🐣➡️🐥

952 101 43
                                        

Ini, pembukanya ?
Pls gimme vote dan komennya 💛💛

.

.

Jisung mengerjapkan matanya beberapa kali sementara tangannya sibuk meraba bagian kasurnya, mencari ponselnya yang sudah nyaris semenit ini terus berdering, kepalanya terasa berdenyut, sisa air mata masih ada di pipinya, dan untuk sesaat ia menyesali keputusannya untuk tetap meminum Soju semalam, karena ini benar-benar bukan kombinasi yang baik.

Ujung jarinya akhirnya merasakan keberadaan ponselnya, meraih benda persegi panjang itu, tanpa melihat siapa yang menghubunginya, Jisung segera saja menempelkan ponselnya di telinga sementara sisi telinganya yang lain, masih bersentuhan dengan bantalnya.

"Hyung! Jisung Hyung ?!"

Suara Jihoon menyapanya dengan ribut, membuat Jisung mau tak mau, bangun dari tidurnya, lalu menyandarkan kepalanya yang masih berdenyut ke ujung ranjang.

"Hmm ? Ada apa Jihoon-ah ?"

"Semalam, setelah aku pulang, apakah Guanlinnie menangis lagi ? Jam berapa dia pulang ? Apakah dia bertahan sampai akhir ? Aku sudah menghubungi Seongwoo hyung, hyung bilang dia juga pulang duluan dan hyungie adalah yang terakhir, hyung apa—"

"Yak! Yak! Satu-satu Jihoon-ah," Jisung memijat pelipisnya, menyipitkan matanya untuk melihat jam berapa sekarang, dan ternyata sudah nyaris sore "..apa yang terjadi ? Apakah sesuatu terjadi ? Pada Guanlin ?"

Jisung menggigit bibirnya, penasaran juga khawatir, lebih-lebih setelahnya terdengar hela nafas Jihoon diujung sana.

"Hoon ?"

"Guanlin sudah ada di Bandara tadi siang, foto-fotonya sudah banyak dan—"

"Dan ?"

"Dia menggunakan kacamata hitam sejak turun mobil, tapi ada satu foto ketika ia melepas kacamatanya, dan—dan matanya bengkak hyung, merah dan sembab.." Jihoon lagi-lagi menjeda, "Aku sudah mengiriminya pesan tapi belum dibaca juga sampai sekarang, jadi aku menelpon Seongwoo hyung, dan dia bilang, Guanlin baik-baik saja saat ia pulang..dan hyung adalah orang yang pulang terakhir.."

Gantian Jisung yang menghela nafasnya kali ini, "Hyung mengantarkan Guanlin sampai ke pintu mobilnya, Hoon. Dia baik-baik saja. Karena hyung tahu hari ini dia harus segera terbang ke Mauritius, makanya hyung dan Daniel memaksanya untuk pulang semalam. Hyung punya nomor manager hyung-nya Guanlin, hyung coba cari tahu dulu, oke ?"

"Okee.." Jihoon menyahutinya segera, Jisung bahkan seolah dapat melihat Jihoon sedang menganggukkan kepalanya bebeberapa kali. "Kabari aku dan Seongwoo hyung, ya hyung ? Sepertinya aku membuatnya panik juga..hehehe.."

Jisung ikut tertawa mendengarnya, bisa membayangkan wajah cemas Seongwoo yang secara terang-terangan sudah mengadopsi Guanlin sebagai anak laki-lakinya.

Jihoon segera memutuskan telponnya setelah memaksa Jisung untuk segera meminum aspirin, ketika Jisung keceplosan mengaku bahwa kepalanya pusing sekarang dan well—tentu saja, sekarang Jisung tidak langsung melakukan hal itu tapi memilih untuk menyecroll layar ponselnya, mencari foto Guanlin yang dimaksud oleh Jihoon.

Oh.., Jisung melihat fotonya dan hanya bisa menatapnya pias, ingatannya berkerja ekstra, tentang apa yang terjadi tadi malam. Guanlin akhirnya menangis tentu saja, meski tetap tidak sebanyak yang lain, tapi akhirnya anak itu menangis juga, meski setelahnya ia kembali jadi Guanlin si maknae yang menguatkan setiap hyung-nya.

Memeluk Jinyoung dan Daehwi bergantian, berusaha membuat Woojin tertawa, dan menempel pada Minhyun.

Atau,

Re : GuanlinWhere stories live. Discover now