BAB 1

108 6 7
                                        

Ratih adalah siswi tingkat dua di SMA Taruna Bhakti. Dia anak pertama dari dua bersaudara. Ibunya sudah lama meninggal setelah melahirkan adik perempuannya tujuh tahun lalu. Semenjak itu Ratih menjadi anak yang keras kepala dan cuek, karena rasa rindunya yang besar pada ibunya.

"Ba bagi duit Ba, mau jalan sekolah nih" pinta Ratih pada Babanya, sambil menadangkan tangan didepan Babanya.

"Nggak sarapan lu? Udah Baba beliin nasi uduk Mpok Ida kan". Sahut Baba yang sedang memberi makan cupang cupangnya.

Rumah khas betawi yang tidak terlalu besar dengan teras yang luas dan halaman yang lapang memberi kesan sejuk dikala angin menerpa. Dengan deretan toples cupang yang ditata Baba rapih menambah kesan asri pelataran rumah Ratih.

"Nggak ah Ba, bikin mules pagi-pagi makan nasi uduk mah". Dengan mempraktekan gaya mengelus elus perut.

"Bukannya bersyukur masih bisa sarapan lu, di luar sana masih banyak yang nggak bisa sarapan". Dengan nada khas orang tua yang menasehati anaknya.

" Iya...iya... entar Ratih makan di sekolah, nih Ratih bawa nih nasi uduknya". Ratih berjalan kembali ke meja ruang tamu, dan memasukan bungkus nasi uduknya kedalam tas.

"Yaudah Ba, bagi duit, udah siang nihhh" Ratih tak sabar karena jam sudah menunjukan pukul enam lewat dua puluh menit.

"Yaelah lu, kalo duit aja nggak sabaran amat". Baba merogoh kantung celananya dan mengeluarkan uang kertas dua puluh ribuan.
" Nih, jangan diabisin. Nabung yang banyak biar bisa naek aji" timpal Baba sambil memberikan uang kertas pada Ratih.

"Dua puluh rebu sekali kentut juga abis" bisik Ratih sambil mengambil uang di tangan Babanya.
"Yaudah ba, Ratih jalan dulu, Assalamualaikum". Ratih melangkah ke halaman pelataran rumahnya.

"Heeeh....hehh... Anak nggak ada sopan sopannya, salim dulu lu". Teriak Baba pada Ratih yang hendak pergi ke sekolah.

Dengan cengengesan Ratih kembali dan mengulurkan tangan untuk mencium tangan Babanya." Yaelah Ba, lupaaaa hehehe. Namanya orang lupa kan nggak inget. Yaudah ya Assalamualaikum " dengan cepat Ratih kembali melangkah meninggalkan teras rumahnya.

Dari rumah ke sekolah, Ratih membutuhkan waktu lima belas menit berjalan kaki. Dia ngga mau kalo disuruh Babenya naik motor atau naik angkot, macet menjadi alasan utamanya enggan untuk menggunakan kendaraan. Olahraga biar sehat menjadi alasan kedua saat alasan pertama dibantah Babanya.

Ratih mengangkat pergelangan tangannya dan melihat jam pada arloji mungilnya. "Waduh... tinggal lima menit lagi bel, kudu sprin nih kalo gini". Ratih mengencangkan tali sepatu dan ikat pinggangnya, lalu melesat lari bagai kilat.

Sesampainya di gerbang, satpam sedang menarik gerbang untuk ditutup.
" Paaaak Nimaaaaaannnnn, Jangaannn diituutuupp duulluuu, ssaaayyaaa maauu maassuukkk" teriak Ratih pada satpam sekolahnya.

Pak satpam yang merasa namanya dipanggil menghentikan aktivitasnya. Dan kesempatan ini yang dimanfaatkan Ratih untuk menerobos gerbang dengan cepat, secepat kedipan mata.

"Perasaan tadi ada yang manggil, terus barusan juga kayanya ada yang lewat deh. Tapi kok nggak ada ya? Apa demit kali ya? Hiiiihhh". Bergidik pak Niman karena tidak terlihat siapa yang lewat saking cepatnya lari Ratih.

Ratih langsung menuju kelasnya di lantai dua, kelas paling ujung kiri. Untungnya Ratih lewat kantin yang menembus kelas XII IIS 1, kelas yg berdekatan dengan tangga sebelah timur. Sehingga tidak perlu melewati meja piket dan terkena hukuman.

Sesampainya di kelas, untung guru pertama belum datang. Bu Ari guru matematika, dia memang selalu sepuluh menit lebih lambat datang ke kelas. Dengan alasan agar sarapan yang dimakan tadi pagi dapat tercerna lebih baik. Padahal nggak ada hubungannya sama sekali ya hhhh.

Karena Cupang, Aku Jadi SayangStories to obsess over. Discover now