Tia hampir mengantukkan kepala ke tembok kelas ketika waktu menunjukkan pukul 13.27, dua menit sebelum bel pulang sekolah berbunyi.
Waktu berdetak lambat, pandangannya terbuang keluar jendela kelas, memandangi dedaunan kering yang terpapar terik sinar matahari, kemudian terbang terbawa angin.
Kriiiiiiiiing.
Bel pulang sekolah seketika mengusir kantuk dari kepalanya. Dengan cepat dia membereskan alat tulis yang terserak diatas meja, tidak sabar ingin segera pergi dari ruangan kelasnya.
"Eh tia, kita enggak bareng gapapa kan?", ucap karin, teman sebangkunya berpamitan.
Tia hanya menganggukkan kepala tanda mengiyakan permintaannya. Sesaat kemudian karin sudah menghilang keluar kelas.
Dengan segera tia melangkahkan kaki keluar kelas, menyusuri teras - teras kelas sambil beberapa kali menghindar dari beberapa anak yang berlari berhamburan menuju gerbang sekolah.
Dari gerbang sekolah, jalan raya berjarak kurang lebih seratus-an meter dipisahkan oleh lorong panjang dengan tembok yang cukup tinggi di samping kanan dan kirinya. Di sepanjang tembok, terpajang mural dengan berbagai macam corak tulisan dan gambar berwarna warni hasil karya para murid baru kelas satu. Mural ini dilukis ulang setiap tahunnya oleh seluruh siswa perwakilan dari setiap kelas.
Tia berlari kecil menuju jalan raya sambil menundukkan kepala, melewati beberapa siswa tanpa menyapa satupun dari mereka.
Tia akui dia sangat malas berinteraksi sosial. Kehidupan sosial terdekatnya hanya terbatas pada sosok ayah, ibu dan si karin.
Dari kejauhan terlihat sopir angkot oranye melambaikan tangan, menawarkan tumpangan di angkotnya. Tia balas melambaikan tangan kanan tanda setuju dan bergegas mempercepat langkahnya.
Brakk!
Tia menabrak siswa di depannya yang entah kenapa mendadak berhenti kaku dan mematung. Secara reflek dia beringsut mundur.
Dari arah belakang dia merasakan ada seseorang yang memegang tangan kirinya.
Huh?
Seorang siswa laki - laki berdiri di belakangnya. Tubuhnya tinggi, membuatnya harus tengadah untuk melihat wajahnya. Sinar matahari yang bersinar di belakangnya membuat silau sehingga tia musti menaruh tangan kanan di pelipis untuk mengenali sosok asing yang masih memegang tangannya.
Siapa dia?, Tia pernah tahu anak ini, namun tidak pernah sekalipun mengenal atau berbicara dengannya.
Anak lelaki itu hanya diam. Wajahnya seakan menunggu tia untuk berkata sesuatu. Hampir setengah menit berlalu tanpa ada kata - kata darinya maupun dari mulut tia.
Kesunyian yang membuat pekak telinga membuat lamunan tia pecah. Semakin bingung dirinya ketika ia berkali - kali menoleh ke kanan, kiri, memicingkan mata untuk melihat kejauhan dan melihat ke keadaan di sekitarnya.
Aneh.
Tidak ada sedikitpun siswa di sekitarnya yang bergerak.
Waktu seakan berhenti.
Dia memalingkan pandangan ke arah jalan raya yang biasanya ramai dengan kendaraan.
Sama.
Semua kendaraan, bahkan angkot beserta sopir dan semua penumpangnya berhenti bergerak. Mereka membeku bagai patung.
Ada apa ini? Apa yang terjadi? batinnya bertanya dalam hati.
Degg.
Keringat dingin dan perasaan serangan panik menghujam dadanya.
YOU ARE READING
Liven
FantasyKetika manusia tidak hanya memiliki satu nyawa, ketakutan akan mati seharusnya tidak lagi berarti. Seharusnya.
