Hai. Ini aku. Orang yang pernah menemani mu hingga senja. Karena kamu tahu, aku tidak boleh pulang malam sama mama.
Aku masih ingat awal pertemuan kita setelah berpisah lama, setelah kurang lebih 7 tahun kita tidak pernah bertemu. Padahal dulu aku tidak tahu dirimu yang mana. Lucu memang, waktu membawa kita bertemu lagi di usia remaja ini.
Aku juga masih ingat, sore itu kamu mengantarkan pulang. Sebagai teman, kamu mengucapkan "hati-hati". Aku membalas dengan senyum dan mengucapkan hal yang sama.
Entah kenapa, darisitu kemungkinan-kemungkinan kecil terjadi. Kemungkinan tersebut membawa kita untuk semakin dekat.
Hingga lama-lama, perasaan nyaman itu muncul. Kita jadi sering menghabiskan hari bersama. Mulai dari pagi dengan obrolan sepele, siang hari masing-masing kita saling sibuk tapi tetap mengerti satu sama lain, dan hingga malam tiba, tidak ada gengsi untuk 'siapa yang akan menelpon pertama' untuk mengobrol, menceritakan kejadian-kejadian sepele tidak penting yang menemani sampai salah satu dari kita mengantuk.
Akhirnya, kita memutuskan untuk bertemu. Kamu datang kerumahku, lalu kita mengobrol santai sambil berfoto. Rupanya pertemuan itu tidak memuaskan kita. Hingga kita akhirnya menjadi lebih sering untuk bertemu. Sampai-sampai kita menonton film di bioskop. Entah kenapa ada saja kejadian lucu yang terjadi selama kita jalan.
Sifatmu yang selalu pandai mencairkan suasana dan membuat tersenyum berhasil membuatku jatuh hati. Aku tidak tahu, tapi mungkin kamu merasakan itu.
Namun, dia dari kehidupan masa lalu ku muncul dan perlahan-lahan membuatku terlupa akan dirimu. Aku merasa bersalah, aku tahu. Tapi yang harus kamu tahu, bahwa aku dan dia yang dari masa lalu itu tidak akan pernah bersama.
Kita menjadi jauh. Canggung. Dan lama-lama tidak pernah berkomunikasi lagi seperti dulu. Hingga kudengar kabar bahwa kamu sudah bersamanya. Sampai sekarang.
Perasaanku hancur dan memori kita terus terulang. Mendengarkan lagu sedih, mencari maknanya. Apa yang terjadi padamu? Mengapa dirimu tiba-tiba sudah menjadi miliknya? Apakah aku memang tidak berarti bagimu dari awal?
Tapi seiring berjalannya waktu, dirimu mulai merindukan ku. Kita bertemu lagi. Walaupun kamu masih milik dia. Lama-lama aku terbiasa dan aku mulai lupa rasanya sakit hati.
Terimakasih sudah mengajarkan ku sakit hati. Tanpanya aku tidak akan pernah merasakan yang namanya kehilangan. Kini aku mengerti mengapa Tuhan hanya mentakdirkan kamu sebagai teman. Terimakasih, teman.
YOU ARE READING
Surat yang Tak Pernah Tersampaikan
RomanceKetika hari mulai terasa penat, ku putus kan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.
