BAB 2

58 2 1
                                        

"Na kitu neng, tadi teh Babanya neng Ratih dibawa ke Rumah Sakit sama Mang Idang. Tadi pagi teh Babanya neng pingsan di depan rumah, untung teh Eceu lewat abis beli sayur di Mpok Ira tadi. Jadi Eceu liat, terus manggil Mang Idang". Jelas Ceu Ani pada Ratih dengan hati hati.

Deg! Tiba tiba jantung Ratih serasa berhenti mendengar berita Babanya masuk Rumah Sakit.

*****

Ratih jatuh terduduk lemas mendengar berita yang didengarnya. Ceu Ani yang melihat Ratih shok langsung menopang badannya dan didudukan Ratih pada dipan kayu.

"Eleuh... Eleuh... Neng yang tenang atuh, duduk dulu disini nyak, Eceu ambilekeun air dulu biar tenang. Sakadap nyak". Eceuk Ani pergi ke dapur mengambil segelas air untuk Ratih.

Pikiran Ratih kacau, dia panik memikirkan keadaan Baba. Dia merasa kalau tadi pagi Baba masih baik-baik saja, masih sehat wal afiat. Kenapa tiba-tiba Baba bisa pingsan. Ratih terus mencari penyebab dipikirannya sendiri.

"Nggak, gua nggak bisa diem disini. Gua harus susul Baba. Tapi Nela? Nela udah pulang seharusnya kan?"

Tiba-tiba Ratih teringat adiknya yang masih duduk dikelas tiga SD. Pikirannya makin kalut dan tidak terkontol.

"Ceuuu... Eceuuuu.... Nela mana Ceu? Nela udah pulang kan?" teriak Ratih yang khawatir mengingat adiknya yang masih kecil tidak didapatinya dirumah.

Eceu yang mendengar teriakan Ratih bergegas ke teras dengan membawa segelas air putih untuk Ratih.

"Tenang atuh neng, iyeh diminum dulu airnya". Diberikannya segelas air putih pada Ratih.

Dengan penuh kecemasan Ratih menuruti perintah Ceu Ani untuk meminum air.

Ratih terlihat sedikit lebih tanang, Ece mengambil gelas pada tangan Ratih dan ditaruhnya disebelah tempat duduknya.
"Ceu, Nela mana Ceu?" tanya Ratih dengan sorot mata yang khawatir.

Eceu tahu betul kepanikan dan kekhawatiran yang dirasakan oleh Ratih. Karena semenjak ibunya meninggal, yang merawat dan mengasuh Ratih dan Nela sedari kecil adalah Ceu Ani. Dia menganggap bawah Ratih dan Nela adalah anaknya sendiri. Ikatan Ceu Ani dan ibunya dulu memang sangat dekat, karena mereka teman dari masa SMA dulu.

"Nela ada dirumah Eceu, main sama Adel. Eceu belum kasih tau Nela, Eceu teh takut Nela nangis nyariin neng sama Baba". Dengan belaian lembut dipuncak kepala Ratih, Eceu memberitahu keberadaan adiknya.

"Ceu Ratih mau liat Baba". dengan sorotan kesedihan Ratih meminta Eceu mengantarkan Ratih ke Babanya.

"Sok, ayuk kita ke Baba. Eceu memang menunggu neng Ratih pulang sekolah, biar bisa bareng kesana. Sekarang teh, Ratih ganti baju dulu baru Eceu antarkeun kamu ke Rumah Sakit".

Dengan cepat ratih masuk kekamarnya dan mengganti seragamnya. Kemudian Ratih mengunci pintu dan berangkat ke Rumah Sakit.

Sesampainya di depan pintu ruang inap rumah sakit, tangisan Ratih pecah kembali melihat Baba tergeletak lemas diatas tempat tidur rumah sakit dengan selang infus ditangan kanannya dan selang oksigen dihidungnya.

Baba sedang tidur setelah meminum obat yang diberikan dokter. Ratih tidak sanggup masuk dengan melihat keadaan Babanya sekarang.

Mang Idang yang sedang duduk menunggu didepan kamar Baba semenjak tadi pagi, berdiri menyambut kedatangan Ratih.

"Gimana teh si Baba?" tanya Eceu sesampainya disana.

"Menih udah parah euy kata dokter na, harus butuh penanganan intensip yeu kata na". Jelas Mang Idang pada Ceu Ani tentang kondisi baba.

Karena Cupang, Aku Jadi SayangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang