Malam itu terlihat bulan purnama yang sangat indah untuk dilihat.
Namun, keindahan bulan purnama itu tidak dinikmati oleh dua orang yang sedang berbicara di sebuah ruangan berwarna putih.
"Sepertinya kau mengalami sesuatu yang sangat menakutkan."
Namja manis yang diajak berbicara itu hanya diam.
"Jihoon. Aku adalah Choi Seungcheol. Dokter yang akan memberikan konseling padamu. Bisakah kau cerita apa yang terjadi?"
Namja yang bernama Jihoon itu terus diam. Matanya perlahan menutup dengan ingatannya yang samar-samar muncul.
Kling kling
Mata Jihoon membuka perlahan. Hal yang pertama kali ia lihat adalah sebuah kursi kosong tepat di depannya. Kepalanya menoleh kanan dan kiri mencari seseorang yang mungkin ada di dekatnya.
"Dimana ini?" Tanyanya. Jihoon menoleh ke belakang dan mendapati bulan purnama sempurna yang terlihat sangat dekat.
"Bulannya biru dan indah." Gumamnya.
"Tapi itu seperti kepalsuan. Bulan biru…" Ia terdiam.
"Aku harus segera menemui appa dan eomma." Ucapnya sambil melangkah menuju pintu.
Cklek
Jihoon terdiam di ambang pintu.
"Padahal aku di rumah sakit. Tapi ini bukan tempatnya."
Lorong yang remang-remang tersaji dihadapannya.
Banyak cctv di lorong itu, tapi Jihoon tidak mempedulikannya. Ia malah fokus ke sebuah tulisan yang ada di dinding ujung lorong itu.
Jihoon pun mendekati dinding itu walau sempat berhenti kala melihat pagar yang terkunci.
"Siapa kamu? Siapa? Kau harus memastikan dirimu sendiri. Itu wujud sebenarnya atau wujud yang diinginkan?"
Jihoon menoleh pada pintu yang tak jauh darinya.
"Malaikat atau Korban?"
Ia berjalan menuju pintu itu dan membukanya.
"Jika kamu mengenal dirimu, maka pintunya akan terbuka."
Jihoon masuk ruangan itu. Ruangan yang cukup sempit dengan sebuah meja yang diatasnya ada mesin tik.
Ia mendekati meja itu. Terlihat pantulan dirinya yang ada di cermin.
"Diriku yang biasa."
Tik tik tik
Jihoon sedikit tersentak kala mesin tik itu tiba-tiba mengetik sendiri.
Siapa namamu?
"Lee Jihoon."
Tik tik tik
Apa yang kau lakukan disini?
"Aku datang ke rumah sakit. Saat aku sadar, aku berada disini."
Tik tik tik
Kenapa?
"Itu…"
Tik tik tik
Kenapa?
Jihoon mundur selangkah karena takut.
Tik tik tik
Kenapa kau berada di rumah sakit?
"Saat ada manusia mati, aku melihatnya terbunuh. Makanya aku datang untuk konseling." Jihoon sedikit menundukkan kepalanya.
"Aku ingin keluar dari sini secepatnya. Bertemu appa dan eomma ku."
Klik
Drrrngg
Jihoon menoleh ke belakang saat mendengar suara aneh itu. Ia keluar dari ruangan itu dan melihat pagar tadi terbuka.
"Jalan keluar…" Gumamnya.
Drrrnngggg
Pintu didepannya terbuka dan nampaklah lift. Jihoon masuk kedalamnya.
"Namja yang berada di lantai awal akan menjadi korban. Semuanya, silahkan mempersiapkan diri di setiap lantai."
Pintu lift tertutup.
Bersambung…
Hai hai kalian~
Cerita misteri muncul di work aku hehe :D
Padahal aku sendiri gak suka yang berbau misteri :')
Tapi yaa gakpapa deh :D
Awalnya aku mau buat work ini Junhao, tapi aku malah sedang kobam Soonhoon :')
Semoga kalian suka yaaa ^^
Makasih yang udah baca ^^
Jangan lupa vote n comment yaa
Maaf kalo ada typo :')
Sampai jumpa~
