Tinn tinnnn.
Keadaan jalanan di sekitar SMA ini memang sedang padat-padatnya,karena sekarang adalah jam-jam sibuk. Semua orang takut terlambat melakukan aktivitasnya.
Tinn tinn tinnn
"Aduh sabar dulu dong,macet nih"oceh seorang gadis yang tengah berboncengan itu.
"Ck kenapa gak sabaran semua sih? Gue juga udah telat nih"ocehnya.
Setelah motor ayah-nya menepi,dia membuka helm yang kebesaran di kepalanya itu.
"Assalamualaikum yah"dia menyalami tangan ayahnya.
Kemudian dia berlari ke gerbang utama sekolahnya.
"Cepat dek cepat".
"Lelet banget sih kalian".
"Bisa lari nggak sih dek?".
"Udah jam berapa ini dek?".
Celotehan anggota osis yang terdengar memuakkan di telinga Aira.
Dan gara-gara mereka dia jadi lari-larian seperti ini.
Walaupun dia sudah kelas XI, tetapi dia masih baru di gedung SMA ini.
Pada saat kelas X,angkatan Aira tidak belajar disini melainkan di gedung putih yang jauh dari SMA aslinya ini.
Kalau kalian tanya kenapa? Karena angkatan kelas XII itu muridnya mencapai 600 lebih siswa dan gara-gara mereka angkatan Aira menjadi terasingkan.
Hah sudahlah. Kembali ke alur!.
"Eh dek!"panggil seorang anggota osis.
Aira berhenti lalu menoleh kr belakang.
"Aku kak?"dia menunjuk dirinya sendiri.
"Iya lo,sini!"Aira pun mendekat.
"Kenapa kaus kaki lo terlalu pendek?"tanyanya.
Dia mengangkat sedikit roknya yang sepanjang mata kaki itu. Dia kemudian menepuk jidatnya.
"Salah pake kak"jawabnya.
"Alasan aja lo,besok jangan diulangi lagi"perintahnya.
Aira mengangguk.
'Siapa lo berani merintahin gue? Cuma osis kok bangga. Bentar lagi pensiun deh lo' ucapnya dalam hati. Lalu masuk ke dalam barisan.
"Eh mau kemana lo? Pisah barisan,gabung disana!"tunjuknya pada barisan siswa-siswa yang melanggar.
Haduhhh.
'I hate you!' Geramnya dalam hati.
"Sttt"panggil seseorang disebelahnya.
Aira menoleh. "Lah Risya? Ngapain lo disini?"tanya Aira.
"Gue gak pake nama di jilbab"sambil menunjukkan jilbabnya.
Aira membulatkan bibirnya. "Bagus dong,kan gue ada temennya"ucapnya.
"Bukan cuma gue"ucap Risya.
"Terus?".
"Tuh"tunjuk Risya dengan dagunya pada dua orang manusia di depannya.
"Lah? Kalian juga disini? Kenapa?"tanya Aira bertubi-tubi.
"Gue ketahuan pake maskara sama liptint"jawab Diana.
"Kalau gue gak pake lambang lokasi di baju"jawab Cyara.
"Berarti kita senasib!"kata Aira.
Kepada sang merah putih,hormaaaat gerak!
Mereka berhenti berbicara saat bendera merah putih dinaikkan.
Beberapa menit.
Tegaaak gerak!
Aira memutar pandangannya ke arah kelas XII,siapa tau ada cogan. Tapi ketutupan.
Dia lalu menoleh ke arah belakang,hanya anggota osis.
Tapiiiii
"Sttt"panggilnya pada ketiga sahabatnya.
Mereka semua menoleh ke arah Aira.
"Ada abang-abang ganteng di belakaaang"ucapnya tak sabaran.
"Yang mana?"tanya Diana.
"Itu loh yang pake almameter osis"jawabnya.
"Itu pake almamater semua kali"sanggah Cyara.
"Yang putih terus yang bulu matanya melentik itu lohhh"ucapnya lagi.
"Oo yang itu,gue tadi juga udah liat"jawab Risya.
"Ganteng banget kan?"ucap Aira takjub.
"Iya"jawab Risya sama sumrigahnya.
"Gue nggak liat,mata gue minus"ucap Diana.
"Sabar ya,nggak bisa liat cogan deh"Cyara mengusap punggung Diana.
Amanat oleh pembina upacara.
Suara dari protokol yang membuat para peserta upacara makin gerah karena amanat kali ini pasti sangat lama.
"Kabarnya guru fisika kita killer"ucap Diana.
"Ha? Serius? Siapa?"tanya Aira mewakili kedua temannya.
"Namanya ibuk Nerva"jelas Diana.
"Yang mana?"tanya Cyara.
"Sttt".
"Ini siapa yang masih pakai lipstik?"salah satu guru berjalan memeriksa wajah para siswinya.
"Eh kamu! Pakai lipstik?"tanya nya pada Diana.
Diana hanya diam.
"Hapus sekarang!"perintahnya.
Mereka jadi pusat perhatian. "Kenapa kalian melihat kesini? Perhatikan ke depan!"teriaknya.
"Kamu?!"dia bertanya pada Risya.
"Enggak buk"jawab Risya.
"Apa yang enggak?ini jelas kamu pakai lipstik!"sanggahnya. Lalu mengusap bibir Risya dengan jilbabnya sedikit keras.
"Ini jelas pake lipstik. Hapus!"perintahnya.
"Iya buk".
"Kecil-kecil gayanya udah kayak tante-tante"celoteh guru itu kemudian memeriksa siswi lainnya.
"Haaah hampir copot jantung gue"ucap Risya.
"Gue juga"ucap Diana.
"Makanya,ke sekolah gak usah pake make up"ucap Aira.
"Nggak cetar dong"jawab mereka.
"Yah terserah deh".
"Btw itu guru fisika kita loh"kata Diana.
Mereka bertiga sontak membulatkan matanya. Shock.
Setelah sekian lama akhirnya pembina upacara mengakhiri amanatnya.
Dan saat doa selesai,tanda bahwa upacara pagi hari ini juga selesai. Semua siswa tampak senang. Sangat senang.
"Eh kalian,kenapa rambut kalian panjang?"ucap Bu Nerva,guru yang tadi itu loh.
"Semua anggota osis berkumpul!"dan sontak semua anggota osis membentuk barisan karena teriakan guru itu.
Dia lalu mengambil gunting dari saku baju dinasnya.
"Berbaris kalian!"dan rambut mereka kemudian dipangkas eh bukan di potong berantakan oleh guru itu.
"Mampus!"gumam Aira,mungkin semua siswa pun mengatakan itu.
"Aduhh abang ganteng gue kena juga"ucap Aira.
"Lebay deh lo,kenal aja enggak".
"Biarin,ini namanya cinta pandangan pertama"jawab Aira.
Mereka memutar bola matanya malas.
'I hate you osis'batinnya.
'Eh,kecuali abang ganteng gue'tambahnya.
Aira tersenyum-senyum tak jelas.
***
Hehe.
Satu aja belum tamat,udah nambah lagi😂
Biarin deh yaa.
Asalkan ku bahagiaaa.
YOU ARE READING
Just Delusion
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM BACA] . . . Tidak seperti kamu,yang menuliskan setiap kisah yang kamu alami di dalam diary supaya tak ada satu orang pun yang tau cerita hidupmu. Aku berbeda. Aku lebih suka menuangkan segala cerita yang aku lalui disini supaya...
