Rapuh

21 2 0
                                        

Pagi yang cerah untuk melakukan aktivitas seperti biasanya, bersiap ke sekolah demi menyongsong masa depan cerah. Begitulah harusnya motto para pelajar namun aku tak begitu yakin semua pelajar memikirkan hal itu. Kebanyakan dari mereka menganggap sekolah hanyalah sekadar rutinitas saja. Aku berani memjamin dari siswa satu sekolah populasi siswa yang menganggap pendidikan itu penting itu hanya sedikit. Jika ditanya apa tujuan mereka datang ke sekolah tentu mereka akan menjawab untuk menuntut ilmu. Dan jarang sekali ada siswa yang menjawab untuk menuntut dan mengamalkan ilmu.
Sekarang Hari Senin, aku tak suka dengan hari ini karena seperti biasa pasti akan ada upacara bendera. Aku tak membenci upacara rutin hari Senin hanya saja moodku pasti akan berubah saat upacara nanti. Karena upacara yang harusnya hidmat pasti akan kacau karena kebiasaan siswa lain yang mengobroldan mengeluh kepanasan saat upacara berlangsung. Tidak bisakah mereka tenang sejenak dan memaknai upacara rutin ini sebagai wujud penghormatan kepada para pahlawan. Tak perlu mengorbankan nyawa demi membela negara, mereka hanya dituntut untuk bisa diam dan Hidmat beberapa menit saja , namun ini sulit diwujudkan.
Aku berusaha memepis prasangka burukku, aku tak ingin ambil pusing dengan semuanya. Setelah selesai bersiap aku keluar kamar untuk sarapan. Aku mengambil roti tawar dan memakannya. Ayahku yang duduk di sampingku menggelengkan kepalanya dan berkata, " Anak jaman sekarang kejam banget, cuma karena bola mereka berani membunuh, ckckck."
Aku hanya diam tak menanggapi perkataan ayahku yang merasa tak percaya dengan berita yang ada di koran yang sedang di bacanya.
"Aiza, kalo kamu sedang dalam masalah selesaikan dengan kepala dingin dan jangan sampai main hakim sendiri hanya karena emosi." Ayahku memberi nasihat.
" Iya Ayah." Jawabku singkat.
" Ayah gak habis pikir ternyata pemuda jaman sekarang udah kayak tisu," komentar ayah.
Aku mengernyitkan dahi tanda tak paham dengan ucapan ayah. " Apa maksudnya, Pah??"
" Pemuda sekarang itu ibarat tisu kalo terkena angin bisa mudah terbang ke sana-sini dan kalo didekatkan dengan api bisa mudah terbakar."
" Aku masih belum paham," ucapku.
" Jadi jika terkena angin terbang ke sana-sini artinya itu pemuda sekarang mudah terpengaruh dengan kabar yang belum tentu benar sedangkan jika didekatkan dengan api langsung terbakar maknanya kalo sudah dihadapkan dengan masalh kecil saja langsung tersulut emosi hingga pada akhirnya melakukan tindakan keji." Jelas Ayah panjang lebar. Dan aku hanya ber Oh ria tanda setuju dengan perkataan ayah.
" Kalo kamu udah paham, ayah harap kamu gak bakal jadi orang yang seperti itu."
" Tentu, Pah" ucapku lantang untuk meyakinkan Ayahku.
" Aiza kamu kok belum berangkat?? Sekarang udah siang loh..." Teriak ibu dari dapur saat menyadari putrinya masih asik ngobrol dengan sang ayah. Mendengar itu Aiza langsung berpamitan dan segera berangkat sekolah.
Akhirnya sekolah telah usai dan Aiza pun pulang menuju ke rumah dengan berjalan kaki karena jarak rumahnya yang tak terlalu jauh dari sekolah. Saat di jalan aku melihat Kakek Satam yang sedang sibuk memasang bendera di depan rumahnya. Aku menghampiri dan menyapanya, lalu bertanya mengapa kakek Satam memasang bendera merah putih padahal bulan Agustus sudah lewat.
" Memang harus bulan Agustus saja yang boleh pasang bendera?? Sekarang kan bulan Oktober, jadi Kakek ingin mengenang masa perjuangan kakek dulu saat masih jadi pemuda." Jawab kakek satam.
" Waktu kakek masih muda, Kakek mesti berjuang melawan kekejaman jepang, itu tak mudah. Tapi ada hari di mana kakek sadar akan pentingnya kesatuan. Saat melawan Jepang kami para pemuda bersatu memuntut minta adanya keadilan. Kami terus berusaha melawan walau di antara kami ada yang jadi korban akhirnya kami mendengar kumandang proklamasi dibacakan, peristiwa itu tak pernah terlupa hingga sekarang."
Aku mendengarkan cerita kakek satam dengan antusias, karena aku tertarik dengan kisah perjuangannya. Dia merupakan seorang sesepuh yang masih sehat dan merupakan saksi kejamnya dunia penjajahan.
Kakek Satam mengatakan bahwa negara yang maju adalah negara dengan integritas tinggi. Sebab negara akan jadi kuat dengan adanya persatuan. 28 Oktober merupakan tanggal bersejarah di Indonesia sebab pada tanggal itulah seluruh pemuda dari berbagai daerah, berbagai suku dan adat berkumpul dan mengikrarkan sumpah pemuda.
Mereka pun mengucap janji bertumpah darah satu (tanah air Indonesia), berbangsa satu (Bangsa Indonesia) dan menjunjung tinggi bahasa persatuan (Bahasa Indonesia). Sumpah pemuda mempunyai kekuatan yang sangat mendalam karena terjadinya persatuan di antara para tunas bangsa. Meskipun mereka memiliki banyak perbedaan namun itu tidak menjadikan penghalang. Justru, perbedaan itu menjadi sumber pondasi yang kokoh untuk membangun kesatuan.
Tak sadar aku sudah lama bebincang dengan kakek Satam hingga lupa waktu, aku pamit dan bergegas menuju rumah karena senja telah tiba.
Kini Aku merasa kagum dan sadar bahwa persatuan itu sangatlah penting. Dan aku adalah generasi muda yang harusnya bangga menjadi bangsa Indonesia, bangsa yang, kaya akan budaya, suku, dan adat-istiadatnya. Dan semua perbedaan ini berpadu menjadi satu kesatuan yang memperkuat negara. Aku berharapakan bisa merasakan Saat Dunia benar-benar damai tanpa ada peperangan ataupun perpecahan yang ada adalah persatuan memperkuat kerukunan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jan 07, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Retaknya TunasWhere stories live. Discover now