Have You Ever...? [W]

404 28 0
                                        

Namaku Nam Woohyun.

Dan detik ini aku tengah berpikir,

Have you ever...

Pernahkah kamu merindukan seseorang saat sedang berada dalam kerumunan manusia yang tengah berbahagia?

Hari ini aku merasakannya.

Saat lautan manusia tertawa bersama, diselingi tepuk tangan sesekali yang semakin meramaikan suasana.

Aku hanya terdiam di salah satu bangku para tamu undangan. Memandangi aula megah serta sorotan cahaya hias dari pelataran pendeta yang masih membicarakan makna cinta dan pernikahan.

Lalu, aku merindukannya.

Miris sekali. Toh, sudah sepuluh tahun berlalu sejak kali terakhir aku bertemu dengannya. Bahkan dengan kebersamaan yang jangka waktunya hanya sepertiga dari lamanya perpisahan kami.

Jadi, bagaimana bisa aku masih mengenangnya?

Aku menghela napas panjang, mengalihkan pandangan kosongku kepada rumbai pita yang menghiasi kursi pesta. Telingaku menangkap satu-dua patah kata penutup dari sang pendeta.

Beberapa menit yang rasanya seperti tahunan pun berlalu.

Saat kusadari, tahu-tahu janji suci telah berakhir. Semua orang bangkit, beberapa di antaranya hendak menyalami pengantin, sementara yang lainnya pergi menuju jajaran hidangan yang tersusun mewah di sudut lain.

Aku sendiri masih duduk di tempat yang sama. Tidak terkumpul sedikit pun niat untuk berhenti bergeming dan melakukan hal lain selain melamun.

Hingga tiba-tiba, kudengar tawa yang menggemakan suara itu. suara yang amat familiar di telingaku. Suara seseorang yang kurindukan.

"Aku tidak bilang akan mengantarmu pulang," seru suara tersebut dengan jenaka.

Lantas aku menoleh, lalu melihatnya.

Detik itu, mungkin adalah momen paling kompleks dalam hidupku. Satu-satunya masa ketika hitam dan putih berpadu, ketika euforia membuncah untuk mematikan inderaku, dan ketika rasa untuk bersyukur sekaligus berutuk marah menyatu dan berkumpul penuh dalam sanubariku.

Apa yang semesta rencanakan terhadap hidupku yang malang?

Dan pandangan kami bertemu, bersitatap satu sama lain.

Satu-satunya hal paling muskil yang seharusnya aku lakukan—jika memang aku masih waras—memang menghindar. Buru-buru pergi, tanpa sesenti pun kutolehkan kepalaku.

Tetapi, mungkin memang sudah hilang warasku.

Aku malah menatapnya lebih lama, lalu mengucapkan namanya dalam embusan napasku yang tipis dan gemetar.

"Sunggyu..."

Orang itu, Kim Sunggyu, laki-laki dengan tirus wajah yang memancarkan karisma dingin dan hangat yang khas itu hanya balik memandangiku dengan ekspresi yang sama sekali tidak dapat kubaca maknanya.

Kemudian, jangankan membalas sapaanku. Sekadar melempar senyum atau menganggukkan kepala saja tidak dilakukannya.

Dengan rahang mengeras dan tatapan tajam, tanpa tedeng aling-aling ia mengalihkan pandangannya dan melangkah pergi. Bahkan membiarkan pria lain yang datang bersamanya memanggil dan mengejarnya dengan susah payah.

Kepergiannya secepat kedatangannya yang tiba-tiba.

Ya, tentu saja. Apa yang kuharapkan?

Dan aku hanya bisa mematung di tempat yang sama. Pasrah, tenggelam dalam harapan naifku yang seolah mengolok-olok kepengecutanku.

Sepuluh tahun berlalu...

Mungkin, aku harus menghitung waktu kembali dari awal mula setelah pertemuan terakhir kami, hingga genap sepuluh tahun yang akan datang. Agar dapat merasakan momen yang sama seperti yang barusan terjadi.


*****

WallflowerWhere stories live. Discover now