Storia | 1

216 8 10
                                        

Berteman dengan kesunyian bersahabat dengan kesepian terdiam dalam kegelapan itulah kehidupan.

🍁

Hidup memang penuh misteri, kita tidak pernah tahu dengan siapa kita akan memberikan salam perkenalan dan dengan siapa kita akan mengucap pilu perpisahan, jika hari-hari menyenangkan dalam hidup direngut begitu saja, seakan separuh nyawa sudah hilang keberanian untuk menatap seisi dunia, ditambah dengan jiwa seperti terbawa pergi hanyut bersama perpisahan. Namun tubuh seakan berkata lain, meski berteman dengan kemurungan bukan berarti semua kepiluan menguasai.

Manusia seisi dunia masih berjalan seperti biasa selama nyawa masih melekat pekat di tubuh, hitam yang menghapiri tidak akan pernah menghentikan poros bumi untuk berhenti berotasi, entah berapa banyak hitam, tidak akan pernah berdampak. Singkat sekali kiranya cerita yang terpaut di dunia ini.

🍁

Semuanya bermula delapan tahun silam, dimana aku mengenal Airin gadis diam yang kaku dan manis, terlihat begitu tenang dan damai, senyum simpulnya adalah hal yang paling aku suka. Iya tak salah lagi dia adalah Sahirin Aulia aku biasa memangilnya Airin, karena itu sangat singkat di banding Sahirin.

Waktulah yang membawaku mengenalnya, terlalu dalam hingga terlarut, menjerumuskanku ke dalam kenangan yang sulit kutepis kehadirannya sampai saat ini, meninggalkan bayang-bayang semu menyedihkan, seakan takdir sedang mempermainkanku. Tetapi aku percaya dan menepis opiniku jika takdir mempermainkan diri ini. Walaupun kenyataan dan batinku bertolak belakang.

Tidak sulit untuk berteman dengannya, berbagi canda dan tawa bersamanya, tidak ada satu rahasia pun di antara kami, setiap hari kami selalu bertukar masalah, masalah apapun itu. Dan aku sangat beruntung pernah bertemu dengannya, ingat satu kata yang aku ucap sebelumnya -pernah- dan sekarang hanya sebatas kata -pernah-. Seperti cerita lainnya segala yang berlalu akan menjadi memori, dan akan terganti setelah hari demi hari berganti dengan rutinitas yang panjang. Tidak akan ada lagi saling sapa dan bertukar pikiran seusai salam perpisahan yang mendalam.

Pertama akan aku kenalkan diriku terlebih dulu namaku Raka Ilmansyah Putra biasa dipanggil Raka, aku anak pertama dari dua bersaudara, baiklah sudah cukup aku tidak bisa bercerita banyak tentang diriku akan aku serahkan semuanya kepada Airin nanti, jika dia kuberika kesempatan mengambil andil di dalam cerita ini.

Hari itu hari dimana aku memiliki tetangga baru, tepat di depan rumahku aku melihat gadis sebaya denganku membawa sebuah ransel berwarna hitam turun dari sebuah mobil. Hari demi hari aku terus mengintip apa yang dia lakukan di sebuah pondok beratap daun kelapa di belakang rumahnya, dengan sebuah kanvas dan pensil diiringi dengan iringan musik berasal dari sebuah radio di sampingnya. Akhirnya aku memberanikan diri bertegur sapa dengannya, meski keberanianku terkadang menciut sebesar biji jagung. Sulit bagiku untuk mengumpulkan keberanian, tetapi rasa keingintahuanku bahkan jauh lebih besar dari keberanianku.

"Lagi ngapain?" sapaku dari balik pohon, seraya mengintip. Seluruh tubuhku tidak tertampak jelas, saat itu nyaliku masih sekecil upil.

Ekor matanya menatap kehadiranku di balik pohon. Bibirnya tertarik keatas membentuk seutas senyuman, balasan yang begitu singkat atas pertanyaanku, yang butuh segudang keberanian. Hinar binar keheningan menyelimuti keadaan sekitar, yang aku rasa dia menyukai ketenangan.

Pohon tempatku memperhatikannya, atau lebih tepat, tempatku berdiri saat itu berkisar lima meter dari posisinya, diantara kami terdapat pembatas terbuat dari bambu yang begitu unik dan cantik, di sekeliling rumahnya memang di batasi oleh pembatasan tersebut. Lingkungan sekitar tempat kami tinggal memang sangat asri dan ramah lingkungan, bisa dilihat bahkan beberapa rumah tidak mengunakan pembatas dan dihiasi rumput gajah serta rumput jepang menjadi pemanis taman.

Sebuah Hati [Complete]Hikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin