《 21+ 》Banyak mengandung unsur kekerasan serta adegan panas. Harap bijak dalam memilih bacaan.
(Novel ini Hiatus untuk sementara)
~~~
Malam selalu mencatat jejak darahnya.
Di lorong-lorong sempit, di jalanan yang diterangi lampu temaram, nama Steven...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
☠☠☠
“Bow Down!”
Suara berat itu menggetarkan udara, khas serak seorang lelaki bermata hazel. Tubuhnya gagah, otot bahunya tegang di bawah jaket hitam, keningnya terikat bandana, dan di kedua tangannya tergenggam revolver legendaris yang berkilat memantulkan lampu jalan yang temaram.
Di hadapannya, seorang lelaki yang sudah babak belur jatuh tersungkur. Darah segar menetes dari bibirnya, menuruni dagu, menodai tanah. Dengan ibu jarinya, ia menyeka darah itu, namun hanya meninggalkan noda merah yang makin memperlihatkan koyakan di sudut bibir.
“Tahan dulu…” suara pemimpin itu tenang namun penuh kuasa. Tangannya memberi isyarat pada kawanan yang siap membunuh. “Bagian mana kau?” tanyanya, sembari memutar revolver di kedua tangannya dengan gerakan santai tapi mengancam, seperti seorang algojo yang bermain dengan waktu kematian.
Lelaki itu terbatuk keras, darah muncrat dari mulutnya.
Paru-parunya seakan berlubang, napasnya berderit seperti mesin tua. Wajahnya lebam parah, kelopak mata hampir menutup karena pukulan keras yang berulang-ulang.
“Jawab!” raung si pemimpin, lututnya menekuk, menurunkan tubuh hingga wajahnya hanya sejengkal dari lelaki yang hampir tak berdaya itu. Tatapannya tajam, menusuk, bagai mata predator yang menunggu detik terakhir mangsanya.
Dengan suara tercekat, di sela batuk dan darah, lelaki itu memaksa melontarkan kata, “Cartel… De… Sinaloa…”
Hening seketika. Kata itu seperti petir yang menyambar malam.
Si pemimpin berdiri perlahan. Bahunya terguncang, lalu terdengar tawa berat yang bergema di gang sempit itu.
Tawa itu bukan tawa bahagia, tawa itu bagaikan suara iblis yang baru saja mendengar kabar perang.
Kawanan di belakangnya ikut tertawa, meski dengan nada getir, karena mereka tahu nama itu bukan sekadar nama. Itu adalah lonceng perang.
“Rupanya mereka tak pernah mau tenang, ya…” gumam si pemimpin, suaranya rendah, penuh ejekan.
Ia meraih rambut lelaki itu dengan kasar, menarik kepala penuh luka itu hingga terangkat, wajahnya dipaksa menengadah. Lelaki itu meringis, matanya memohon. Tapi belas kasih tidak ada di tempat ini.
Namun sebelum tangan sang pemimpin sempat melumat wajahnya lagi, salah satu kawanan dengan cepat mendorong tubuh korban itu hingga jatuh tersungkur. Kakinya diinjak keras, kepala lelaki itu dipaksa menempel di tanah, supaya tidak bisa bangkit lagi.
Semua mata memandang ke arah pemimpin. Hanya isyarat darinya yang akan menentukan hidup atau mati.
Ia mengangguk pelan. Sederhana, singkat, namun penuh arti.
Detik berikutnya,
DOR! DOR! DOR!
Tembakan demi tembakan meledak, memecah malam. Peluru menghujani tubuh lelaki malang itu. Setiap letusan adalah irama kematian.
Dagingnya koyak, tulangnya retak, tubuhnya tergetar sebelum akhirnya terhuyung diam. Darah menyembur, menodai dinding dan aspal. Tak ada lagi wujud manusia di sana yang tersisa hanyalah bangkai yang tak berbentuk.
Pemimpin itu membuang pandang. Seakan yang baru saja terjadi hanyalah rutinitas. Ia merogoh sesuatu dari balik jaketnya. Sebuah kantung kulit kecil berisi uang dilemparkan begitu saja ke salah satu kawanan. “Ambil ini.”
Tangannya kemudian masuk ke saku celana, menarik lintingan marijuana. Api korek menyala, asap putih mengepul dari bibirnya yang tersungging senyum tipis.
“Tinggalkan saja mayatnya,” katanya datar, seolah memutuskan nasib hanyalah hal sepele. “Biarkan anjing-anjing liar berpesta malam ini.”
Ia berbalik, melangkah santai. Jejak sepatunya meninggalkan noda darah di tanah, seakan menulis tanda kepemilikan. Kawanan di belakangnya mengikuti, membiarkan tubuh tak bernyawa itu membusuk di kegelapan.
Langkah demi langkah, asap ganja mengepul di udara. Mata hazelnya menajam, menatap kosong ke kegelapan yang lebih pekat dari malam. Bibirnya melontarkan satu kalimat dingin, penuh tekad berdarah.
“Cartel De Sinaloa…” ia tersenyum miring, tangannya mengepal kuat. Tatapannya menusuk seakan bisa membunuh tanpa senjata.
“Cari tahu tentang mereka. Dan bunuh siapa pun yang beraliansi dengan mereka.”
Kata-kata itu bukan perintah biasa. Itu adalah deklarasi perang. Dan malam ini, sejak detik itu, menjadi lebih gelap dari sebelumnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.