"Krr..ring...". Bunyi jam weeker membangunkannya. Tak lama dia menuju arah kamar mandi, suara deraian air terpancur dengan waktu selama
' 15 menit ' pun usai dengan semua telah melengkapi perlengkapan sekolahnya. Yang meski dia yakin hanya beberapa buku di dalam tasnya.
***
Suara bising di dapur membuatnya terbangun untuk melihat sosok yang selalu di sayanginya. Karena hanya dia yang saat ini bisa selalu ada untuknya, mengingat mereka hanya....
"Hey.. pagi gimana tidurnya, nyenyak?". Sapa laki-laki perawakan anak SMA tersebut (sambil mengacak rambut adiknya).
"Pagi bang". Jawabnya dengan sebuah anggukan kepala yang menandakan Iya untuk pertanyaan itu.
Dia mengambil kotak bekal yang tersimpan dalam sebuah lemari kecil di atasnya dan dengan telatennya dia pun menuangkan Nasi Goreng buatannya ke dalam kotak itu dan memasukkannya ke dalam tas ransel berwarna biru muda milik adik tersayangnya.
"Mm... bauu mandi sana nanti telat (sambil membalikkan badan adiknya) ".
"Ih enggak emangnya abang". Bantah rengekannya.
***
Keduanya dengan segera menaikki Motor sport berwarna merah sembari meninggalkan rumah besar itu, yang terlihat mewah namun hampa saat sudah mengingatnya.
Di tengah perjalanan tangan adik kecilnya melingkar di pinggangnya dan menyandarkan dagunya di bahunya.
Melihat tingkah lucu itu dia pun tersenyum yang merupakan sebuah kebahagiaan kecil baginya.
"Jangan nakal ya... jangan lupa makanannya di makan oke". Katanya.
"Iya bawel deh abang hati-hati ya nyetirnya jangan ngebut-ngebut.. jangan....". Tutur katanya dengan sengit.
"Iya...". Jawabnya.
Dengan lajunya roda motor itu berputar dan gedung pencakar langit itu menghiasi pemandangan sun rice pagi yang indah bersamanya.
YOU ARE READING
Ambivalence
Teen FictionAdrian Darneel Shultz adalah seorang playboy namun dengan suatu alasan yang membuatnya seperti itu. Merasa semuanya telah hilang darinya namun, tak memberinya alasan jika dia memiliki sesuatu yang dapat memukau pujaan hatinya Audrey Belle Merkes. Ki...
