SII = Selingkuh Itu (tidak) Indah

16 1 0
                                        

AKU MELIHAT pacar sahabatku selingkuh.
  Ya, aku yakin itu Fauzan, pacar terakhir Hesti, pacarnya yang terkenal itu. Yang kata Hesti, pacar terbaik yang pernah ada, pacar terganteng yang pernah tercipta, anugrah terindah yang pernah ia miliki, pacar paling setia di dunia!
  Bull shit!
  Aku duduk diam-diam menyembunyikan wajahku di balik buku menu sambil terus mengawasi gerak-gerik Fauzan yang duduk kira-kira lima meter dariku. Sekarang ia sedang membisikkan entah apa di telinga teman kencannya itu. Gombalan yang sama yang pernah ia ucapkan pada Hesti, 'Kali.
  Sebetulnya, aku menemukan hal ini nggak sengaja. Hari ini aku sedang mengerjakan proyek launching produk terbaru Unilever di Bandung Super Mall, sampo antiketombe yang pakai ekstrak lemon atau apalah, gitu. Aku nggak terlalu perduli. Buatku sampo-sampo itu sama saja, yang penting ketombenya hilang, 'kan? Perkara mau pakai ekstrak lemon kek ekstra mint kek, madu kek..., itu sih cuma additional yang nggak penting.
Anyway, sudah sejak pukul 9 tadi malam aku mengawasi loading alat dan pengerjaan booth yang baru selesai pukul 4 subuh. Pulang sebentar, mandi, makan, tidur sejam, pukul 8 aku sudah balik ke sini. Memberi pengarahan pada penjaga booth, para SPG, MC, dan pengisi acara. Briefing selesai tepat jam setengah sepuluh, waktu mall di buka.
  Tidak ada waktu istirahat. Aku harus berlangsung beredar terus mengelilingi booth berukuran 6 x 7 meter persegi itu untuk menjaga acara tetap aman dan lancar. Kira-kira pukul 12 siang, Olga, teman satu timku, datang dan menggantikanku, sementara aku break makan siang. Aku betul-betul lapar dan lelah, harus di-charge.
  "Kenapa lo?" Olga menatapku ngeri.
Dia meletakkan tas selempangnya, lalu membuka sebotol air mineral yang tergeletak di meja. Rambut pendeknya diikat dan ditahan beberapa jepit. Singlet puma merah bata yang membalut tubuh atletisnya terlihat keren berpadu dengan kulitnya yang cokelat. Beberapa bulan ini juga Olga mulai terlihat kurus. Maklum, beban kerjanya berlebihan.
  Aku, dia, dan Hesti bersahabat sejak SMA, Lalu masuk ke universitas yang sama, jurusan yang sama.

Tapi, begitu kerja, Hesti tidak tertarik masuk event organizer seperyi aku dan Olga mau. Jadilah kami berpencar.
   Hesti, aku, dan Olga sebetulnya adalah kombinasi yang aneh. Satu-satunya kesamaan kami adalah dulu sempat satu SMA dan kuliah di kampus dan jurusan yang sama. Sudah.
Lainnya beda jauh. Hesti adalah seorang cewek yang superfeminim dengan rambut yang nggak pernah di potong lebih pendek dari bahu, rutinitas luluran yang nggak pernah kelewat, perasa banget, tipe anak baik-baik yang tidak merokok, selalu juara kelas, dan punya IPK terancam 4. Bicara soalbsifat, Hesti adalah orang paling nggak egois yang pernah aku kenal. Otaknya selalu memikirkan oranglain, mulai dari keluarganya, sahabatnya, pacarnya, sampai anak kecil yang mengamen di pinggir jalan. Suatu hari waktu SMA dulu, aku, dia dan Olga sedang menunggu angkot didepan sekolah. Tiba-tiba aku dan Olga terkejut karna mendengar Hesti terisak. Waktu di tanya kenapa, dia menunjukan seorang bapak tua yang sedang mendorong becaknya menyusuri jalan depan sekolah yang nanjak banget. Peluhnya bercucuran, tangan dan kakinya gemetar, beban yang dia tanggung itu sungguh-sungguh tidak sesuai dengan umurnya. Aku dan Olga juga sampai terdiam sambil merangkul Hesti.
  Begitulah Hesti yang lembut, penyayang, dan sangat memerhatikan orang lain. Jarang ada hal yang bisa buat Hesti marah, tapi sekalinya perasaan Hesti terganggu, dengan sangat lihai dia bisa mengeluarkan serentetan kalimat yang tetap disampaikan dengan nada lembut, tapi bisa membuat orang itu menyesal setengah mati. Dalam hal ini dia sangat cocok denganku. Berlidah "samurai", kata Olga, yang walaupun paling tomboi, justru paling susah memaki orang. Olga sih paling banter cuma ngabsen isi kebun binatang doang. Mungkin karna sikapnya yang nggak perdulian makanya Olga jarang mau repot-repot berkomentar tentang orang yang membuat dia kesal. Biasanya kalau sedikit merasa bete, Olga akan menyulut rokok dan duduk sendirian sampai tenang.
  Kebiasaan ini justru yang paling di tentang Hesti dariku dan Olga. "Lo berdua tuh ngebeli penyakit, tau nggak?" umpatnya

   Biasanya, aku dan Olga hanya tersenyum sekilas dan meneruskan merokok dan diikuti nasihat-nasihat dari Hesti yang, terus terang saja, aku sudah nggak mempan.

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: Jan 25, 2019 ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

Perempuan LainOnde histórias criam vida. Descubra agora