PROLOG

516 36 2
                                        


London,10 oktober

Pria itu tersenyum saat memperhatikan anak kecil disampingnya melahap pizza yang ia bawa dengan lahap.

"Aniki,lain kali bawa pizza yang lebih banyak ya?!"

Pria itu menganggu kecil.

Anak itu mengangguk gembira. Kemudian tersentak kecil saat mangingat sesuatu.
"Oh ya, nanti malam Naru ulang tahun. Apa Aniki mau hadir ke acara ulang tahun Naru?"

Ucapan penuh semangat itu membuat senyuman si pria berubah menjadi kekehan kecil apalagi saat mata biru di depannya terlihat berkilau karena gembira.

"Tentu saja, jika kau suka."

Anak itu bangkit dari tempat duduknya dikursi itu lalu melonjak kecil "yei!"

Anak itu melahap potongan pizza terakhirnya." Naru akan menunggu aniki nanti malam. Awas saja jika aniki tidak datang!"

Anak itu mulai melangkah pergi setelah melemparkan lambaian tangan pada si pria yang menatapnya intens "ingat aniki, Naru akan marah jika aniki tidak datang!"

Si pria masih menatap intens punggung si pirang yang meninggalkan taman. Seringai kecil menghiasi bibirnya.

"Tentu saja aku akan datang."

***
Air mata membasahi pipi bocah itu. Malam ini seharusnya adalah malam bahagia untuknya. Tapi keadaan berkata lain.

Anak itu menutup mulutnya rapat saat melihat rambut merah ibunya dijambak kasar oleh seorang pria besar berambut sewarna besi. Sayatan dalam terlihat dalam pada lengan mulus milik ibunya. Ibunya menangis dan terlihat tegar walau wajahnya kesakitan.

Anak itu menggigit bibir. Ia tahu tidak ada yang bisa membantunya saat ini. Pintu lemari tempat ia bersembunyi ini adalah tempat paling aman di rumah besar yang ia tinggali bersama keluarganya selama ini. Anak itu terisak tanpa suara. Ia masih ingat bagaimana orang-orang yang menghadiri acara ulang tahunnya tewas dengan kepala berlubang. Termasuk ayahnya. Sekarang yang tersisa hanya ia dan ibunya yang saat ini sedang sekarat ditangan pria besar itu.

"Di mana anak itu?"

Anak itu gemetar. Pertanyaan itu membuat tubuhnya semakin lemas. Ia tahu maksud dari semua orang-orang jahat itu lakukan. Mereka mencarinya.

"Bunuh aku." mata anak itu terbelalak saat mendengar suara sang ibu.

Anak itu menggenggam pegangan pintu dengan erat. Ia berniat keluar dan menyerahkan diri. Nyawa ibunya jauh lebih penting.

Tapi niatnya urung saat melihat sang ibu menggeleng dengan gerakan lemah. Wanita cantik itu tersenyum kecil. Mengisyaratkan sang anak untuk tetap bersembunyi. Anak itu menangis tanpa suara.

Mata sang anak melebar saat melihat sebuah pisau besar tertancap di dada sang ibu. Anak itu merasakan dadanya seperti di remas. Ia sangat kesakitan. Ayahnya mati dan sekarang ibunya ikut menyusul. Anak itu menatap nanar tubuh tidak bernyawa ibunya. Bahkan saat matipun ibunya terlihat tenang dengan senyum kecil menghiasi wajah pucatnya.

Mati itu..sepertinya tidak sakit

Luka sayatan itu sepertinya juga tidak sakit

Sakit itu seperti apa? Apa seperti yang ia rasakan dalam dadanya?

Ibu.. Naru juga ingin

Pikiran anak itu tiba-tiba kosong. Dengan gerakan cepat anak itu keluar dari lemari yang menjadi tempat persembunyian tadi lalu melesat ke arah balkon kamar itu. Sekilas ia dapat melihat pria yang membunuh ibunya terkejut dan bergerak mengejarnya.

Tapi tubuhnya lebih lincah. Saat akan tiba dibalkon,dia memejamkan matanya lalu menerjunkan diri dari lantai tiga tempat sebelumnya ia berpijak. Ia dapat merasakan tubuhnya melayang sebentar lalu suara benturan yang sangat keras terdengar di telinganya lalu semua hening. Ia tidak dapat mendengar apapun. semua sunyi.

Anak itu membuka mata. Tubuhnya terasa remuk dan leher serta kakinya tidak bisa ia gerakkan. Anak itu menangis.
Ia tahu ia belum mati. Dari tempatnya ia dapat melihat pria yang membunuh ibunya menjulurkan tubuh dengan panik dan menatapnya.

Anak itu tiba-tiba merasakan cairan kental yang amis memaksa untuk keluar dari mulutnya. Anak itu terbatuk dan darah menyembur sangat banyak dari mulutnya. Sesaat matanya berputar lalu semua..gelap.

Sebelum kesadarannya menghilang, anak itu berharap saat ia terbangun ia akan mendapati dirinya bertemu dengan ayah dan ibunya waalupun itu artinya ia sudah mati.

Harapan kecil yang ia harap dapat terwujud..

Tapi..apakah tuhan bersedia mewujudkan harapan kecil itu?

***






Selingan cerita sebelah..

LOVE SICK AND THE VICTIMStories to obsess over. Discover now