Yeiiiy!! Selamat liburan!. Akhirnya setelah sekian lama aku menghirup udara kotor, bisa juga aku memanjakan paru-paruku dengan aroma desa. Oh tunggu! Biar kuperkenalkan diriku. Aku adalah bungsu dari dua bersaudara. Kakakku adalah cowok yang terlalu pendiam untuk gabung bersamaku. Dan kali ini, ibu dan ayah mengajaknya liburan bersama ke rumah kakek. Dan sekarang tepat disampingku. Tapi rupanya hari ini dia sedang berbahagia karena sedari tadi dia bernyanyi sambil melihat pemandangan.
Oh. Ini pertama kalinya aku ke rumah kakek dan nenek dari ayahku. Biasanya mereka yang terpaksa berkunjung ke rumahku karena ayah dan ibu terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Matahari sebentar lagi akan tenggelam. Itu artinya malam akan tiba. Indah sekali matahari yang bersembunyi dibalik gunung itu, membuat aku tak bisa menahan diri untuk mengambil gambar.
"Yah, masih jauh rumahnya?" Tanyaku.
"Iyaa, lumayanlah dek. Rumahnya nenek itu gak kayak rumah-rumah di pinggir jalan sini yang pake tembok. Rumah kakek nenek itu pake bambu alami. Nanti liat yaa. Kalo di sini sih orang nya ada yang udah pake barang modern. Tuh udah ada parabola. Sedangkan di tempat nenek penerangan nya aja kadang ada kadang juga pake obor." Jawab ayah.
"Yah. Tapi bentar lagi malem. Kan gak ada lampu jalan, Yah. Nanti kita dibegal orang". Kakakku menyela obrolan kami.
"Di sini gak ada begal, Bang. Tulus hatinya orang di sini. Kayak ayah gini nihh. Lagian kan udah ada lampu, mobilnya". Ayah memang pandai menjawab.
Kenapa ibuku diam saja dari tadi? Oh rupanya ibu sedang mendengarkan musik dengan ponselnya. Ibu bukan orang sosialita. Dia sibuk kerja setiap hari. Tetapi kasih sayangnya tak pernah berkurang.
Kembali kupandangi jalan di sekitar. Jalan yang tadinya lebar, kini terbelah mejadi tiga ruas. Yang artinya tidak bisa lagi dilalui mobil yang lebih dari satu. Mungkin kalau ada motor yang menyalip masih bisa. Di samping kami adalah pematang sawah yang kini terlihat petang.
"Sepi ya, Yah. Kalian kalo mau tidur, tiduran aja ya dulu. Nanti kalo sampe ibu bangunin." Kata ibu.
"Nggak ah. Ini kan pertama kali aku kesini Bu, masa ngelewatin pemandangan desanya kakek sama nenek. Sayang dong."sahutku.
Semakin lama semakin sepi jalannya. Yang tadinya pematang sawah di samping kami, kini telah berubah menjadi jajaran pohon-pohon tinggi. Sungguh menakutkan apabila aku berjalan di sana sendirian. Aku pun bergeser sedikit mendekat ke arah kakakku.
"Ngapain deket-deket? Sana. Sempit kalo kamu gitu!"
"Abang galak banget. Jalannya kan sepi bang, aku takut" jawabku ketus.
"Hantu gak ada dek, udahlah jangan takut-takut gitu."
Aku pun hanya menanggapinya dengan diam. Kembali ku pandangi sekitaran kami. Sudahlah lampu jalan tak ada. Orang lewat satu pun tak ada. Dan kini bunyi bambu-bambu terdengar di dalam mobil.
"Yah jangan dibuka gitu jendelanya."
"Gak papa, Dek. Biar anginnya masuk aja. Kan jadi seger." Jawab ayah.
"Ada gemuruh yah. Pasti bentar lagi ujan. Tutupin cepet!" Tidak. Aku tidak peduli hujan sebenarnya. Hanya saja aku tak ingin menambah suasana mencekam di mobil ini dengan suara bambu-bambu yang bergesekan itu.
Setelah sekian waktu menempuh perjalanan rasanya tak sampai-sampai. Namun di antara kami tak ada yang terlelap. Entahlah, mungkin karena kesunyian ini sangat mengganggu.
"Bu, coba telepon Mas Doni. Tanyain kita harus kemana pas lewat persimpangan depan. Ayah lupa jalannya. Rasanya kok gak sampe-sampe." Ujar ayah.
Oh tidak! Dadaku semakin berdebar ketika ayah mengutarakan ada keganjalan dalam perjalanan kami. Memang harus berpikir bagaimana lagi? Kami menempuh tiga jam perjalanan, tetapi yang kami lihat sedari tadi hanyalah jalan tak berujung. Ranting-ranting pohon pun berjatuhan di atas atap mobil kami sehingga menimbulkan bunyi 'tak' berkali-kali. Hujan semakin deras dan di sekitar jalan setapak ini masihlah bambu-bambu berjajar yang tertiup angin hujan.
"Abang..Jangan tidur ya bang."
"Iyaa, kamu santai aja. Gak papa." Kakakku menepuk bahuku dan merangkul ku.
"Kata Mas Doni. Nanti ada pos ronda tua terus belok kanan yah. Gak jauh kok itu katanya. Ayah gak ingat emangnya?" Kata ibu.
"Pos rondanya ayah inget Bun. Dan seinget ayah juga harusnya kita udah sampe di san..."
"Yah itu ada orang pake sepeda! Liat yah liatin itu disana" kakakku berujar.
"Oh iya bener. Orang itu pasti mau pulang ke rumahnya. Udah ah, kita ikutin aja. Pasti rumahnya gak jauh dari rumah nenek."
Mobil pun kembali melaju. Kulihat jam di ponselku. Ini sudah pukul 23.14. Malam sudah larut dan kami masih berlaku lalang di jalan yang aku sendiripun baru kali ini melewatinya dan terlalu takut untuk melihat kondisi di luar mobil yang gelap gulita.
"Oh pelan sekali jalannya, Yah. Sebentar lagi tengah malam, Yah."
Aku pun melihat ke orang yang bersepeda di samping mobil kami. Apa tidak menakutkan bagi kakek tua itu ketika mengayuh sepeda dengan penerangan kecil digantung di bagian depan sepedanya, melewati jalan seperti ini. Aku pun mulai berpikir pasti keluarganya kurang mempedulikan kakek ini.
"Tuh, kakeknya mulai cepet ngayuhnya. Mungkin bentar lagi sampe. Lagian pos rondanya udah kita lewatin kok tadi." Ayah menyahut.
Ya. Aku melihatnya. Dia mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Semakin lama semakin cepat. Entahlah! Mustahil saja bagiku ketika hujan membasahi tubuhnya yang tua renta dia justru menambah kecepatannya. Dan apabila yang dibicarakan ayah benar, mungkin kami sudah melihat pemukiman warga. Tapi apa? Ini seperti..rumput liar yang tumbuh di samping jalan. Jalan yang kami lewati sudah becek terkena air hujan.
Baru kusadari kini mobil kami diselimuti asap putih tipis. Ketidakmungkinan apabila itu asap pembakaran sampah. Mungkin itu kabut.
Kakek tadi melaju di depan kami.
Jalan akan berbelok ke kanan. Tapi.. Oh ini tidak mungkin. Ayah lekas menginjak rem kuat-kuat. Salah. Sangat salah jika kami terus-terusan mengikuti kakek itu tanpa kesadaran. Untunglah kami semua tidak berteriak ketika kakek itu mengayuh sepedanya untuk lurus tanpa berbelok ke kanan, seperti yang semestinya. Karena ketika kami melihat apa yang dilalui kakek itu, kami kaget. Bagaimana mungkin ia menembus pagar besi berkawat tajam setelah itu hilang bersama kabut putih tadi?
Aku berkeringat. Dan kami semua pun masih shock. Tentu saja.
"Astaghfirullah," ucap ayah.
Tepat setelah itu mobil kami mati. Entah mati karena apa, yang jelas kami tidak dapat melanjutkan perjalanan ini.
Sepanjang malam kami berdoa semoga saja ini tak menjadi malam terakhir kami. Karena jujur saja aku masih ingin menuliskan kisahku untuk kalian semua.
Yahh. Untuk kalian semua yang akhirnya berhasi membaca pengalamanku. Pengalaman terburuk. Yaitu diajak oleh korban pembunuhan sadis yang terjadi di dalam hutan bambu desa nenekku, untuk bersama-sama menikmati jenis-jenis kopi yang ditanam di kebunnya sendiri. Dengan asap yang mengepul sambil bercerita bahwa dia telah disayat ulu hatinya oleh sekawanan orang kota. Diambil organ-organnya untuk dijual.
Sungguh sadis, itulah yang ku dengar dari warga sekitar.
"Kakek sedang membenci orang-orang kota"
Aku menyempatkan untuk mampir ke kebun kopinya. Sambil memegang tanaman kopi, aku berujar.
"Jangan lagi-lagi, Kek. Kami orang kota. Tapi kami baik. Maafkan mereka" ujarku.
Tapi sepertinya kakek masih dongkol dan tak mengikuti saran ku. Karena dua hari setelah aku kembali ke kota, aku mendengar kabar bahwa Om Doni meninggal, dan tubuhnya tertancap pada pagar kawat yang tajam itu.
YOU ARE READING
Batas Alam
HorrorDimana-mana memang aku selalu ada. Tak peduli seberapa sempit kamarmu. Tak peduli seberapa beraninya kamu terhadapku dan kawan-kawan ku. Ku tajamkan lagi ingatanmu bahwa 'aku dimana-mana'. Dan tak semenakutkan apa yang kalian takutkan. Hanya saja. K...
