Selamat petang..
Aku yakin, pasti sekarang kalian sedang bertanya mengapa kubuka dengan ucapan selamat petang, bukan selamat pagi, siang, atau malam. Kalian ingin tahu jawabannya? Jadi, pagi tadi hujan, aku tidak ingin membuat kalian kebasahan hanya karena aku menyapa kalian di jalan. Karena itulah, aku menahan mulutku yang nakal dan cerewet ini untuk menunggu sampai hujan reda, sampai petang. Jadi aku bisa menyapa kalian saat langit sedang senja. Juga supaya kalian tidak kebasahan. Aku tidak tega melihat mata kalian yang basah makin basah.
Senang sekali rasanya bisa berjumpa dengan kalian kembali, menulis kembali, tertawa kembali. Maaf, kemaren aku pergi tanpa pamit. Menghilang tanpa kabar, sebelum akhirnya aku teringat akan sesuatu yang harus membuatku kembali lagi-kalian. Iya kalian, bukan dia, kamu, ataupun mereka, melainkan kalian. Aku pergi karena apa? Jadi itu yang ingin kalian tanyakan jika bertemu denganku? Astaga! Tidak bisakah diganti dengan pertanyaan yang lain? Baiklah-baiklah akan aku jawab. Aku pergi karena memang kenyataannya aku harus pergi, memperbaiki hati yang sempat patah, sudah jelas kan sekarang?
Pagi tadi Baar mengajakku pergi ke bioskop, katanya dia ingin membeli popcorn yang ada di bioskop bersamaku, setelah itu pulang. Tidak berniat menonton, ataupun pamer tiker, tidak sama sekali. Hanya membeli popcorn dan pulang.
***
"Tidak usah nonton di bioskop juga bisa ilaa, di bioskop itu isinya hanya orang pamer kemesraan, pamer tiket, tidak berguna. Ramai. Mending nonton sendiri dirumah, hanya kita berdua, aku dan kamu, tidak ada yang lain, tidak ada yang mengganggu. Malah lebih irit biaya, jadi uang tiket nya bisa kita tabung iya kan? "
Sepanjang jalan pulang, Baar tidak henti-hentinya bicara masalah bioskop. Padahal aku tidak pernah bertanya alasan mengapa tiap kali pergi ke bioskop Baar hanya beli popcorn. Jadi kudengarkan saja. Nanti juga berhenti sendiri, capek bicara terus. Mobilnya berhenti, maksudku mobil kami berhenti di depan kedai kopi langganan Baar.
"Mampir sebentar ya Ilaa? Tidak lebih dari lima menit, janji" Baar turun terlebih dahulu, aku membuntutinya dari belakang.
"Selamat pagi Baar, Ilaa" suara Iki langsung terdengar saat kami membuka pintu, dia teman sebangku Baar waktu SMP, juga pemilik kedai kopi langganannya ini. Jadi, kalian sudah tahu kan alasan Baar menjadi langganan kopi disini? Masih belum tahu juga? Sebentar lagi juga kalian tahu.
"Diluar hujannya deras sekali Ki, aku tidak tega melihat Ilaa kedinginan, jadi aku mampir"
"Tidak tega melihatku kedinginan, atau tidak tega melewatkan secangkir kopi gratis? " nah, sudah tahu kan alasannya? Iki yang mendengar jawabanku tertawa.
"Lebih tepatnya, aku tidak tega melewatkan secangkir kopi gratis bersamamu saat hujan ilaa" Baar menerima pesanan yang diantarkan barista. Secangkir kopi tanpa gula untuknya, dan secangkir coklat panas plus gula untukku. Selera kami tidak ada yang sama. Aku suka manis, Baar tidak. Aku suka pakai keju, Baar tidak. Dia hanya suka dua rasa, pahit dan pedas.
Baar tidak jadi menepati janjinya, ternyata bukannya malah bertambah deras, jadi kami terjebak didalam kedai kopi sampai petang, sampai hujannga reda. Tapi tidak masalah. Lagipula sudah lama sekali aku tidak kesini, tidak merasakan coklat panas seenak buatan kedai kopi milik Iki, jadi tidak masalah jika aku harus menunggu sampai hujannya reda.
"Aku dan Ilaa pamit dulu Ki, terimakasih untuk secangkir kopi dan coklat panas gratis nya, kalau ada waktu kami mampir lagi"
"Terimakasih Iki, tidak ada coklat panas yang bisa menandingi buatan kedaimu ini" aku menjabat tangan Iki dan kekasihnya. Kami berdua berpamitan pulang, setelah sebelumnya Iki memberi kami bingkisan kopi dan coklat untuk dirumah. Itu ritual yang selalu dia lakukan untukku dan Baar.
"Ayolah Ba, lagunya diganti. Dari tadi cuma lagu itu ituuuu saja yang kau putar" aku protes, sudah berulang kali mengganti lagu dimobil, tapi setelah itu Baar akan kembali menggantinya dengan lagu yang sama, lagu kesukaannya. Menyebalkan.
"Tidak usah Ilaa, biarkan saja lagunya tetap yang itu, biar kau hafal liriknya" akhirnya aku mengalah, diam. Tidak begitu berpengaruh juga sebenarnya, karena aku juga tidak terlalu suka mendengarkan lagu yang tidak ada vidionya, jadi ya sudah aku diam saja.
"Ba, mampir sebentar di supermarket yaa, cadangan eskrim di rumahku baru saja habis, jadi aku harus beli lagi"
"Astaga Ilaa, minggu lalu kita baru saja beli eskrim untuk cadangan dirumahmu, sudah habis lagi? " Baar yang tadinya fokus menataonjalan malah menjadi fokus menatapku.
"Ya itukan sudah seminggu yang lalu, pokoknya kita kesana saja ya"
Akhirnya Baar menyerah, memutuskan berhenti di supermarket dan turun.
"Assalamualaikum" berpuluh-puluh pasang mata menatap heran ke arah ku dan Baar.
"Dasar memalukan, ini kan supermarket bukan warung depan sekolah" aku memarahi Baar sambil memilih eskrim untuk dibawa pulang.
"Tidak apa-apa Ilaa, itu namanya sopan kepada semua orang" Baar tertawa, lebih tepatnya nyengir kuda.
"Mau kemana lagi?" aku bertanya setelah membayar semua eskrim yang sudah dipikih. Ada rasa coklat(rasa favoritku) vanilla,pisang,dan masih banyak lagi. Kalian mau?
"Mmm,kita makan popcorn dirumahku saja ya Ilaa. Mamaku sudah berulang kali menyuruhku mengajakmu kerumah,katanya rindu"
"Tapi aku belum bilang mamaku Ba, aku telpon dulu ya"
"Tidak usah" Baar menghentikan kegiatan ku mengambil ponsel. "Mamaku sudah bilang ke tante Ve(mamaku) kalau kau akan menginap dirumahku, jadi tidak perlu khawatir, lagi pula besok kan minggu, weekand, kita jalan-jalan yaa" Baar menggenggam tanganku, memohon.
"Baiklah, tapi jangan nonton frozen lagi ya Ba, aku sudah sampai hafal lagi di adegan film itu"
"Do you want to build a snowman" aku menyanyikan lagu itu bersama Baar, kami tertawa.
"Ya sudah, kita nonton film tetanic saja ya"
"Tidak mau Ba, aku tidak suka film tetanic, endingnya tidak bahagia, lagi pula film kartun dirumahmu kan banyak, mending kita nonton film kartun saja ya, kalau tidak, film korea juga boleh kok, tidak masalah" aku bicara panjang lebar dimobil. Aku tahu kalau Baar tidak suka film kartun, apalagi drakor, dia pernah marah seharian gara-gara aku bilang kalau pemain drakor lebih tampan daripada Baar, tapi kan itu kenyataan, iya kan?
"Tidak ilaa, aku tidak mau nonton film yang alay-alay, aku saja yang pilih filmnya ya yang penting bukan tetanic kan? " kan benar, pasti Baar akan menjawab seperti itu, tapi tak apalah, film apapun boleh yang penting jangan tetanic, jangan yang satu itu.
***
"Ilaa bangun, sudah jam sepuluh lewat lima menit. Katanya kita mau weekand" baar membangunkanku, ternyata semalam aku ketiduran karena menonton film horor, dan makan popcorn, juga eskrim. Jadi, aku tidur dikamar Baar, dan Baar tidur didepan tv dengan kakak laki-lakinya maaf, maksudku kakak ipar laki-lakinya.
"Weekand nya nanti saja ya Ba, aku masih ngantuk" aku merapatkan kembali selimut yang ditarik Baar, dia tertawa.
"Tidak bisa Ilaa, aku ingin mengajakmu hujan-hujanan, dan itu berarti sekarang, kalau nanti bukannya pasti reda.
Aku langsung bangkit, merapikan rambut dan juga cucu muka, 3 menit. Siap, siap hujan-hujanan, bermain dengan semesta. Kalau masalah hujan aku tidak akan bisa menolak, meski butiran yang tajam itu akan menyakiti kulitku, aku siap, tidak masalah. Yang penting aku bisa hujan-hujanan. Itu cukup. Hujannya deras sekali, Tante Ra( mama Baar) sudah berkali kali menyuruhku dan Baar masuk, Tante ra takut jika aku dan Baar sakit. 10 kali Tante ra mengingatkanku masuk, 10 kali pula Baar dan aku akan semakin lama bermain hujan. Hujannya berhenti satu jam kemudian, aku masuk terlebih dahulu, mandi, berganti pakaian, dan turun ke ruang tv.
"Waaah ada coklat panas nih" aku mengambil coklat panas yang dibawa Baar, berjalan menuju sofa,, mengambil selimut, duduk, dan mengganti channel tv.
"Ini coklat panas punyaku Ilaa, coklat panasmu masih didalam" Baar nyengir sambil mengambil coklat panas yang katanya adalah "miliknya"
"Tidak bisa! Kau kan tidak suka coklat panas" aku mengambil kembali coklat panas dari tangan Baar.
"Tapi coklat panas yang ini tidak pakai susu Ilaa, rasanya tidak semanis yang ada dalam benakmu. Jadi, kau ambil sendiri di dapur okey" Baar kembali mengambil coklat panasnya. Baiklah, aku kalah. Mau tak mau aku harus mengambil coklat panas milikku sendiri, di dapur.
"Coklat panasnya dimana Baaaaaa?" aku berteriak, karena tidak terlihat tanda-tanda adanya coklat panas di dapur.
"Itu di meja"
Coklat panasmu ada ditangan pangeran, tuan puteri.
BAAR
aku membaca tulisan di secarik kertas yang ada dimeja. Baiklah, aku kalah lagi, aku ditipu. Tapi tak apa yang penting coklat panas ku masih utuh karena Baar tidak akan pernah meminum minuman semanis itu, tidak sama sekali.
"Terimakasih Tante ra, Ilaa pulang dulu ya"
"Iya Ilaa, ini untuk namamu" Tante ra memberi kotak yang kuyakini isinya adalah kue. "Kapan-kapan mampir lagi laa, ajak namamu sekalian" Tante ra memelukku dan tentu saja mencium keningku. Beliau selalu melakukan ini tiap kali aku akan pulang.
"Baik Tante, besok-besok Ilaa kesini lagi sama mama, assalamualaikum" aku masuk mobil, melambaikan tangan pada Tante ra dan yang lainnya.
***
"Ilaa, aku tidak faham pelajaran matematika apalagi jika gurunya seperti itu, mending kita mbolos saja yuk, pergi ke kantin atau kemanapun lah yang penting jangan di kelas"
