Bab 0

13 0 0
                                        

// F O R F E I T //

Forfeit; kehilangan.

“Kehilangan lagi, lagi dan lagi.”

PROLOG

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

PROLOG


"Tidak mengingat apapun?" Barangkali, wanita paruh baya yang sedang duduk dihadapanku ini bukanlah seorang psikiater, melainkan adalah monster.

Pikiranku kemana mana. Bukannya tenang dan hening yang aku dapatkan, ia malah terus terusan menghujaniku dengan pertanyaan yang sama—masih seperti minggu kemarin. "Ini sudah minggu ketiga kau ada disini, dan yang aku dapatkan darimu adalah—nihil," Titahnya lagi dan lagi. Membuat perutku semakin bergolak mual menciumi aroma jasmine yang busuk ini.

Netraku masih menunduk. Hidungku mencoba berkali kali membuang aroma jasmine yang memuakkan itu. Aku tidak butuh psikiater—harusnya, tapi ibuku tidak percaya kalau aku ini sehat. Dia selalu menganggapku gila. Pikiranku mendadak melayang entah kemana saat lagi lagi wanita dihadapanku ini menyentak. "Satu saja hal kecil, tidak ada?" Tanyanya.

"Aku tidak mengerti kenapa kau memaksaku untuk mengingat semua kenangan semasa kecilku—tapi percayalah, aku benar benar tidak ingat." Protesku dengan panjang lebar. Hingga kepalaku berasap pun aku tidak akan pernah bisa mengingat hal yang lenyap itu.

Ia menghela napas kesal. "Kau harus cari psikiater lain," Ucapnya.

Dahiku berkerut heran. "Kenapa aku harus cari psikiater? Aku ini baik baik saja."

"Ibumu ingin kau mengingat kenangan masa kecilmu, nona. Namun kenapa kau sama sekali tak mengingat itu semua? Sepertinya itu bukan amnesia,"

Aku menunduk. Menatap sepasang sepatuku. Menahan mualnya perutku hanya karena aroma jasmine. Aku menetralisirkan udara dan bersiap siap memberi sebuah kejutan untuk wanita paruh baya dihadapanku.

"Aku tidak amnesia, alasanku tidak bisa mengingat semuanya adalah— karena aku sudah mati," []

ForfeitStories to obsess over. Discover now