Hal-hal yang Tidak Lagi Aku Percaya

113 46 28
                                        

Cerita ini terinspirasi dari pengalaman hidup Author sendiri. Sebagian besar peristiwa, emosi, dan konflik yang tertulis di sini adalah nyata; dirasakan, dijalani, dan meninggalkan jejak yang tidak selalu mudah dilupakan.

Namun, demi menjaga privasi dan kenyamanan semua pihak yang terlibat, beberapa nama, detail tertentu, dan latar telah disamarkan atau sedikit diubah tanpa menghilangkan esensi ceritanya. Bukan untuk mengaburkan kebenaran, tapi justru agar kisah ini bisa diceritakan dengan jujur tanpa melukai siapa pun.

Cerita ini tidak selalu manis, dan tidak selalu rapi. Bahkan mungkin terasa dingin, kadang melelahkan, kadang terlalu dekat dengan kenyataan.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Semoga kalian bisa merasakan apa yang Author rasakan, menemukan bagian yang mungkin relate dengan hidup kalian sendiri, dan semoga menikmati ceritanya. Selamat membaca dan semoga kalian suka 🤍

******

Eve's diary...

Surabaya, 21 Maret 2024

Aku tidak patah hati dengan cara yang dramatis.
Tidak ada teriakan, tidak ada piring pecah, dan tidak ada air mata yang jatuh di bahu siapa pun.

Aku mengetahuinya secara biasa saja. Terlalu biasa untuk sesuatu yang mengubah caraku memandang manusia.

Satu pesan yang salah kirim.
Satu nama perempuan yang bukan aku.
Satu kalimat yang terlalu akrab untuk sekadar teman.

Selesai.

Ironisnya, yang paling menyakitkan bukan pengkhianatan itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa selama ini aku percaya. Tapi naas, kepercayaan itu ternyata bisa dipakai orang lain dengan begitu ceroboh, seperti benda yang mudah dipinjam lalu dilupakan.

Sejak hari itu, aku berhenti bertanya kenapa. Karena jawaban apa pun tidak akan mengembalikan rasa aman yang hilang. Aku tidak marah pada laki-laki. Aku hanya tidak lagi mempercayai mereka. Tepat! Ada perbedaan besar di antara keduanya.

Aku mulai menghindar. Bukan hanya dari orang yang pernah menyakitiku, tapi dari kemungkinan apa pun yang menyerupainya. Aku menarik diri dari percakapan, membatasi kontak mata, dan belajar berkata 'tidak' bahkan sebelum ditanya.

Teman-temanku mengira aku sedang sibuk. Padahal aku hanya sedang membangun benteng. Aku hanya membenci caranya mengubahku. Bagaimana satu orang bisa membuat dunia terasa lebih berbahaya dari sebelumnya. Dan, bagaimana tubuhku bereaksi lebih dulu sebelum pikiranku sempat memberi izin.

Laki-laki yang tertawa terlalu keras membuat dadaku mengencang, pesan singkat dari nomor tidak dikenal membuat jariku gemetar, bahkan perhatian kecil terasa seperti jebakan.

Aku lelah menjelaskan. Jadi aku berhenti mencoba. Malam menjadi tempat persembunyianku. Di sana, aku bisa diam tanpa dicurigai, bisa lelah tanpa harus kuat, dan aku bisa tidak percaya tanpa diminta alasannya.

Aku tidak mencari cinta. Aku hanya mencoba bertahan tanpa kehilangan diriku sendiri. Dan pada titik itu, menutup diri terasa seperti satu-satunya cara untuk hidup.

Kabar baiknya, aku masih hidup. Kabar buruknya, aku juga masih hidup.

Hidup tidak lagi terasa seperti anugerah atau kutukan. Ia hanya berlangsung, hari demi hari, tanpa menunggu aku siap atau mengerti.

Ya, aku hidup, artinya aku masih diberi ruang; ruang untuk mencoba memperbaiki diri, atau setidaknya mengurai apa saja yang berantakan di dalam kepalaku.

Namun ruang itu terasa sempit, karena setiap hari datang dengan beban yang sama, seperti ujian yang terus diulang tanpa pernah menjelaskan jawabannya. Hari-hari tidak menyembuhkan. Mereka hanya mengingatkanku pada hal-hal yang belum selesai; pada rasa aman yang hilang dan belum kembali.

Di tengah dua kenyataan itu, aku hanya berdiri.
Tidak cukup lelah untuk pergi, tapi tidak cukup utuh untuk benar-benar hidup. Aku tidak sedang mencari bahagia. Aku hanya berusaha tetap ada, tanpa hancur sepenuhnya.

InvisibleOpowiadania do pokochania. Odkryj je teraz