Part 7

1K 174 12

Malam-malam Reifan mengusulkan untuk barbeque di taman sebagai acara penutup. Karena lusa mereka akan pulang. Ben sangat menyetujui itu. Bahan makanan dikulkas masih ada. Sehingga tidak perlu beli lagi. Reifan dan Nuria menyiapkan semuanya begitu juga Ben. Hanya Fahrania yang tidak ada. Seharian tidak keluar kamar. Pulang dari pantai wajahnya kusut. Nuria yang hendak bertanya pun tidak jadi karena takut.

Di taman Ben sedang mempersiapkan arang. Pria itu menyuruh Nuria untuk memanggil Fahrania. Di depan pintu kamar kakaknya. Ia diam cukup lama sebelum mengetuk. "Kak, ini aku Nuria. Kita lagi buat barbeque," tidak ada jawaban. "Kak," panggilnya. "Kak Rania!" teriak Nuria khawatir sambil menggedor-gedor pintu dengan keras.

Kreekk

"Apa?" Fahrania muncul denganwajah bantal.

Nuria bernapas lega, takut kakaknya kenapa-kenapa. "Kita barbeque, yuk," menarik tangan Fahrania.

"Aku belum mandi,"

"Nanti aja mandinya, lagian nanti bau asap." Ben dan Reifan sedang bercengkrama. Mereka melihat Nuria yang menggandeng Fahrania. Sebenarnya Fahrania meminum obat tidur. Kepalanya pusing sekali hingga memutuskan untuk meminumnya. Ia masih menguap.

"Seharian ini kamu tidak keluar kamar? Kenapa?" tanya Ben.

"Pasti tidur, Kak Ben," celetuk Reifan menjawabnya. Fahrania tidak membantahnya. Adiknya sudah tahu jika ia dikamar.

"Bangun tidur saja masih cantik," batin Ben.

"Kak Rania, tolong gantikan aku dulu. Aku mau ke kamar mandi," Reifan berlari masuk ke resort sedari tadi menahan pipis. Fahrania dengan malas membantu Ben. Ia membolak-balikan daging dan sosis. Nuria sedang sibuk dengan ponselnya dikursi. Fahrania menguap.

"Masih ngantuk?" tanya Ben.

"Eum.." itu saja. Ben mengangguk mengerti.

Setelah semuanya matang. Mereka menikmati makanan dengan mengobrol. Fahrania hanya sibuk makan. Ia kelaparan dari siang tidur. Ben yang diam-diam memperhatikannya tersenyum geli. Baru kali ini melihat Fahrania yang mulutnya penuh dengan makanan. Pipinya sampai mengembung. Reifan melirik kakak dan calon kakak iparnya sambil tersenyum penuh arti. Ben benar-benar jatuh cinta pada Fahrania.

"Besok aku akan pulang duluan." Fahrania selesai minum.

"Lho, kenapa?"

"Ada sesuatu yang aku urus." Fahrania menatap Reifan dan Nuria bergantian. "Kalian boleh disini tapi ingat Reifan jaga adikmu."

"Tapi bagaimana urusan kita?" tanya Ben yang kalang kabut.

"Hari minggu aku akan datang ke Cafe mu."

"Kalau Kakak pulang, aku juga pulang," Nuria cemberut. 

Fahrania menghela napas, "Nuria, kakak ada urusan penting. Dan hari senin harus pulang ke Indonesia."

"Kita pulang saja," ucap Reifan menengahi. "Besok kita pulang bersama."

"Aku nyerah, baiklah.. Pulang hari sabtu." Nuria dan Reifan bersorak gembira. Ben diam-diam tersenyum. Ia masih bisa bersama Fahrania.

***

Malam semakin larut, Ben masih terjaga dari tidurnya. Ia baru saja menelepon temannya untuk pemotretan nanti di Cafe. Temannya berkata siap. Kini ia baru tenang. Terdengar suara air dari kolam seperti orang yang sedang berenang. Ben bangkit dari ranjangnya melihat ke arah balkon. Ia tertegun saat apa yang dilihatnya. Seseorang sedang berenang dengan luwesnya. Ben mempertajam matanya untuk mempertegas siapa dia? Saat kepala seseorang itu keluar dari air. Ben terkejut dan terpaku ditempat.

Heart Is Beating (GOOGLE PLAY BOOK)Baca cerita ini secara GRATIS!