Malvin
Pagi ini Malvin berjalan kaki menuju sekolah barunya sambil menghirup udara segar. Ia baru sampai di Indonesia semalam dan keesokan harinya ia sudah harus bersekolah.
Sial...
Malvin tidak tahu bagaimana bentuk sekolah barunya, apakah sama dengan sekolahnya di Australia? Atau berbeda?
Ck, peduli apa.
Astaga, kenapa sekolahnya begitu jauh? Sial! sial! sial! Motor sialan!!
Aldo terus mengomel selama perjalanannya menuju sekolah. Ia bahkan menghentakkan kakinya di trotoar.
Tin... Tin..
"Halo, kamu mau kemana? "
Malvin tersentak lalu menoleh. Matanya beradu pandang dengan seorang gadis yang sama sekali tak dikenalnya.
Siapa?, tanyanya dalam hati.
Malvin memajukan dagunya untuk menunjuk papan penunjuk yang bertuliskan 'SMA langit negeri 3'
Gadis yang sedang membawa motor matic itu menganggukkan kepala tanda ia mengerti.
"mau bareng, nggak?" tanyanya.
Malvin meliriknya lagi dengan cuek, lalu menggeleng sambil menggerakkan tangannya, bermaksud mengusir gadis itu.
"Yakin nih? Okelah, gue luan ya. Bye" ucap gadis itu bergegas pergi mengendarai motor nya meninggalkan Malvin.
"Sok kenal banget sih tu cewe" batinnya dalam hati.
Malvin melanjutkan kembali perjalanannya yang sempat terhenti karena diganggu oleh seorang gadis yang menurutnya sok kenal dan sok baik.
*****
Malvin berjalan di koridor sambil melihat-lihat fasilitas dan bentuk gedung sekolah barunya.
Yah lumayan lah. Setidaknya sekolah ini bersih dan nyaman.
Malvin terus berjalan hingga ia berhenti di depan sebuah pintu bewarna coklat bertuliskan Kantor Kepala Sekolah.
Tok ... Tok...
Ia mendorong pintu itu dan melihat seorang pria paruh baya yang tampak sedikit sibuk dengan beberapa tumpukan berkas disekitarnya.
Pria paruh baya itu lantas mengangkat kepalanya dan bertanya.
"Ada perlu apa, nak?" tanya pria paruh baya itu seraya membenarkan letak kaca matanya.
"Saya Malvin, murid pindahan dari Australia pak" ujar Malvin dengan senyum tipisnya.
"Eh nak, bagaimana penerbangan kamu kesini? Lancar kan nak?" ucap pak kepala sekolah yang lebih dikenal dengan panggilan pak Sebas.
"Lancar pak" jawab Malvin dengan senyum tipisnya.
"Baiklah saya akan mengantarmu ke kelas barumu," ucap pria paruh baya itu sambil tersenyum lebar.
***
Tertera dengan jelas tulisan XII MIPA 1 di depan pintu kelas yang mereka datangi.
"Ini kelas kamu. Semoga kamu nyaman dan betah bersekolah di SMA ini." ucap pak Sebas lalu pergi meninggalkan Malvin sendirian di depan kelas.
Sepeninggalan pak Sebas, Malvin bergegas memasuki kelasnya.
Tok... Tok.... Tok...
Kriet...
Tuk!
Langkahnya terhenti saat merasakan ada sesuatu yang mengenai kepala nya. Malvin melihat kearah sepatunya.
Tutup spidol?
Bersamaan dengan itu, seorang gadis tersentak kaget karena tutup spidol yang dibukanya tidak sengaja mengenai kepala orang lain.
"Eh! Sorry, sorry!!" ucap gadis tersebut tergesa-gesa lekas mengambil tutup spidol yang sekarang tergeletak di dekat sepatu Malvin.
......TBC.......
YOU ARE READING
Solía Ser
Teen FictionMalvin, pindah ke Austaralia semenjak kematian ayahnya. Sebelumnya, Malvin tinggal di Indonesia tepatnya di kota Jakarta. Sewaktu Malvin masih belum meninggalkan Indonesia untuk pindah negara, ia ingat sekali, ada seorang gadis kecil yang selalu men...
