Langkah ku semakin nyata. Mata ku tak henti-hentinya menatap rok biru selutut. Terlihat manis. Senyuman kebanggaan terus terpancar dari kedua sudut bibirku. Tak terasa, ternyata anak kecil ini sudah memasuki fase remaja. Kata ibu, "Anak ibu sudah mulai perawan." Aku, tersenyum malu mendengarnya. Kata ayah, "Boneka lucu ayah sudah mulai besar." Ada semburat raut sedih di wajahnya. Kata abang, "Jangan genit-genit."
Bukan hanya aku saja, ratusan siswa-siswi peserta didik baru sudah stand by di depan gerbang. Padahal waktu masih menunjuk angka 6. Mungkin karena awal masuk semua ingin mencetak memori baik. 'Anak baru teladan'. Ada teman-teman SD ku yang juga masuk di sekolah ini. Karena memang letaknya tidak jauh dari rumah. Aku menghampiri mereka.
"Hai! Udah kumpul?"
"Iyanih. Tapi belum boleh masuk." Sahut Ayu sambil mengelap keringat di dahinya.
Mataku celingak-celinguk mengamati sekitar. Di dalam, banyak juga kakak kelas yang sudah datang. Mereka memandangi kami yang akan menjadi calon adik kelas mereka. Entah dari lantai satu, dua, sampai tiga. Seperti sedang menonton sirkus saja. Tak lama, seorang pria sebaya dengan perut buncit dan kepala botaknya yang khas datang.
"Ayo silakan masuk semuanya." Perintahnya.
Aku memilih jalan terakhir. Malas berdesakan. Setelah tersisa hanya aku, langkah ku percepat. Suasananya berbeda. Gedung bercat hijau yang di depan koridor sudah ada lemari untuk piala. Tempelan mading yang lucu khas anak SMP. Sepertinya, gurunya pun tak kalah menyenangkan.
Semoga saja.
****
Istirahat pertama dimulai. Karena murid baru, aku memilih untuk tidak ke kantin. Kebiasaan ibu sejak aku TK membawakan bekal sekolah. Katanya, "Biar gak repot ngantri jajan." Benar juga. Harus berdesakan hanya untuk membeli air. Aku sekelas dengan Intan. Teman SD ku dulu.
"Intan mau gak? Aku bawa banyak." Aku menawarinya. "Emm... boleh. Sosis aja." Aku memberi satu sosis untuknya.
Untuk saat ini, aku belum mendapat teman. Hanya berkenalan dengan teman di samping, depan, dan belakang saja. Itupun mereka yang mengajak berkenalan. Sifat ku yang sukar bergaul memang sulit dihilangkan.
"Hai!" di tengah asyiknya menyantap makanan, seorang perempuan menghampiri meja kami. "Hai juga." Sahutku berusaha ramah. "Boleh kenalan? Aku Airin duduk di seberang meja kamu." Ia mengulurkan tangan. "Aku Kanaya." Tanganku balas mengulurkan.
Ada perasaan senang akhirnya aku mendapat tambahan teman. Dan berhasil untuk bersikap ramah. Kami berbincang seru tentang kisah semasa SD yang unik-unik. Sekarang, aku tahu tidak semua orang menyebalkan seperti Raka.
****
Malam semakin gelap. Bintang semakin memancarkan pijaran terangnya. Di luar tidak hujan. Sedih, karena tidak mendengar rintikan hujan. Tapi, aku senang juga bisa melihat bintang. Buku saku bersampul pink masih ku coret dengan tinta. Sudah menjadi kewajiban untuk mengisinya. Setiap hari, bahkan setiap saat. Kepribadianku yang tertutup dengan orang lain, membuat ku sukar bercerita. Terkecuali, dengan ayah, ibu, abang, dan ...
"Halo Kanayaa..." kepalaku menoleh ke belakang. "Om!!" aku berlari dan memeluknya. Setelah 3 hari ia ke Bandung karena pekerjaan. "Sudah SMP saja masih seperti bayi kecil." Katanya sambil tertawa. "Kanaya rindu, 3 hari gak cerita sama om." Kata ku dengan ekspresi sedih. Ia tertawa mengacak rambutku. "Jadi, gimana hari pertamanya? Senang? Ada cerita baru?" ia menatap buku saku ku.
"Wah! Sepertinya om datang tepat waktu! Cerita baru pasti asyik." Ia paham ternyata.
Tanpa berlama mendengar celotehannya, aku mulai bercerita. Bagaimana aku berangkat bersama abang. Bagaimana aku senang melihat rok biru ku. bagaimana perasaan ku menginjak kaki pintu gerbang baru. Bagaimana aku berkenalan dengan sukses dan punya teman baru. Om mendengarnya dengan serius. Seolah cerita ku ini memang sangat penting. Om bertepuk tangan.
"Kanaya itu anak baik. Hanya saja, belum bisa beradaptasi dengan hal baru. Nanti kenalkan teman mu sama om ya." Aku mengangguk semangat.
Hal yang paling ku suka darinya, ia seperti ayah. Siap menerima ceritaku panjang lebar walau sedang kelelahan. Mendengarkan ceritaku dengan seksama seperti menonton sebuah berita. Dan bertepuk tangan jika menurutnya aku hebat.
"Sekarang sudah malam. Besok hari kedua Kanaya masuk SMP. Ayo tidur!"
Selamat tidur bumi!
****
YOU ARE READING
Samudera
Teen FictionTentang kebahagiaan yang cepat menghilang. Tentang rasa syukur yang kadang terlewatkan. Tentang bagaimana menghargai waktu. tentang bagaimana cara tersenyum. Tentang bagaimana caranya ikhlas. Aku. Selamat masuk ke dunia ku.
