Nama [Prolog]

68 27 15
                                        

Ketika sang surya mulai meninggi dan membentangkan sinarnya keseluruh cakrawala, ia melepas seragam putih abu-abunya dengan baju khas. Baju yang biasanya digunakan oleh tukang parkir, sekarang ia kenakan. Bukan sekali dua kali tapi sudah satu minggu terakhir ia melakukannya. Keringat yang mencucur dari  pori-pori keningnya menandakan hari itu sangat panas, perlahan ia menyekanya dengan handuk kecil yang berada dipundaknya. Satu demi satu, seribu dua ribu ia kumpulkan hasil parkir hari ini.

Tak terasa hari mulai gelap, sang surya perlahan tenggelan di ufuk barat dengan semburat warna jingga yang menenangkan. Senyum kecil tergambar diwajahnya. Kulit putihnya yang tak kunjung hitam, rambut hitam yang tak kunjung memerah, badan tinggi semampai. Menjadi bayangan dalam senja sore itu.

"Assalamualaikum"

"Waalaikumussalam, Aksa kamu sudah pulang nak?"

Begitulah sambutan hangat dari seorang ibu kepada anaknya. Aksara Arif Zaidan nama laki-laki itu.
"Sudah Mak" Aksa mencium tangan mamak yang masih berbau terasi. Dan meletakkan lembaran uang diatas meja.

Diketahui sudah satu minggu terakhir atmosfer dalam rumah Aksa terasa berbeda lebih sunyi dan sepi, karena Abahnya yang sedang terbaring lemas di dalam kamar karena hipertensi . Penghasilan utama hanya berasl dari Mamak yang bekerja sebagai penjual kue dan buruh cuci baju tetangga. Sedangkan Aksa, mencoba membantu mendokrak ekonomi keluarga yang sedang tidak stabil dengan menjadi tukang parkir di toko dekat rumahnya.

✨✨✨

Dini hari, ketika panggilan Illahi memanggil. Aksa terbangun dari mimpinya malam itu. Melawan dinginnya udara, dan kantuk yang masih menggelayut di ujung matanya.

"Mak Aksa ke masjid dulu, Assalamualaikum"

begitu katanya, hingga punggungnya tak terlihat lagi dari balik pintu.

Seragam putih abu-abu sudah dikenakan rapih, sarapan tempe dan tahu sudah ia lahap. Dengan sepeda dan helmnya ia berangkat menuju sekolah kebanggaannya. Sekolah Menengah Atas Bina Satya. Senyum yang selalu terpancar di pagi hari membuat para "cewe"
pada klepek-klepek. Parkiran berjajar rapih. Penuh dengan sepeda motor mulai dari motor antik hingga motor gede berjajar. Hanya sepeda kayuh milik Aksa dan temennya bernama Ade yang terparkir paling pojok.

Ruang kelas XII IPA 1 telah menanti di ujung gedung sekolah ini. Kakinya terus melangkah hingga membawanya kedalam kelas dan duduk di pojok kelas XII IPA 1.

"Eh gua kemarin liat Aksa loh" begitu seru Sila.

"Masa, diamana? Jangan bilang dia jadi tukang parkir lagi?" Sahut Atha.

"Yailah, pagi-pagi udah ngomongin gua. Emang ya fans gua ada dimana-mana. Nggak papa kali, kalo selama itu halal kenpa enggak. Buset dasar cewe" sahut Aksa yang berada di ujung kelas sembari meletakkan tas hitamnya.

✨✨✨

Ponsel yang berada dalam saku Aksa bergetar sebanyak tiga kali, dilihatnya. "3 panggilan tak terjawab - Rian" . Pikir Aksa jika Rian menelfon berarti ada suatu yang penting, yang menghasilkan uang. Tak lama Aksa menerima sebuah pesan singkat.

Aksara | ✔️Opowiadania do pokochania. Odkryj je teraz