mentang mentang libur sebulan jadi lupa sama gue, gue panggil berkali kali nggak nengok. Tunggu diteriakin dulu." kesal Ale yang mempunyai rambut pendek berponi.
Dhetta berinisiatif untuk merangkul temannya itu, agar tidak berisik dan mengganggu orang disekitarnya. Mereka berdua asik mengobrol di sepanjang lorong koridor untuk melepas rindu yang dirasa.
Sesampainya didalam kelas, mulut mereka terbuka takjub, bagaimana tidak, bulan lalu kelas tidak begitu bagus dan sekarang benar benar seperti ruangan rumah sakit bernuansa science.
"Akhirnya kelas gue cakep juga, bisa jadi spot poto dong, aye aye."
"Iya dong, diantara yang lain cuma kelas kita yang paling indah."
"Lebay!"
Itulah lontaran dari para murid murid dikelas, semua pun sangat tidak percaya dengan kelasnya. Baru saja dua insan ini ingin mendudukan bokongnya dibangku, tapi muncul dua insan lagi dengan suara tak kalah berisiknya.
"Hello Everyone!! Olif and Dania comeback!!"
"Omg, my class very very indah guys. Seriously?"
Mereka berdua adalah gadis tidak waras si ratu bucin tapi anehnya mengapa bisa masuk kedalam jurusan ipa, entahlah hanya tuhan yang tahu. Ia Olifia Ratnadila dan Dania Frizzy.
Bel masuk sudah dibunyikan, seluruh siswa dan siswi wajib mengikuti upacara bendera. Ale dan Dhetta segera memakai almamater osis lalu berbaris dibelakang murid sedangkan Olif dan Dania berlari mencari barisan kelasnya.
Salah satu osis mencatat nama yang telat dan akan dihukum selama dua jam, Dhetta tidak sengaja melihat nama seseorang didalam daftar buku osis. Matanya mengedarkan lapangan mencari seseorang, tetapi ada panggilan mendadak dari ketua osis, ia urungkan niatnya itu.
"Ada apa?" tanya Dhetta
"Tolong tangani murid yang di uks, dokter sama anak pmr belum ada yang dateng, bantu gue." jawab ketua osis.
"Oke, gue udah hapal kok obatnya." Dhetta memasuki ruangan 5 x 5 itu, membuka penghalang kain melihat siapa yang sakit. Ia kaget bukan main, tangannya menyentuh bahu orang itu berniat untuk membangunkan.
"Fahriel Addison," sekali panggilan tidak membuat cowok tertidur pulas menggerakan tubuh, masih dalam keadaan merem.
"Fahri, lo sakit apa?" panggilan kedua, cowok itu masih tertidur. Kali ini Dhetta nekat akan memanggil diluar dugaan, yakin.
"Sayang." panggilan terakhir mampu membuat cowok itu terbangun dari tidurnya, mengucek mata melihat sekitar dan bingung mengapa bisa didalam ruangan ini.
"Dhetta? Lo ngapain disini?"
"Nggak kebalik tuh, seharusnya gue yang nanya lo sakit apa dan bisa masuk uks, terus kenapa bisa telat?"
"Gue jawab yang mana dulu."
"Terserah."
"Jawabnya nanti deh, tolong bantu hilangin darah dibetis gue dulu nih. Sakit tau, masih pagi udah disemprot ocehan." Fahri mengubah posisi tidur menjadi duduk sambil menahan sakit disekitar kaki.
"Suruh siapa bikin gue khawatir." tukas Dhetta dengan nada kesal.
Mengambil kapas dan alkohol didalam kotak P3K dan tak lupa juga sebaskom air hangat untuk menghilangkan rasa nyeri lebam diwajah. Gadis ini dengan sangat telaten mebersihkan sisa kotoran diluka betis Fahri. Fahri tersenyum sangat kecil.
Tidak lama kemudian dokter yang biasa menangani pasien datang juga. Langsung memeriksa Fahri lebih lanjut, Dhetta keluar dari ruangan karena tugasnya sudah selesai. Ketua osis berterima kasih kepada gadis ini karena mau membantu.
"Udah kewajiban gue, ganti posisi disaat lo ngga ada." jawab Dhetta tersenyum.
"Gitu dong, baru namanya wakil ketua osis yang bertanggung jawab, Bernadhetta Gladea is the best." Adrian—nama ketua osis, mengacungkan kedua jempol sambil menggoyangkan kedua pinggulnya. Dhetta yang melihat hanya bisa tertawa, kelakuan ketua osis memang suka absurd.
KAMU SEDANG MEMBACA
Complicated
Teen Fiction"Memang benar adanya satu kesalahan bisa menutup seribu kebaikan." Fahriel Addison. "Sekali gue benci dengan orang itu, gue akan benci seterusnya." Bernadhetta Gladea. ©starlightjee
