1

20 3 3
                                        

Seorang gadis cantik terlihat sibuk mencari sesuatu di dalam laci. kakinya sibuk berjalan kesana kemari. Tangan nya sibuk membuka salah satu laci yang berada di depannya. Sedangkan otak nya sibuk untuk berpikir.

Gladis----Seseorang menatap jengah pada temannya yang satu ini. Pasalnya ini sudah hampir 1 jam dan teman nya masih saja sibuk entah mencari apa dia tidak tau.

"Lo nyari apaan sih breyla" tanya Gladis dengan nada kesal.

"Nyari barang" jawab Brylea seadanya.
Teman nya ini memang dari awal sudah membuat Gladis ingin langsung adu jotos tanpa basa basi. Tapi Gladis ya Gladis mana mungkin dia melakukan hal bodoh itu.

"Ya barang nya barang apa dulu?" Ucap Gladis sedikit tenang.

"Ribet lo ah nanya mulu" Brylea setan! Kali ini Gladis sudah tidak tahan ia sedikit menaikkan sebelah lengan baju nya menjadi lebih pendek
"Lo yang ribet! Ini udah hampir satu jam dan Lo masih mondar mandir gak jelas" ucap Gladis tak kalah kesal.

Brylea yang mendengar suara Gladis yang mulai meninggi segera mengalihkan pandangan nya.

"Gue lagi nyari pulpen, tadi gue naro di laci tapi ko tiba-tiba gak ada ya"

"Lo inget inget lagi tadi naro nya dimana? Lagian buat apaan sih?" tanya Gladis, kini suara nya sedikit mulai lembut kembali.

"Gue inget tadi naro disini. Apa jangan jangan lo yang ngambil pulpen gue? Atau Lo umpetin gitu dis?"

"Tuduhan macam apa lagi ini yatuhan, tolong tenangkan hati hambamu yang satu ini" batin Gladis

"Sialan emang Lo, dari tadi gue diem aja. Lagian kenapa gak beli aja sih kan di potocopy an depan rumah lu juga ada, apa perlu gue beliin sama toko toko nya?"

"Diem lo itu bikin gue curiga"
"Coba lu berdiri pasti lo umpetin kan?" Gladis yang mendengar ucapan Brylea segera berdiri. Matanya melotot. Jantung nya berdetak 10kali lipat. Dan kini seluruh badan nya mulai bergidik ngeri, saat ini dia tidak mampu melihat tatapan tajam Brylea. Dia tidak tau ternyata pulpen nya memang ia duduki, lagian kenapa pantat nya tidak terasa apapun?

"Lo emang cari mati dis. Gue capek tau nyari kesana kesini"

"ah anu... Gue seriusan gak tau, suer dah" Gladis sangat gugup. Kenapa dia harus seperti ini? Padahal ini bukan apa apa.

Brylea yang mendengarnya hanya mampu menghela napas kasar.

"Gue minta maaf, gue gak tau kalo ternyata pulpen lo ada di pantat gue, ah ralat maksud gue gatau kalo pulpen Lo gue duduki"

Jujur ekspresi Gladis saat ini sangat lucu seperti orang yang sedang tertangkap basah oleh tetangga.

"maaf lo gue terima" ucapan Brylea mampu membuat Gladis tersenyum senang saat ini. Sebenernya tanpa minta maaf pun Brylea tidak akan marah.

Ah memang Brylea yang terbaik. Pikir gadis saat ini.

"BTW, lu emang buat apaan sih pulpen nya? Tadi gue nanya di kacangin"

"ah ini" Brylea menatap nanar pulpen yang ia pegang "mau gue buang soalnya ini tintanya udah abis, Lo bisa liat sendiri kan?" tanya Brylea dengan menyodorkan pulpen nya pada Gladis.

"Brylea bukan yang terbaik yaallah, tolong cabut kata kata Gladis tadi" batin Gladis kemudian.

"setan emang Lo bryl!" umpat Gladis. Brylea yang mendengar nya hanya menaikkan bahu nya acuh. Dia tidak perduli dengan umpatan bodoh itu.

Gladis yang mendapatkan perlakuan seperti itu tidak terima begitu saja. Dia menjatuhkan tubuhnya diatas kasur. Dan melemparkan sebuah bantal pada Brylea. Saat ini kemarahan nya sudah berada di ujung tanduk. Dan bodoh nya ini karena sebuah pulpen sialan dan Brylea yang laknat.

"Sakit bego!" umpat Brylea yang mendapatkan sebuah bantal pada kepalanya. Gladis yang mendengarnya terkekeh senang.

"Oh iya bryl. Lo kenal Devano?" tanya Gladis tiba tiba.

Brylea yang sedang sibuk pada pulpen nya menatap wajah gladis sejenak.

"Devano?" Brylea nampak sedikit berpikir, ingat hanya sedikit dan tidak banyak. Ia sering mendengar nama itu namun sangat di sayangkan otak nya saat ini sedang tidak bersahabat.

"Iya"

"Gak kenal" jawab Brylea santai.

"masa lo gak kenal sih. Itu loh kakak kelas yang paling cakep di sekolah kita"

"Gak ada yang lebih cakep dari papah gue" jawab Brylea. Kini pandangan nya fokus pada si buah hati.

Gladis yang melihat nya segera mengambil ponsel Brylea "dengerin gue dulu, kata nya yang gue denger ka devano balik lagi ke sekolah kita setelah 3 bulan belajar di Amerika, ah gue seneng banget"

Seperti yang Brylea liat kini Gladis sedang tersenyum tidak jelas seperti SPESIES VERSI GILA.

"hmm"
"Gue gak perduli! sini balikin ponsel gue!"

Gladis segera mengembalikan ponsel Brylea dengan muka melasnya.

"Lo seriusan gak tau bryl?" tanya Gladis memastikan. Kali ini dia sangat tidak puas dengan jawaban Brylea.

Brylea hanya menggelengkan kepalanya.

"Kalo gitu, Lo pasti kenal Dimas dong?"

"Tadi devano sekarang dimas, Lo ngapain nanyain mereka semua sama gue?" nampak nya Brylea mulai kesal. Pasalnya dia tidak tau mereka semua itu siapa. Anak raja kah? Anak presiden? Jangan jangan anak tawon? - Mengerikan-

"ya gue pengen nanya aja. Lo kenal Dimas? Dimas purnama" sebenernya Gladis hanya mengetes Brylea. Dia tau pasti Brylea mengenal nya, karena Dimas itu ketua kelas di kelas kami, dan dia juga duduk tepat di depan kursi Brylea dan Gladis.

"hmm gue pernah denger tapi gue gak tau dan gak mau tau" Gladis yang mendengar nya benar benar terkejut.

"BRYLEA SAKIT JIWA" Pikirnya.

TENGKYU BANGET HUHU INI CERITA PERTAMA GUE JANGAN LUPA VOTE.❤👯

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 05, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

SENIORWhere stories live. Discover now