Perempuan 20 tahun itu kembali merasakan dingin menusuk tulang. Penerbangan 15 jam Inggris-Indonesia membuat tubuhnya kaku. Ia merapatkan jaketnya. Hujan turun dengan deras, membuat dirinya menunggu di salah satu cafe bandara.
Sedari tadi, perempuan itu larut dalam lirik musik yang didengarnya. Earphone berwarna coklat muda menggelayut keluar dari hijab hijau zaitunnya. Seorang pelayan datang membawakan kopi pesanannya. Ia menyeruput kopi itu sedikit.
Suasana hujan mengingatkannya pada kejadian 4 tahun lalu. Hari yang mengubah hidupnya. Hari yang membuatnya kehilangan semuanya. Hari yang membuat dirinya... tidak lagi mudah membenci seseorang. Dan hari ketika Ia kehilangan orang yang berharga baginya. Terjadi di waktu yang berbeda namun dengan suasana hujan yang sama.
Hpnya bergetar. Tanda pesan masuk.
----------
Orang ngeselin
Dek, lu dimana? Udh di bandara?
Udh
Tunggu bentar yak, gue udh mau nyampe
Cepetan atuh, dingin nih
Ntar
Aelah, dari kemaren juga ntar ntar wae, eh datengnya 2 jam kemudian
Kan gue udh bilang, gue udh mau nyampe dedek!
Iii, ya udh, gak udah ngegas kali
Kak?
Kak?
----------
"Sial." Ia mendecak kesal.
Hpnya kembali bergetar. Kali ini dari temannya.
----------
Gea
Ris, lu udah nyampe Indo? Kok gk bilang-bilang siiih?
Udh Ge, maapin kalo gue gk bilang
Lu mau gue jemput gak? Mumpung gue masih di Jakarta
Gak usah Ge
Kakak gue udh jemput
Serius Ris gk usah? Ya udh kalo gitu -3-
Hahaha, makasih ya Ge
Tapi lu lusa nanti bareng gue ya
Iye
Jangan kek tahun lalu. Maen nyelonong aje
Iye Ge, maapin
Ya udh, gue nyetir dulu
Bye
Bye
Jaga diri
----------
Perempuan itu menyunggingkan senyumnya. Mengobrol dengan teman memang bisa membuat hati senang. Ia bersegera menghabiskan kopi yang dipesannya dan beranjak dari cafe itu.
Dilihatnya sebuah mobil SUV berwarna perak. Seorang laki-laki melambaikan tangan ke arahnya. Ia berlari-lari kecil sambil menyeret kopernya menerobos hujan. Dibukanya bagasi mobil dan dimasukkan koper hitamnya.
"Tumben cepet Kak."
"Cepetan masuk, entar basah!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Under The Rain
Fiksi RemajaRiska selalu melihat Deira, sahabatnya, sebagai sosok sempurna. Namun, sedikit demi sedikit Ia mulai membenci kesempurnaan Deira. Ia merasa, kenapa dirinya yang selalu berjuang tidak pernah mendapatkan apa yang Deira dapatkan. Cinta, kasih sayang...
