Aku merasa aneh.
Sudah hampir 2 tahun,kurang lebih jika kuingat-ingat.Waktu yang kalau dipikir-pikir sudah tergolong terlambat untuk menyadari hal ini.
Pikiran itu datang lagi.
Pikiran ini tak datang tiba-tiba,perlahan namun pasti.Masalahnya adalah,reaksiku atas pikiran itulah yang keluar bagai air bah.Seperti diriku 2 tahun yang lalu,semuanya tak bisa ku bendung.Semuanya terasa buram,menyakitkan,dan sungguh tidak nyaman.
Ini sungguh menyebalkan.Di saat seperti ini, aku malah mendapati sesuatu yang buruk.
" Tres, mukamu kelihatan pucat. Apa kamu lagi sakit? " Sontak aku terkejut ketika tanganku digenggam oleh temanku sendiri.
" Ngak kok Nura, paling karena masih pagi. " bualku padanya, Nurani.
" Kamu sih, yang ngotot ngajak belajar pagi di perpus. Mana lagi hujan, jelas-jelas ini kota dingin. " Gerutunya padaku sambil membenarkan kacamatanya,lalu lanjut membaca buku.
Aku hanya tertawa ringan. Berusaha berbincang dengan Nurani agar pikiran buruk itu hilang. Tapi bagai melawan kehendak, pikiran itu benar-benar bercabang di otakku. Membuatku terdiam lama memikirkannya.
Nurani, ia memang teman yang perhatian. Ia tatap aku lekat-lekat. Tapi kalian tahu sendiri, aku sedang sibuk dengan semua kecamuk di otak ini, aku tak mempedulikannya.Ia lalu menutup bukunya keras, sengaja supaya perhatianku tertuju padanya. Tepat, aku benar-benar terkejut mendengar lembaran kertas tebal itu saling berimpit dalam waktu singkat.
" Tresa, aku tahu kamu sedang sakit. "
" Mana ada, aku ngak sakit apa pun kok.... " belaku dengan suara ceria yang dibuat-buat.
" Lalu kenapa? Aku tak pernah melihat seorang Tresa yang biasanya kalem dan hobi gaje bisa setegang ini. Apa ada masalah? "
Aku hanya terdiam, meneguk ludah pelan-pelan. Ini sulit, aku tidak suka situasi ini.
" Ceritakanlah padaku, Tres. Akan aku dengarkan ceritamu baik-baik."
Ah, aku tak suka hal ini....
YOU ARE READING
Datang
Teen FictionKita takkan pernah tahu sobat, kapan masalah yang telah kita kunci rapat itu, berontak kembali menuntut perhatian kita........
